Selasa, 29 September 20

Pengalaman Menjadi OTG Covid-19

Pengalaman Menjadi OTG Covid-19
* dokter/tenaga medis menangani pasien corona di rumah sakit

Oleh: Prof.dr. Zainal Muttaqin PhD. SpBS

1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Situasi apapun yang kita hadapi berusahalah kita untuk menjadi orang yang bermanfaat

خير الناس أنفعهم للناس

“Khairunnas anfa’uhum linnas”
(Sebaik baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya..)

Saya sesuai profesi bekerja sehari-hari di Rumah Sakit, walaupun tidak terkait langsung dengan wabah ini. Tetapi kami bersinggungan. Di hampir semua Rumah Sakit itu ada Tim dokter yang menangani infeksi yang masuk dalam tugas Covid-19. Tetapi ada Tim lain yang di luar itu yang tidak menangani hal itu.

Sejak bulan Maret semua Rumah Sakit sudah membatasi aktivitas yang tidak terkait dengan Covid. Kasus-kasus yang harus segera ditangani adalah Kasus emergency, walaupun bukan infeksi. Emergency itu banyak : Stroke (Pendarahan Otak), Kecelakaan Lalu Lintas, dan ada Pasien dengan kelainan ada yang butuh pertolongan segera. Disebut kasus emergency non Covid. Saya ada disitu.

Berawal dari kita menghadapi situasi wabah. Kita tahu bahwa dalam kasus infeksi Covid 80% yang terinfeksi tidak akan pernah menunjukkan gejala apapun. Disebut OTG (Orang Tanpa Gejala). Kemudian 20% ada keluhan dengan infeksi yang terjadi. Dan yang 20% ini terbagi dengan Keluhan Ringan seperti kena flu biasa yang bisa dirawat di rumah dan ada sebagian Pasien yang gejala berat sehingga membutuhkan pertolongan dan perawatan di rumah sakit.

Yang di rumah Sakit pun masih terbagi lagi. Mereka yang cukup dirawat dan diisolasi karena ini menular. Ada yang karena keadaan parah butuh alat bantu nafas, obat-obat emergency sehingga butuh pengawasan yang khusus. Bukan cuma ruang isolasi, tapi ruang intensif (ICU) yang juga diisolasi. Tidak dicampur dengan pasien ICU lain.

1.2. Pengalaman Kami

Karena 80% pasien OTG itu menyulitkan kita. Kita tidak akan pernah tahu siapa yang sakit yang membawa virus dan siapa yang tidak.
Kejadian yang saya alami, pada tanggal 24 Maret salah satu anggota Tim saya (PPDS) yang melakukan operasi kasus emergency non Covid mengalami demam. Karena demam, kami telusur operasinya tanggal 21 Maret. Mereka yang terlibat dari Tim itu 3 orang ditest. Di test tanggal 26 Maret dengan Swab test dan PCR.

Hasilnya tanggal 1 April ada yang positif Covid. Jadi ini yakin, bukan Ragu-ragu seperti Rapid Test.
Bedanya apa ? Kalau Rapid Test positif bisa jadi False Positif atau Positif Palsu karena virusnya bukan virus Covid tapi virus Flu yang lain. Kalau hasil test Negatif dia belum tentu bukan OTG. Bisa jadi reaksi anti body belum muncul. Kalau test PCR itu pasti.

Karena hasil test PCR ada 1 yang positif maka kami putuskan semua dalam Tim besar kami yang sempat kontak dengan pasien yang dioperasi tanggal 21 Maret atau keluarga pasien, dan yang kontak dengan PPDS yang positif tadi diminta untuk test PCR, ada 30 an orang. Pemeriksaan ini dipenuhi tanggal 6 dan 8 April. Hasilnya tanggal 13 dan 15 April ada 20 orang yang positif Covid. Termasuk diri saya. Kami semua tidak pernah ada gejala apapun. Tapi karena hasil test positif, bisa menulari orang lain.

