Senin, 30 Januari 23

Penyakit Leukemia Granulositik Kronik yang Perlu Diketahui

Penyakit Leukemia Granulositik Kronik yang Perlu Diketahui
* Ilustrasi pasien yang mengidap penyakit Leukemia Granulositik Kronik. (Foto: shuttertocks)

Jakarta, obsessionnews.com
Gejala yang muncul antara lain berupa: gusi mudah berdarah, kulit mudah lebam, atau sering mimisan. Rentan mengalami infeksi, yang ditandai dengan sering. pucat, lemas, dan sesak napas akibat anemia.

 

Baca juga: 

Kenali Gejala Leukemia yang Diidap Musisi Dian Pramana Poetra

Taylor Swift Sumbang Penggemar Beratnya Penderita Leukemia

 

Sebagian dari kita mungkin banyak yang sudah pernah mendengar tentang leukemia sebagai kanker darah, tapi tak banyak orang yang tahu bahwa penyakit ini terbagi menjadi akut dan leukemia kronik. Leukemia akut ada yang disebut leukemia limfositik akut dan leukemia mielositik/myelogenous akut. Sedangkan leukemia kronik terbagi menjadi leukemia limfositik kronik (LLK) dan leukemia mielositik/granulositik kronik (LMK/ LGK).

Leukemia Granulositik Kronik atau Chronic Myeloid Leukimia (CML) adalah kanker yang terjadi pada darah dan sumsum tulang ketika tubuh memproduksi terlalu banyak sel darah putih. Penyakit ini bersifat kronis karena proses pertumbuhannya bisa bertahun-tahun. Granulostik mengacu pada jenis sel darah putih yang diproduksi secara berlebih.

Mayoritas pasien mengetahui, bahwa mereka mengidap LGK pada tahap awal fase kronis. Hampir semua pasien tetap berada pada fase kronis selama beberapa tahun tanpa ke fase lanjut. Sehingga beberapa sumber menyebutkan kanker ini tidak memiliki stadium.

Kromosom Abnormal
Leukosit atau sel darah putih merupakan sel-sel yang menjadi mekanisme pertahanan untuk melawan infeksi dalam tubuh. Namun pada leukemia, sel-sel yang tidak normal ini tidak bisa berfungsi semestinya. Penyakit ini berhubungan dengan suatu kelainan kromosom yang disebut kromosom Filadelfia.

“Kromosom ini memproduksi gen abnormal yang disebut BCR-ABL, yakni ketika potongan kromosom 9 dan 22 patah dan bertukar tempat. Gen tersebut memerintahkan sumsum tulang untuk memproduksi sel-sel darah putih abnormal,” jelas dr. Hilman Tadjoedin, ahli hematologi dan Onkologi Medik RS Kanker Dharmais.

Selain menjadi tidak efektif, limfosit abnormal ini terus hidup dan berkembang biak, ketika limfosit normal akan mati. Limfosit abnormal terakumulasi dalam darah dan organ tertentu, yang mana mereka menyebabkan komplikasi.

LGK dikenal sebagai penyakit yang tidak terdeteksi. Pasien LGK fase kronis cenderung penampilannya seperti orang sehat. Gejalanya kerap tersamar dan tidak terlalu spesifik. umumnya berupa kelelahan, penurunan berat badan, berkeringat pada malam hari, demam, nyeri pada bawah rusuk. Jangkitan penyakit ini bisa mengenai organ utama, kompolikasi serius dan berpotensi menyebabkan kematian.

Diagnosis dan Pengobatan
Meskipun pada sebagian besar penderita leukemia faktor-faktor penyebabnya tidak dapat diidentifikasi, tetapi ada beberapa yang terbukti dapat menyebabkan leukemia. Antara lain faktor genetik, sinar radioaktif, virus, jenis kelamin, usia, faktor ras dan etnis, riwayat keluarga, paparan zat kimia, obat-obatan, merokok, dan riwayat terapi kanker.

Dokter dapat melakukan berbagai tes untuk memastikan diagnosis, seperti tes darah, biopsi sumsum tulang, MRI, ultrasound dan tes genetika lainnya. Pada penderita LGK ditemukan jumlah leukosit meningkat lebih dari 50.000/mm3.

Selain itu bisa pula dilakukan pemeriksaan sumsum tulang dan ditemukan keadaan hiperselular (jumlah sel-sel muda sangat banyak).

“Kami selalu melakukan penelitian untuk mendiagnosa penyakit LGK dengan teknologi dan ilmu yang dapat dimanfaatkan serta diakui keakuratannya. Hal ini agar penderita LGK tak perlu lagi berobat ke luar negeri. Misalnya obat Tyrosine Kinase Inhibitor (TKI) atau terapi target LGK untuk memperlambat reproduksi sel-sel dan mengurangi tingkatan kanker penyebab terbentuknya protein pemicu sel-sel LGK,” ujar dr. Hilman.

Terlepas dari tercapai tidaknya tahapan pengobatan, diharapkan pasien tidak patah semangat dan rutin berkonsultasi dengan dokter. (Angie Diyya)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.