Selasa, 6 Desember 22

Pengurangan Risiko Banjir, Indonesia-Jepang Kerja Sama Sejak 1971

Pengurangan Risiko Banjir, Indonesia-Jepang Kerja Sama Sejak 1971
* Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono. (foto: Dok Kementerian PUPR)

Jakarta, Obsessionnews.com Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mengatakan, komitmen dan kepercayaan yang kuat menjadi kunci terjalinnya kerja sama yang baik antara Indonesia dengan Jepang.

 

Baca juga: Komitmen yang Kuat Jadi Kunci Kerja Sama Indonesia-Jepang

 

Setidaknya selama 60 tahun kedua negara ini fokus pada empat bidang pembangunan infrastruktur sumber daya air, yakni Pengembangan dan Pengelolaan Sumberdaya Air (Water Resources Development & Management), Pengurangan Risiko Bencana Banjir (Flood Disaster Risk Reduction), Pengurangan Risiko Bencana Akibat Lahar (Sediment-Related Disaster Risk Reduction), dan Konservasi Pantai (Beach Conservation).

Basuki mengatakan, kerja sama Pengurangan Risiko Bencana Banjir dilakukan sejak 1971.

“Dalam upaya pengurangan risiko banjir, kerja sama Indonesia-Jepang dilakukan pada proyek rehabilitasi Sungai sejak tahun 1971,” ujar Basuki dalam keterangan tertulisnya yang diterima Obsessionnews.com, Jumat (23/11/2018).

sabo 2

Proyek tersebut adalah Sungai Ular Kota Medan (1971-2012), Sungai Krueng Kota Banda Aceh (1972-2007), Sungai Kuranji Kota Padang (1982-2016), Sungai Ciliwung dan Cisadane Jabodetabek (1994-2014), Sungai Citarum Bandung (1987-2019), Sungai Bolango Kota Gorontalo (2011-2018), dan Sungai Tondano Kota Manado (2011-2018).

Selain itu, dalam pengendalian banjir lahar, kedua negara bekerja sama dalam pembangunan Sabo Dam dan pelatihan kepada insinyur Indonesia menjadi ahli Sabo. “Saat ini teknologi infrastruktur Sabo Dam di Indonesia menjadi terbaik ke-2 setelah Jepang. Hingga kini sudah dibangun 646 bangunan Sabo Dam di Indonesia diantaranya 250 buah di lereng Gunung Merapi, dan 92 buah di lereng Gunung Agung,” kata Basuki.

Melalui kerjasama tersebut, Indonesia telah memiliki banyak ahli Sabo dan telah dibentuk Sabo Technical Center di Yogyakarta sebagai pusat riset dan pengembangan teknologi Sabo untuk melatih tenaga ahli Sabo di Asia Pasifik.

“Kerja sama lainnya yakni pembangunan konservasi pantai di kawasan Pantai Bali pada tahun 1988-2012 yang dilanjutkan Bali Beach Conservation Project tahap kedua,” pungkas Basuki. (Poy)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.