Selasa, 28 September 21

Pengamat: Publik Jakarta Ingin Perubahan

Pengamat:  Publik Jakarta Ingin Perubahan

Jakarta, Obsessionnews.com –  Menjelang Pilkada DKI Jakarta  2017 putaran kedua pada Rabu (19/4) duet Anies-Sandi masih merajai survei. Sebanyak enam dari tujuh lembaga survei memenangkan Anies-Sandi. Keenam lembaga surve itu adalah Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny Ja, Sinergi Data Indonesia (SDI), Media Survei Nasional (Median), Saiful Mujani Research and Consulting (SRMC), PolMark, dan Indikator. Sedangkan Charta Politika  memenangkan Ahok-Djarot. (Baca: Mengapa Rakyat Jakarta Butuh Gubernur Baru? (Jawaban Edisi Pertama))

Hasil survei yang dilakukan LSI Denny JA yang dilakukan pada 7-10 April 2017 menyebutkan elektabilitas Anies-Sandi mencapai 51,4%, Ahok-Djarot 42,7%, dan yang belum memutuskan memilih 5,9%.

Hasil survei SDI yang dilakukan pada 10-17 Maret 2017 menunjukkan elektabilitas Anies-Sandi  49,2%, Ahok-Djarot 42,2%, dan yang belum menentukan pilihan 8,6%. (Baca: Mengapa Rakyat Jakarta Butuh Gubernur Baru? (Jawaban Edisi Pertama))

Sementara itu  hasil survei yang dilakukan Median menunjukkan elektabilitas Anies-Sandi 49,0% dan Ahok-Djarot 47,1%, dan yang belum memutuskan memilih 3,9%. Survei dilakukan 13-14 April 2017.

Hasil survei  SMRC menyebutkan elektabilitas Anies-Sandi 47,9%, Ahok-Djarot 46,9%, dan yang belum memutuskan memilih 5,2%. Survei dilakukan pada tanggal 31 Maret-5 April 2017. (Baca: Mengapa Rakyat Jakarta Butuh Gubernur Baru? (Jawaban Edisi Kedua))

Hasil survei PolMark menunjukkan elektabilitas Anies-Sandi  49,1%, Ahok-Djarot 41,1%, dan yang belum menentukan pilihan 9,8%. Survei dilakukan pada  akhir Maret 2017.

Hasil survei Indikator yang dilakukan Indikator pada tanggal 12-14 April 2017 menyebutkan elektabilitas Anies-Sandi 48,2%, Ahok-Djarot 47,4%, dan yang belum memutuskan memilih  4,4%.

Hasil survei yang dilakukan Charta Politika yang dilakukan pada tanggal 7-12 April 2017 menunjukkan Ahok-Djarot 47,3%, Anies-Sandi 44,8%, dan yang belum memutuskan memilih 7,9%.

Menanggapi hasil survei ketujuh lembaga surve tersebut pengamat politik Denny JA menyatakan public Jakarta menginginkan adanya perubahan. “Hingga hari terakhir kampanye, 6 dari 7 lembaga survei menangkan Anies-Sandi. Terasa publik Jakarta ingin perubahan,” kicau pendiri LSI Denny JA ini di akun Twitternya,  @DennyJA_WORLD, Sabtu (15/4/2017)

Dipandang Sebelah Mata

Seperti diketahui kolaborasi Partai Gerindra dan PKS paling akhir mengumumkan pasangan calon (paslon) gubernur dan wakil gubernur (wagub) DKI Jakarta 2017. Secara mengejutkan Gerinda dan PKS mendeklaraskan duet Anies Baswedan-Sandiaga Uno pada Jumat (23/9/2016) sekitar pukul 13.30 WIB.

Disebut kejutan, karena sebelumnya nama Anies tak pernah disebut-sebut. Sebelumnya yang santer beredar adalah kader Gerindra, Sandiaga, sebagai cagub, sedangkan cawagubnya adalah  kader PKS, Mardani Ali Sera.

Namun, di detik-detik terakhir menjelang penutupan pendaftaran  di Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Provinsi DKI, terjadi perubahan peta politik.  Nama Anies dipasang sebagai cagub, sedangkan Sandi sebagai wakilnya. Dengan demikian Mardani tersingkir.

Anies mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di era Presiden Jokowi. Mantan Rektor Universitas Paramidana ini tak berlatar belakang politik. Ia tak menjadi kader parpol apapun.

Sebelumnya yang terlebih dahulu mendeklarasikan paslon adalah PDI-P, Golkar, Nasdem, dan Hanura pada Selasa  (20/9/2016). Keempat parpol tersebut mengusung gubernur dan wagub petahana DKI, yakni Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat.

Ahok tidak menjadi kader parpol apapun setelah angkat kaki dari Gerindra pada 2014. Sementara Djarot merupakan kader  PDI-P yang pernah menjadi Wali Kota Blitar, Jawa Timur.

Selanjutnya koalisi Partai Demokrat, PPP, PAN dan  PKB mendeklaraskan paslon Agus Yudhoyono Harimurti-Sylviana Murni pada  Jumat (23/9/2016) dini hari. Agus putra sulung Presiden keenam RI yang juga Ketua Umum DPP Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Karena resmi menjadi cagub, Agus mengundurkan diri dari TNI AD dengan pangkat mayor. Sementara itu Sylvi adalah mantan Deputi Gubernur DKI bidang Pariwisata dan Kebudayaan.

Menjelang Pilkada 15 Februari 2017 sejumlah pihak memandang sebelah mata pada Anies-Sandi. Hal ini tercermin dari hasil survei yang dilakukan sejumlah lembaga survei  yang menempatkan elektabilitas mereka di tempat buncit. Sedangkan Agus-Sylvi berada di peringkat pertama, dan Ahok-Djarot di posisi kedua. Ketika itu diprediksi Anies-Sandi tak bakalan mengikuti pilkada putaran kedua.

Namun, hasil survei tersebut berbeda dengan kenyataan di lapangan.

KPU DKI  Senin (27/2/2017) mengumumkan hasil rekapitulasi penghitungan suara, yakni Agus-Sylvi yang bernomor urut 1 memperoleh  937.955 suara atau 17,05%, Ahok-Djarot (nomor urut 2) mendapat 2.364.577 (42,99%} dan Anies-Sandi (nomor urut 3) memperoleh  2.197.333 ( 39,95%).

Ketiga paslon tidak ada yang memperoleh suara lebih dari 50 persen sebagai persyaratan untuk ditetapkan sebagai gubernur dan wagub sebagaimana ditetapkan dalam UU 29/2007 tentang Pemerintahan Provinsi DKI Jakarta. Untuk itu pada rapat pleno Sabtu (4/3) KPU DKI memutuskan Ahok-Djarot dan Anies-Sandi maju di putaran kedua pada Rabu (19/4).   (arh)

Baca Juga:

Elektabilitas Anies-Sandi Ungguli Ahok-Djarot di Survei Indikator

Pengamat: Hanya Kecurangan yang Bisa Kalahkan Anies-Sandi

TEMPO Ungkap Ahok Terima Uang e-KTP

Kasus e-KTP , Nama Ahok Ada di Nomor 30

Gubernur Baru DKI Jangan Tiru Ahok yang Kering Inovasi

 

 

 

 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.