Jumat, 7 Agustus 20

Pengamat: Hanya Kecurangan yang Bisa Kalahkan Anies-Sandi

Pengamat: Hanya Kecurangan yang Bisa Kalahkan Anies-Sandi
* Anies-Sandi.

Jakarta, Obsessionnews.com – Pengamat politik Network for South Asian Studies (NSEAS) Muchtar Effendi Harahap mengatakan, suatu realitas objektif sangat unik dunia lembaga survei terdapat di DKI Jakarta. Baru kali ini Muchtar menemukan dalam Pilkada DKI 2017 putaran kedua pada Rabu (19/4), beberapa lembaga survei dan media massa melakukan survei opini publik menunjukkan hasil survei tertinggi pada satu pasangan calon (paslon).

Pengamat politik, Network for South East Asian Studies (NSEAS) Muchtar Effendi Harahap.

“Ada homogenitas hasil survei, tidak ada berbeda. Aneh memang,” kata Muchtar ketika dihubungi Obsessionnews.com, Sabtu (15/4).

Menjelang pencoblosan pilkada putaran kedua, lima lembaga survei secara resmi mengumumkan hasil survei yang menunjukkan elektabilitas paslon Anies-Sandi mengungguli Ahok-Djarot. Adapun kelima lembaga survei tersebut adalah Saiful Mujani Research Center (SMRC), Media Survei Nasional (Median), Polmark, Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, dan Indonesia Development Monitoring (IDM). (Baca:  Anies-Sandi Unggul di Lima Survei}

Padahal sebelumnya, menjelang putaran pertama, ada banyak lembaga survei memposisikan Ahok-Djarot memperoleh dukungan lebih besar.

Menurut Muchtar, publikasi kemenangan Anies-Sandi versi opini publik besar-besaran baik di media massa maupun media sosial ini tentu dapat membawa dampak terhadap kelompok relawan kedua paslon. Bagi relawan Anies-Sandi, publikasi itu mendorong dan memantapkan pikiran dan tindakan terus bekerja untuk pemenangan Anies-Sandi. Ada stimulan baru untuk bertahan bekerja sebagai relawan di tengah-tengah masyarakat,” katanya.

Sedangkan bagi relawan Ahok-Djarot hasil survei tersebut dapat menurunkan semangat untuk terus bekerja mencari dukungan pemilih. Menurunnya semangat bekerja ini dapat mengurangi daya saing untuk mencari suara pemilih Ahok-Djarot.

Publikasi hasil survei opini itu dapat dinilai sebagai iklan politik. Hasil survei homogen dan seragam yang memenangkan Anies-Sandi juga bisa berfungsi menurunkan atau mendowngrade elektabilitas Ahok-Djarot. Tentu saja pemikiran ini terbebas dari kebenaran dan ketepatan responden untuk kepentingan Pilkada DKI.

“Sebagai misal, jumlah responden sebagian besar bukan rakyat DKI, sehingga tidak relevan jika kita mau gunakan hasil survei itu memprediksi atau mengidentifikasi elektabilitas masing-masing paslon,” tandasnya.

Bagi Muchtar publikasi hasil survei tersebut hanya sebagai iklan politik yang menguntungkan pihak Anies-Sandi. Sebaliknya, bisa juga justru merugikan kelompok relawan Anies-Sandi. Yakni menurun semangat bekerja karena sudah merasa puas atas kemenangan Anies-Sandi versi hasil survei opini publik ini. Tidak lagi kritis atas kebenaran dan ketepatan kelompok responden dan juga metodologi yang tepat untuk survei prilaku pemilih dalam Pilkada DKI.

Di lain pihak, kata Muchtar, kelompok relawan Ahok-Djarot tersentak dan semakin tertantang untuk bekerja lebih keras lagi, walau dengan kecurangan, agar Ahok-Djarot memenangkan pertarungan dalam Pilkada ini.

“Kohesi dan sinergitas kelompok relawan kian menguat, termasuk meningkatnya peran serta kader parpol pendukung yang memiliki kekuasaan politik dan ekonomi,” tegas alumnus Program Pascasarjana Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, tahun 1986 ini.

Mengapa semua hasil survei memenangkan Anies-Sandi?

Menurut Muchtar, sesungguhnya prilaku pemilih secara sosiologis baik dari sisi aliran politik, kultural maupun strata sosial, tak ada alasan untuk memenangkan Ahok-Djarot. Asumsi ini berangkat dari pelaksanaan Pilkada benar jujur dan adil (jurdil) tanpa kecurangan dan pelanggaran regulasi Pilkada DKI.

“Hanya dengan kecurangan pihak lawan, Anies-Sandi bisa terkalahkan,” tandasnya.

Ia menambahkan, hasil putaran pertama telah terbukti suara pemilih Anies-Sandi melebihi suara pemilih/konstituen parpol-parpol pendukung dalam Pemilu lalu. Sebaliknya, suara pemilih Ahok-Djarot lebih sedikit ketimbang suara pemilih parpol-parpol pendukung dalam Pemilu lalu.

“Artinya, pengaruh parpol kurang besar terhadap perolehan suara. Dengan perkataan lain, pengaruh parpol terhadap perolehan suara pemilih tidak bisa dijadikan dasar utama untuk memprediksi kemenangan suatu paslon,” ujarnya.

Jika digunakan kajian sosiologis tentang perilaku pemilih dalam Pilkada DKI ini, kata Muchtar, sulit menjustifikasi atau merasionalisasikan atas kekalahan Anies-Sandi terhadap Ahok-Djarot. Memang ada pengecualian bagi minoritas rasional dan kosmopolit, lebih mempertimbangkan kompetensi paslon dan program kerja ditawarkan kepada publik.

“Saya akui, berdasarkan beberapa kali debat paslon dan media massa, program Anies-Sandi lebih populer ketimbang Ahok-Djarot. Terdapat beberapa program terobosan dan baru diajukan Anies-Agus. Sementara Ahok-Djarot terkesan punya beban berat untuk jualan program. Salah satu sebabnya, selama mereka memimpin Pemprov DKI tidak ada urusan atau bidang pemerintahan yang berprestasi atau berhasil sesuai perencanaan resmi teregulasi. Tidak ada data, fakta dan angka prestasi atau keberhasilan Ahok-Djarot mengurus pemerintahan di DKI selama ini. Bahkan, di publik beredar data, fakta dan angka atas kegagalan mereka,” katanya.

Menurut Muchtar, hal ini menguntungkan Anies-Sandi. Mereka belum terbukti punya kegagalan karena mereka belum pernah memimpin Pemprov DKI.(arh)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.