Minggu, 23 Januari 22

Pengungsi Rohingya Sambut Pembangunan Ophan House ACT dengan Antusias

Pengungsi Rohingya Sambut Pembangunan Ophan House ACT dengan Antusias
* Prosesi ground breaking pembangunan Orphan House dari Aksi Cepat Tanggap (ACT), sebuah lembaga donor asal Indonesia, di Padua, Lohagara, Chittagong, Bangladesh, Jumat (22/12/2017).

Chittagong, Obsessionnews.com – Puluhan pengungsi Rohingya berkumpul untuk menyaksikan prosesi ground breaking pembangunan Orphan House dari Aksi Cepat Tanggap (ACT), sebuah lembaga donor asal Indonesia. Mereka berpakaian apanya adanya, layaknya pengungsi.

Seremonial ground breaking berlangsung di Padua, Lohagara, Chittagong, Bangladesh, Jumat (22/12/2017). Dengan dihadiri anggota parlemen Chittagong Abu Reza Mohammad Nezamuddin Nadwi, Manager Global Humanity Respon (GHR) ACT, Rahadiansyah, dan GM Communication ACT Lukman Azis.

Terdapat 200 ribu pengungsi Rohingya yang tinggal menetap dan sudah berbaur dengan warga lokal di Padua, Lohagara, Chittagong. Di tempat ini pula banyak anak yatim-piatu ditempatkan. Mereka belajar ilmu agama maupun, pendidikan formal lainnya dengan fasilitas seadanya.

“Ini akan dihuni oleh Orphan, mereka akan belajar di sini, dengan dibantu tenaga guru,” kata Mohammad Idris, Kepala Sekolah Rumah Yatim di Chittagong.

Manager Global Humanity Respon (GHR) ACT, Rahadiansyah, mengatakan, tujuan pembangunan Orphan House ini untuk dijadikan sebagai tempat belajar mengajar dan tempat tinggal anak-anak yatim piatu, baik itu yang berasal dari pengungsi Rohingya, maupun warga lokal.

“Kita percaya masa depan mereka akan hancur terutama mereka yang tidak punya ayah dan ibu, apalagi mereka tinggal di pengungsian. Maka ACT dengan mitranya membangun Orphan House ini,” ujar Rahadiansyah.

Orphan House ini terdiri dari dua bangunan dengan masing-masing gedung berikan 5 lantai. Sementara luas gedung tercatat 1115 m2, luas lahan 1600 m2 dan luas bangunan 200 m2, dengan menampung 1.000 anak yatim-piatu. Pembangunan proyek ini direncanakan rampung hingga 5 bulan ke depan.

“Kita akan menampung, mendidik anak-anak Rohingya yang yatim piatu dan pelajar orang Bangladesh yang yatim piatu, fakir miskin karena kita tidak pungkiri bahwa Bangladesh negara miskin yang membutuhkan bantuan. Kita tidak bisa menutup mata, kita bantu mereka,” ungkap dia.

Selain membangun Orphan House yang diberi nama Al-Hadarah Islamic School, ACT juga mensuport tenaga guru sebanyak 129 orang dengan gaji Rp 2 juta per bulan, ditambah bantuan paket sembako untuk para guru. ACT melibatkan pengungsi Rohingya yang berpendikan tinggi dan warga lokal sebagai tenaga pendidik di lembaga ini.

“Ini adalah program terbaik untuk recovery anak-anak yatim-piatu sebagai lembaga kemanusiaan, mohon doanya terutama bangsa Indonesia karena ini bantuan dari Indonesia untuk Rohingya,” katanya. (Has)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.