Senin, 18 Oktober 21

Penyebab Citilink Tergelincir Belum Diketahui

Penyebab Citilink Tergelincir Belum Diketahui

Padangpariaman, Obsessionnews – Otoritas Bandara Internasional Minangkabau (BIM) Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat (Sumbar) tidak mau berspekulasi insiden tergelincirnya pesawat Citilink di BIM pada Minggu (2/8) sekitar pukul 19:27 WIB.

General Manager Angkasa Pura II, Endrayani mengatakan, pihaknya belum mengetahui pesawat yang mengangkut 174 penumpang dan 1 diantaranya anak-anak, tergelincir. Pada saat kejadian, hujan turun dengan lebat dengan kondisi jarak pandang di BIM sekitar 1.000 meter dan kecepatan angin 6 knot.

Endrayani mengatakaan, pihaknya tidak bisa menyimpulkan penyebab pesawat jenis Air Bus 3220 tergelincir, karena pihak yang berwenang memberikan keterangan pihak Komite Nasional keselamatan Transportasi (KNKT).

“Kita belum bisa menyimpulkan penyebabnya apa, karena ada tim KNKT yang akan melakukan penyelidikan. Kami juga tidak ingin berspekulasi yang jelas saat kejadian, kondisi jarak pandang sekita 1 kilometer. Kemudian angin itu 6 knot. Jadi, itulah yang terjadi pada saat itu,” kata Endrayani kepada wartawan Senin (3/8).

Citilink-2

Jarak landasan dengan posisi pesawat Citilink dengan kode penerbangan QG 7970 rute Jakarta-Padang, tergelincir sekitar 2 meter.

Meskipun sempat bandara tidak beroperasi, penerbangan sudah mulai normal sebagaimana biasa.

“Bandara sudah bisa mulai beroperasi sekitar pukul 10:00 WIB,” ujar Endrayani.

Pasca insiden terjadi, bandara tidak beroperasi dan seluruh penerbangan dibatalkan. Pembatalan penerbangan dilakukan dalam rangka memindahkan pesawat ke landasan pacu bandara. Proses pemindahan selesai dilaksanakan sekitar pukul 10:00 WIB.

“Keadaan pesawat normal dan kondisinya seperti biasa. Pada saat dievakuasi ke landasan, pesawat bisa berjalan sebagaimana kondisi peswat pada umumnya,” kata Endrayani.

Citilink-3

Sementara itu, dari pihak AirNav Distrik Padang, Yasrul mengatakan, kondisi jarak pandang saat itu masih memenuhi standar untuk pendaratan pesawat jenis Air Bus. Namun demikian, keputusan terakhir mendarat atau tidak tergantung kepada pilot pesawat.

“Jarak pandang saat itu 1000 meter memenuhi syarat untuk pendaratan pesawat Air bus. Yang menentukan atau mutuskan mendarat atau tidak adalah sang pilot,” kata Yasrul.

Akibat insiden terjadi, hingga kini masih terjadi penumpuikan penumpang di BIM, karena terjadi 6 pembatalan pemberangkatan pesawat hingga pukul 10:00 WIB atau sesudah bandara kembali beroperasi. (Musthafa Ritonga)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.