Senin, 20 September 21

Pengamat: Teror “Lone Wolf” Harus Jadi Perhatian Aparat

Jakarta, Obsessionnews.com – Direktur Eksekutif Center of Intelegence and Strategic Studies Ngasiman Djoyonegoro, menyatakan aksi teror di Mapolda Sumatera Utara (Sumut) memiliki bentuk lone wolf, dimana sangat sulit dan bahkan hampir tidak bisa dideteksi karena seluruh perencanaan aksi berada pada diri pribadi sang pelaku.

“Tidak ada rencana strategis yang melibatkan beberapa orang dari kelompoknya. Melihat kondisi ini, seolah Indonesia tak ada liburnya dalam menghadapi ancaman teror. Bahkan di tengah hari yang fitri pun, aksi teror masih bisa saja terjadi,” kata pria yang akrab dipanggil Simon itu melalui siaran pers, Senin (26/6/2017).

Karena itu, menurut Simon, semua pihak harus meningkatkan kewaspadaan. Harus pula saling bersatu serta mendukung dengan sepenuh hati aparat penegak hukum dalam melakukan upaya pemberantasan tindak pidana terorisme untuk menciptakan rasa aman dan ketenteraman bagi masyarakat.

“Selain Polri, peran TNI, BIN, Densus 88, dan instansi terkait juga perlu bekerja sama untuk melahirkan sinergi dan langkah konkrit dalam penanganan terorisme di Indonesia. Apalagi BNPT, sebuah lembaga yang secara khusus sebagai lembaga penanggulangan terorisme, hendaknya lebih terdepan dalam penanganan teror di Indonesia,” tegasnya.

Dukungan dari masyarakat kepada aparat penegak hukum, dalam hal ini adalah polri, berupa laporan ketika ada hal yang dirasa mencurigakan juga perlu. Karena pengawasan terhadap perkembangan tindak kejahatan ini tidak bisa dilakukan sendiri oleh Polri.

“Peran masyarakat untuk peka terhadap lingkungan sekitar tentu sangat membantu kinerja Polri dalam menjaga keamanan Indonesia,” ujarnya.

Sementara itu dari sisi perundang-undangan, Simon mengingatkan kejadian tersebut harusnya menjadikan momentum DPR sesegera mungkin menyelesaikan item-item yang belum dituntaskan dalam RUU Terorisme dengan penekanan pada kerja sama dari seluruh pihak untuk membentengi masyarakat dari maraknya ideologi-ideologi terorisme yang terus beredar dan sangat senyap penyebarannya.

“Penguatan ideologi Pancasila dan nilai-nilai toleransi, kebangsaan dan persatuan perlu dilakukan segera dan harus menyentuh sampai lapisan masyarakat,” katanya.

Aksi teror kembali terjadi di Indonesia. Kali ini, kelompok teror yang diduga berafiliasi dengan ISIS melakukan penyerangan terhadap seorang anggota Polda Sumatera Utara Aiptu Martua Sigalingging hingga tewas.

Dalam penyerangan ini pelaku berjumlah dua orang. Satu di antaranya berinisial AR tewas ditembak polisi, dan satu lainnya berinisial SP sedang kritis. Kedua pelaku diduga kuat merupakan pengikut Abu Bakar al Baghdadi dan pernah ke Suriah hingga akhirnya masuk dalam sel JAD (Jamaah Anshorut Daulah) di Indonesia. (Has)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.