Minggu, 29 Januari 23

Penyerapan Dana Desa dari APBN dan APBD Sangat Lambat

Penyerapan Dana Desa dari APBN dan APBD Sangat Lambat

Jakarta, Obsessionnews – Ketua Komite IV Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Cholid Mahmud menyebutkan, kinerja Pemerintah kurang maksimal dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan penyerapan anggaran baik dalam bentuk Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), dan yang terbaru adalah Dana Desa.

“Penyerapan Dana Desa dari APBN dan APBD juga lambat dikarenakan aparat daerah dan desa kurang siap dalam pembuatan peraturan daerah dalam menyerap anggaran,” ungkap Cholid Mahmud didampingi Wakil Ketua Komite IV DPD RI Ajiep Padindang, Kamis (4/6/2015), terkait hasil pengawasan DPD RI.

Cholid memaparkan, perkembangan ekonomi selama Triwulan I Tahun 2015 sebesar 4,7% atau melambat dibandingkan Triwulan I Tahun 2014 sebesar 5,1%. Inflasi dalam APBN-P Tahun 2015 ditetapkan sebesar 4±1%, keadaan ini disebabkan oleh kebijakan Pemerintah dan tren turunnya penerimaan pajak negara, sehingga mengakibatkan perekonomian negara menurun.

“Salah satu kebijakan pemerintah yang membuat perekonomian turun adalah tidak stabilnya harga BBM, listrik naik yang berimbas kepada kenaikan harga-harga lainnya,” jelas Senator asal Yogya ini.

Ajiep Papindang menambahkan, beban APBN tiap tahun meningkat dan tidak diimbangi oleh penerimaan negara lewat pajak, sehingga Negara berpotensi menambah hutang untuk menutupi kekurangan APBN.

Ia menerangkan, penerimaan perpajakan pada Triwulan I Tahun 2015 hanya mencapai Rp 235,8 triliun atau 15,8% dari target APBN-P Tahun 2015.

Berdasarkan kinerja yang kurang menggembirakan tersebut, lanjutnya, maka diperkirakan akan terjadi Short Fall penerimaan pajak Tahun 2015 antara Rp 100-150 trilyun sehingga berdampak ruang fiskal akan semakin mengecil.

“Perlu penyesuaian dari sisi belanja pemerintah untuk memilih program yang prioritas dan mungkin dilakukan pada tahun 2015,” tutur Ajiep.

Menurutnya, Komite IV DPD RI meminta Pemerintah untuk lebih realistis dalam penerimaan pajak dan pertumbuhan ekonomi.

“Untuk menguatkan perekonomian daerah pada tahun 2015 diperlukan penguatan di sisi perencanaan untuk wilayah-wilayah pinggiran atau daerah. Pemerintah harus membantu para pengusaha agar dapat meningkatkan iklim investasi di Indonesia,” harapnya.

Ajiep menegaskan, pemerintah bisa memberikan stimulus fiskal dengan memberikan pengusaha pajak yang ringan. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan penyerapan tenaga kerja dan ekonomi daerah.

“Daerah-daerah yang mempunyai potensi ekonomi tinggi harus di support oleh Pemerintah. Pengusaha yang berpotensi meningkatkan perekonomian daerah  jangan hanya menjadikan objek sektor pajak,” jelas Senator asal Sulawesi Selatan. (Asma)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.