Sabtu, 28 Mei 22

Penyiar Jadul Bekerja Karena Panggilan Jiwa

Penyiar Jadul Bekerja Karena Panggilan Jiwa
* Para penyiar jadul di TVRI. (Foto: 1cak.com)

BUKAN karena zaman saya bocah dan remaja cuma ada RRI dan TVRI. Tapi para penyiar dulu atau penyiar jadul itu mencerminkan bahwa di lapis kaum terpelajar dan para profesional banyak yang berkarakter kuat.

Salah satu cermin kuatnya karakter para profesional kita yang bergerak di bidang informasi/penerangan dan komunikasi adalah suara. Di situlah kekuatan karakter mereka menampakkan diri.

Dari sejak bocah dan remaja, saya suka karakter suara Sazli Rais melalui RRI. Karena suaranya yang berat saya bayangkan sosoknya tinggi besar. Begitu Sazli Rais nongol di TV, eh ternyata kecil orangnya. Namun kekuatan karakter suaranya, begitu mengudara di radio para pendengarnya langsung tahu ah Sazli Rais lagi siaran.

Ada lagi Hasan Azhari Oramahi, juga punya suara khas dalam membawakan berita. Begitu juga Sjam Amir dan Denny Denhas.

Dalam liputan olahraga atau acara kenegaraan? Siapa tidak kenal Sambas dengan intonasi suara yang bisa menggiring suasana hati khalayak pendengarnya. Untuk bergembira menyambut kemenangan tim badminton kita, atau membawa larut dalam kesedihan bersama ketika kesebelasan pra olimpic kita kalah dari Korea Utara lewat adu penalti.

Mereka ini para juru warta yang kelak menyalakan hasrat dalam jiwa saya, sebuah minat khusus yang kelak terasah melalui bidang yang saya geluti sekarang. Orang orang yang penuh pengabdian pada profesinya.

Sazli Rais, Sambas, Rusdi Saleh, Sjam Amir, Hasan Azhari Oramahi, dan Denny Denhas. Mereka adalah maestro dan legenda di bidang profesi yang digelutinya. Kerja buat mereka adalah berkarya. Bukan sekadar kerja mencari nafkah, melainkan kerja karena panggilan suara hatinya. Panggilan jiwa. (Hendrajit, Direktur Eksekutif Global Future Institute)

Related posts

1 Comment

  1. k.sarsidabudiman ST

    mendengarkan dan melihat penyiar RRI maupun TVRI pada waktu itu,dimana eranya masih TV hitam putih,saya terkenang dengan wajah wajah penyiar/presenter istilah waktu sekarang.Dimana th 1970 an di kota Madiun kalau ingin melihat TV harus menggunakan Antena TV dengan ketinggian 4pipa besi kira2 -20meterketinggiannya. Itupun merelay dari stasiun jogjakarta dan siaran hanya pada malam hari. Dan watu itu umurku masih 20th saya pribadi masih mengenang wajah2 beliau mis.Bp Olan Sitompul,Bp Drs Subrata,Bp Hamka,penyiar Ibu Tatik Tito dll,akhirnya menarik saya pribadi untuk kuliah di Bandung jurusan Electro ,sehingga saya senang dibidang Pertelevisian ,Pemancar Radio,Jaringan Kelistrikan dan dalam 3bidang itulah pekerjaan saya sampai sekarang menjelang usia 70Th.Hingga sekarang saya masih senang bermain Parabola sampai2 rumahku ada 5parabola hanya untuk kepuasan batin.Gara gara TVRI lah yang mendorong saya maju dibidang electronika,semoga TVRI makin maju,banyak penggemarnya.Semoga jaya TVRI ku saya tetap masih mengenangmu……..

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.