Kamis, 5 Agustus 21

Pengamat Prediksi Pandemi COVİD-19 di Indonesia Baru Akan Berakhir 2021

Pengamat Prediksi Pandemi COVİD-19 di Indonesia Baru Akan Berakhir 2021
* Pengamat politik internasional Arya Sandhiyudha. (Foto: dok. pribadi)

Jakarta, Obsessionnews.com –  Pengamat politik internasional Arya Sandhiyudha memprediksi pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVİD-19) di Indonesia baru akan berakhir paling cepat pada 2021.

“Prediksi skenario pandemi di Indonesia baru berakhir paling cepat 2021 ini sudah kami sampaikan sejak Februari. Saya melihat skenario ini potensial bergantung tiga faktor utama: kecepatan waktu penemuan vaksin, pemulihan mayoritas dunia secara global, dan pertumbuhan banyak episenter penyebaran baru di dalam negeri,” kata Arya dalam keterangan tertulis yang diterima obsessionnews.com, Rabu (13/5/2020).

 

Baca juga:

Rakyat Menolak Perppu Corona

Kemenparekraf Bakal Jadikan Bali Sebagai Pilot Project Penerapan CHS Usai Pandemi Covid-19

Apakah Memang Kasus Covid-19 Indonesia Rendah?

 

Ia menyebutkan semua prediksi skenario 2020 menjadi akhir pandemi COVİD-19 sudah banyak yang mengalami revisi.

“Kita dapat me-review satu demi satu pihak yang membuat prediksi terlalu optimis di bulan Maret, April, Mei akan jadi akhir kini telah merevisi prediksinya. Kemudian kita akhirnya semakin sadar bahwa kita memang akan mengalami ini dalam waktu yang agak lama. Prediksi saya soal skenario 2021 bukan tidak mungkin, karena sudah ada beberapa penelitian di luar negeri yang menyebutkannya juga. Situasi global akan berpengaruh pada domestik, karena perhubungan dan keimigrasian Indonesia masih sangat terbuka,” tuturnya.

Arya yang juga Direktur Eksekutif The Indonesian Democracy Initiative (TIDI) mengungkapkan, wabah ini akan berlangsung lama.

“Sepertinya ini akan seperti maraton jarak jauh dan jangka panjang, bukan sesederhana kita melewati puncak lalu selesai. Ini akan menjadi seperti ‘gelombang soliton’ yang terus bergulir dan bergulung,” tandas Arya.

Menurutnya, prediksi skenario 2021 tersebut tergantung pada kebijakan yang berlaku. Ini tidak bisa sekadar prediksi, forecast ataupun modelling yang kuantitatif.

“Saya melihat arah pandemi ini juga dengan kualitatif, budaya, jadi besar pengaruh perilaku masyarakat kita, dan kemampuan pemerintah mengoordinasikan faktor kesehatan, sosial, ekonomi dan politik dalam kebijakan public,” ujar Arya.

Halaman selanjutnya

Pages: 1 2 3 4

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.