Minggu, 25 September 22

Penyalahguna Narkoba Bukan Dipenjara Tapi Direhabilitasi

Penyalahguna Narkoba Bukan Dipenjara Tapi Direhabilitasi

Jakarta, Obsessionnews – Presiden Jokowi telah menyatakan Indonesia dalam situasi gawat narkoba. Hingga akhirnya pemerintah menetapkan hukuman mati bagi mereka pengedar narkoba. Sedangkan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) RI Budi Waseso pernah mengatakan, bagi penyalahguna dan pengedar narkoba harus dihukum dan diseret di penjara. Bahkan penjaranya itu ada di pulau terjauh, sampai beberapa waktu lalu beredar isu diasingkan (penjara) pulau terpencil seperti di Papua.

Namun Deputi Pemberantasan Badan Narkotika Nasional (BNN) RI Irjen Pol Deddy Fauzi Elhakim mengklarifikasi bahwa rencana mereka yang akan diasingkan sampai ke Papua adalah bukan penyalahguna tetapi bandar-bandar narkoba kelas kakap. Hal itu dilakukan sebab LP Nusa Kambangan tidak bisa diandalkan karena narkoba di sana bisa keluar masuk dan diedarkan dalam penjara.

“Yang dimaksud ditempatkan di pulau atau pelosok itu bukan penyalahguna tapi bandar-bandar kelas kakap yang memang memerlukan maximum security, karena Nusa Kambangan sudah tidak bisa diandalkan lagi,” ungkap Deddy dalam diskusi Executive Leaders Talk (ELT) bertema “Pulau Penjara Rehabilitasi Narkoba, Perlukah?” yang digelar Obsession Media Group (OMG) yang tergabung dalam Komunitas Kedondong, di kantor OMG, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Rabu (30/9/1015).

Menurutnya, rehabilitasi perlu diberlakukan bagi penyalahguna narkoba, karena hal itu sudah ketentuan yang berlaku secara global dan Universal di seluruh dunia yang ditentukan dan ditetapkan PBB. Lanjutnya, tugas pokok UU 35 Tahun 2009, narkotika dilegalkan bagi kepentingan pelayanan kesehatan, pengembangan ilmu pengetahuan.

ELT1

Selain itu, jelasnya, negara bertugas pula mencegah, melindungi dan menyelamatkan bangsa Indonesia dari penyalahgunaan narkotika. Negara juga menjamin pengaturan upaya rehabilitasi melalui medis, atau rehabilitasi lewat sosial bagi pencandu narkotika. “Jadi, para penyalahguna ini harus dicegah dan diselamatkan,” tegasnya.

“Saya tidak yakin rehabilitasi medis bisa sembuh 100 persen, paling 50 persen dapat disembuhkan, sehingga rehabilitasi harus ditindaklanjuti sosial, sehingga jiwanya dibangkitkan, semangatnya dibangkitkan, kepercayaanya dibangkitkan agar mereka menjadi orang yang percaya diri dalam lingkungan warga masyarakat,” tandasnya.

Menurutnya, perlu ditingkatkan lagi aspek pencegahan narkoba, sebab ia mengakui bahwa selama ini hukuman yang diberikan baik hukuman empat tahun penjara maupun hukuman mati belum memberi efek jerah bagi pengedar dan penyalahguna narkoba. “Sehingga saya setuju ancaman penyalahguna itu diperberat, tetapi selama menjalani hukuman itu harus diobati, direhabilitasi, itu obsessi saya,” harapnya.

Narasumber dalam diskusi adalah Deputi Pemberantasan Badan Narkotika (BNN) RI Irjen Pol Deddy Fauzi Elhakim, Direktur Bina Narapidana dan Pelayanan Tahanan Lembaga Pemasyarakatan yang juga Kementerian Hukum dan HAM Imam Suyudi, Komisioner Komnas HAM Imdadun Rahmat, Anggota Komisi III DPRI RI Nasir Jamil, Dewan Pendiri Gerakan Nasional ANti Narkotika (GRANAT) dan Mantan Jaksa Agung RI Abdul Rahman Saleh, Ketua Umum Persaudaraan Muslim Indonesia (Parmusi) Usamah Hisyam, dan Founder & Presiden Direktur FHAN Campus (Lembaga Rehabilitasi Narkoba) Inti N Subagio. (Asma)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.