Selasa, 19 Januari 21

Pengamat: Penunjukan Petinggi Polri sebagai Penjabat Gubernur, Kepentingan Rezim Kekuasaan

Pengamat: Penunjukan Petinggi Polri sebagai Penjabat Gubernur, Kepentingan Rezim Kekuasaan
* Ketua Tim Studi Network for South East Asian Studies (NSEAS) Muchtar Effendi Harahap. (Foto: dok. Muchtar EH)

Jakarta, Obsessionnews.com –  Menjelang Pilkada Serentak tahun  2018 Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo melontarkan isu rencana penunjukan  petinggi Polri sebagai Penjabat Gubernur Jawa Barat (Jabar) dan Sumatera Utara (Sumut). Untuk Gubernur  Jabar akan ditunjuk Asisten Operasi (Asops) Kapolri Inspektur Jenderal Pol Mochamad Iriawan.  Sedangkan untuk Gubernur Sumut akan ditunjuk Kepala Divisi Propam Polri Inspektur Jenderal Pol Martuani Sormin.

Mendagri sendiri mengklaim Presiden Jokowi telah setuju atas rencana ini.

Pengamat politik Muchtar Effendi Harahap menilai dari sisi politik pemerintahan jelas tidak sesuai dengan prinsip-prinsip reformasi birokrasi. Era reformasi dan demokratisasi sekarang mengharuskan penyelenggara negara,  apalagi level gubernur, memiliki  kompetensi. Kalau melalui pemilihan langsung dari rakyat juga seyogyanya tokoh calon penyelenggara negara memiliki kompetensi dalam urusan penyelenggaraan negara dan rakyat.

“Bagi saya perwira Polri memiliki kompetensi sangat berbeda dengan penyelenggara negara, termasuk eksekutif. Perwira atau petinggi Polri  memiliki kompetensi hanya di bidang ketertiban masyarakat atau insani sebagai bagian keamanan nasional.  Keamanan nasional hanya satu bidang urusan pemerintahan,” kata  Ketua Tim Studi Network for South East Asian Studies (NSEAS) ini dalam keterangan tertulisnya yang diterima Obsessionnews.com, Selasa 30/1/2018).

Berdasarkan UU No.2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, fungsi kepolisian adalah salah satu fungsi pemerintahan negara di bidang keamanan dan ketertiban masyarakat, penegakan hukum, perlindungan,  pengayoman dan pelayanan pada masyarakat.

“Intinya fungsi Kepolisian hanya satu urusan pemerintahan, yakni bidang keamanan dan ketertiban masyarakat,” tandas Muchtar.

Sedangkan gubernur harus memiliki kompetensi bukan hanya mengurus keamanan dan ketertiban masyarakat,  tetapi juga mengurus sosial perekonomian, perdagangan, UKM dan Koperasi, investasi daerah, penganggaran, sosial budaya seperti kesehatan dan pendidikan bahkan lingkungan hidup.

“Perwira polisi, apalagi masih aktif, pasti tidak memiliki kompetensi baik dari sisi pengetahuan, unjuk kerja, bahkan kepemimpinan untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan   dan rakyat,” tegasnya.

Karena pada prinsipnya, lanjutnya,  dari politik pemerintahan perwira Polri tidak kompeten dan tidak layak menduduki jabatan kekuasaan negara seperti  gubernur. Maka kebijakan penunjukkan dua  petinggi Polri sebagai  penjabat Gubernur kini dalam isu politik nasional, menjadi tidak efektif dan efisien. Bahkan bertentangan dengan prinsip demokratisasi dan reformasi.

“Kita dalam perjalanan  mundur ke belakang bagaikan era Orde Baru. Kalau pada era Orde Baru  ada dwifungsi ABRI, kini muncul pula dwifungsi Polri. Menyedihkan tentunya bagi pelaku pro demokrasi,” kata Muchtar.

Menurut Muchtar, dari sisi regulasi, ada pengamat politik pro demokrasi menilai rencana penunjukan petinggi Polri ini  berpotensi melanggar Undang-undang Nomor 10 Tahun 2016 tentang Pemilu dan Undang-undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian.

Dalam perkembangan isu politik nasional ini muncul  persepsi dan klaim jika rencana kebijakan ini menguntungkan atau demi kepentingan PDI-P dalam memenangkan pertarungan kekuasaan negara melalui Pilkada mendatang.  Pasalnya, Mendagri kader PDI-P , maka kebijakan itu menguntungkan P-DIP. Namun, Muchtar kurang sepakat dengan klaim atau penilaian semacam ini. Ia mengungkapkan ada dua alasan utama.