Ini namanya Contact Tracing untuk mencegah penyebaran wabah. Kami pada saat diberi tahu hasilnya positif itu sudah terlambat satu minggu. Selama satu minggu antara tanggal 6 sampai 13 April itu kami masih berkeliaran ketemu keluarga, ketemu pasien. Sejak diberitahu, diputuskan kami dikarantina agar tidak menulari orang lain. Disamping tetap menjaga kesehatan jadi OTG, nanti setelah dua minggu virus akan menghilang sendiri kalau daya tahan tubuh kita kuat.

Tujuan utama isolasi adalah memutus rantai penyebaran. Karena kami sempat kontak dengan orang lain, maka semua didaftar, kemudian ditest juga. Tapi yang dipenuhi hanya test Rapid. Hasilnya non Reaktif. Ini dalam rangka memutus. Pasien-pasien dan Perawat yang sebelumnya ketemu saya juga ditracing oleh Rumah Sakit atas permintaan saya. Yang merasa ada gejala diminta untuk periksa ke Rumah Sakit, yang tak ada gejala diminta untuk mengisolasi diri.
Memutus wabah hanya dapat dilakukan dengan Test dan Tracing.
Karena 80% yang tertular Orang Tanpa Gejala.

2. PROBLEM YANG TIMBUL DI MASYARAKAT

2.1. Kemampuan Test yang rendah

Kemampuan test yang dimiliki Pemerintah saat ini paling jelek. Saat ini dengan upaya maksimal melibatkan berbagai pihak, itupun baru akhir-akhir ini. Pada awalnya Pemerintah hanya memiliki Laboratorium dan mempercayai Laboratorium untuk Test PCR hanya yang dimiliki oleh Kementerian Kesehatan saja. Kemudian setelah melibatkan instansi lain, seperti Universitas dan sebagainya maka saat ini kapasitas test yang bisa dilakukan Pemerintah Indonesia baru mencapai sekitar 300 lebih per satu juta penduduk.

Itu masih jauh dibawah Pakistan, Bangladesh dan sebagainya. Indonesia baru setara dengan Myanmar, Burundi, negara yang namanya saja kita tak kenal. Disisi lain Vietnam, Thailand dan Malaysia, negara tetangga kita sudah melakukan test hampir 10 kali kemampuan kita. Mereka sampai 2000 test lebih per satu juta penduduk. Negara yang sudah berhasil cepat mengatasi ini, Jerman, Australia melakukan test pada 20.000 orang per satu juta penduduk. Jadi 100 kali kemampuan kita.

Kuncinya adalah test. Dengan test diketahui siapa yang positif, siapa yang berpotensi menyebarkan dia diisolasi untuk memutus rantai. Dengan kemampuan yang terbatas ini maka sebenarnya yang penting untuk diambil adalah tindakan mencegah pergerakan orang. Itu yang di Indonesia setengah-setengah.

2.2. Sistem Layanan Kesehatan Rendah

Kami diisolasi itu bukan agar kami sehat. Kami itu sehat terus. Tapi usaha itu untuk memutus rantai.
Indonesia ini kapasitas test begitu rendah.Sistem pelayanan kesehatan terendah juga.

132 Rumah Sakit rujukan di seluruh Indonesia dengan sekitar 46000 tempat tidur itu kalau semua boleh dipakai untuk Covid. Padahal tidak mungkin. Ada orang lain yang sakit bukan Covid juga butuh penanganan. Misalnya separohnya saja untuk Covid berarti ada 23000 kapasitas tempat tidur di Rumah Sakit rujukan. Tidak pernah bisa menampung yang sakit. Pasti discrepancies akan terjadi.

Tugas kita adalah membuat 20% yang sakit jangan sampai melebihi kapasitas Rumah Sakit tadi. Caranya membatasi jumlah yang sakit. Supaya Jangan bertambah yang sakit kita harus membatasi pergerakan orang.

2.3. Rapid Test Kualitas KW-2

Kelemahan yang lain Pemerintah membebaskan Siapapun, Rumah Sakit manapun , Fasilitas Swasta manapun yang pengin buat test sendiri karena Pemerintah terbatas. PCR test itu alatnya mahal banget. Yang berkembang diluar, di pasaran adalah yang namanya Rapid Test.