Pertama,  daerah Sumut dan Jabar tidak pernah dimenangkan oleh pasangan cagub dan wacagub yang diusung PDI-P. Di dua provinsi ini memang konstituen PDIP relatif banyak, tetapi PDI-P tidak pernah menang dalam pertarungan kekuasaan negara di daerah itu. Karena itu, tidak rasional dan ahistoris suatu penilaian bahwa PDIP akan menang jika rencana  kebijakan ini diimplementasikan.

“Saya percaya, pihak yang diuntungkan dan berkepentingan  dari sisi politik kekuasaan bukan PDI-P,  tetapi rezim kekuasaan Jokowi. Rezim kekuasaan  Jokow lah paling rasional berkepentingan dengan kebijakan ini,” tutur Muchtar.

Kedua, keberadaan Mendagri adalah anggota rezim Kekuasaan, sekalipun juga kader PDIP. Kebijakan ini adalah kebijakan kekuasaan negara, bukan parpol. Karena itu, sebagai pembantu Presiden Jokowi, aktor paling mampu mempengaruhi Mendagri adalah Presiden.

“Sekalipun Ketum PDIP menghendaki kebijakan ini, tetapi masih harus menunggu persetujuan Presiden. Nah, apa kepentingan Presiden? Tentu saja, jika merugikan kepentingan kekuasaan, tak mungkin Presiden menyetujuinya,” ujar Muchtar.

Dari sisi opini publik terbangun, memang ada kesan kebijakan ini demi kepentingan PDI-P. Kesan ini, tutur Muchtar,  tidak rasional dan ahistoris. Akan sulit ditemukan data dan fakta untuk menjustifikasi keterlibatan PDIP. Mendagri sendiri telah membantah penilaian publik, ada kepentingan PDI-P atas rencana kebijakan penunjukan petinggi Polri sebagai  Penjabat Gubernur Jabar dan Sumut.

Muchtar  memperkirakan beberapa dampak negatif dari rencana  penunjukan petinggi Polri sebagai Penjabat Gubernur Jabar dan Sumut.

Pertama, diperkirakan akan terus berkelanjutan polemik dan konflik pendapat antara pihak pro dan kontra di publik. Hal ini menjadi gaduh dan mengalihkan pembicaraan atau penilaian kinerja Jokowi mengurus pemerintahan yang menunjukkan buruk dan gagal mencapai sasaran dan target yang diharapkan tercapai. Dampak negatif turunan hilangnya energi sia-sia rezim kekuasaan untuk mencapai kesuksesan dalan melaksanakan  urusan pemerintahan yang jauh lebih penting bagi negara dan rakyat sekarang ini.

Kedua, persepsi negatif publik terhadap rezim kekuasaan yang mengabaikan keberadaan petinggi aparatur negara di lingkungan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) khususnya. Dikesankan tidak ada lagi  pejabat tinggi Kemendagri  mempunyai kompetensi  menjadi Penjabat  Gubernur.

Ketiga, menciptakan persepsi negatif terhadap kemampuan rezim kekuasaan untuk menciptakan kondisi aman dan tertib masyarakat saat pelaksanaan Pilkada serentak  2018 ini.Sebagaimana alasan Mendagri rencana penunjukkan petinggi Polri ini  adalah kerawanan gangguan keamanan dan potensi kerawanan Pilkada di  Jabar dan Sumut. Padahal di kedua provinsi itu masih ada lembaga Polda dan Kodam yang mampu mengatasi perkiraan munculnya gangguan   keamanan dan potensi  kerawanan dimaksud.  Mengesankan diri pemerintah tidak percaya diri dalam penyelenggaran Pilkada  yang aman dan tertib.

Keempat, rencana penunjukan ini dipersepsikan kepentingan rezim Kekuasaan Jokowi semata. Opini publik akan mengarah ke sana, sehingga memperkuat penurunan tingkat elektabilitas Jokowi  menjelang Pilpres 2019 mendatang. Kekuatan oposisi dan kontra rezim Jokowi akan menjadikan rencana penunjukan ini sebagai bahan kritik dan penggerusan Jokowi di mata publik.

“Jika rezim Kekuasaan tetap melaksanakan rencana penunjukan petinggi Polri ini, apa yang harus dilakukan kelompok pengkritik dan penolak baik di pemerintahan maupun masyarakat madani? Salah satu jawabannya adalah melakukan gugatan di Pengadilan Tata Usaha Negara,” pungkas Muchtar. (arh)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.