Rapid Test itu adalah screening, artinya kalau yang hasil Rapid Testnya Reaktif itu butuh dipastikan dengan PCR Test. Karena PCR nya terbatas, tidak semua orang ditest PCR, maka lewat Rapid Test dulu. Ini yang banyak dilakukan, di Jawa Timur di semua Propinsi melakukan.

Problemnya kita semua bisa jualan di Buka Lapak atau Toko Pedia. Ada 50 merk lebih yang beredar di Indonesia dan menyebutkan Rapid Test ini. Padahal dari FDA (Food and Drug Administration) Amerika sudah melakukan evaluasi pada semua produk Rapid Test ini dari 50 merk hanya 3 yang mendapatkan rekomendasi yang dijamin hasilnya reliabel.

Pemerintah China juga membuat pengumuman bahwa dari 50 merk itu yang direkomendasi hanya 8 merk saja. Yang hasilnya bisa dipercaya.
Di Uganda terjadi uji coba Rapid Test. Pohon Pisang dan Kambing bisa positif.

Pemerintah Korea dari awal mengambil kebijakan Rapid Test, siapapun , rumah sakit swasta boleh mengetest tapi dibawah kendali Pemerintah, alat dan merk ditentukan. Dan untuk tracing semua dikendalikan Pemerintah.

Di Indonesia semua dibebaskan. Tapi kita tidak tahu alat itu KW1, KW2 atau bahkan KW3 kita tidak tahu. Tidak ada petunjuk apapun. Itu salah satu kelemahan yang ada di Indonesia. Dan ini jadi lahan bisnis baru , ongkosnya banyak, bervariasi mulai dari yang 500 ribu sampai yang 2 juta dibikin paket Test.

Fakta tidak ada koordinasi yang baik dari sisi Pemerintah karena memang terlambat dari awalnya menangani kasus Covid ini.

2.4.Data yang ada Tidak Jelas Manfaatnya

Data tentang jumlah test semua negara tahu, terbuka. Tetapi jumlah data yang sakit hanya boleh diumumkan oleh Gugus Tugas Covid. Yang ditest di RS Kariadi Semarang hasilnya positif tidak boleh diumumkan. Dia hanya memberi tahu ke Pasien. Data yang sakit dari Propinsi dikirim ke Pusat. Kemudian Pusat yang memasukkan data. Tapi mungkin bukan hari ini. Mungkin minggu depan baru masuk.

Jadi informasi jumlah yang bertambah berapa orang tiap hari untuk apa?
Kita bandingkan dengan laporan cuaca di TV asing kalau ada awan dan sebagainya dapat digunakan untuk memprediksi. Harusnya data covid menjadi Peta besar, klasternya dimana saja , yang baru mana, yang mengalami perbaikan mana , terus sudah ditracing sejauh mana, dilakukan apa saja.
Bukan sekedar laporan jumlah, tiap hari nambah dan sebagainya. Jumlah yang mati segala itu tidak berarti apa-apa untuk menentukan kebijakan.

Terkait dengan jumlah mati, baru-baru ini WHO sudah membuat surat kepada semua negara yang Kapasitas Testnya jelek minta agar jumlah kematian yang diumumkan karena Covid itu tidak dibatasi yang telah ditest Positif. Indonesia hanya mengumumkan jumlah kematian karena Corona yang testnya positif. Padahal testnya terbatas sekali.

Mestinya data yang benar adalah data yang dibuat misalnya oleh Dinas Pertamanan DKI.
Sekitar 75% kematian di DKI masuk ke Dinas Pertamanan DKI.
Dinas ini mulai Februari 2019 sampai Februari 2020, setiap bulan jumlah orang mati yang dikubur di kuburan yang dikelola Dinas Pertamanan , sekitar 2800 orang. Tetapi bulan Maret yang dikubur ada 4400 orang.
Jadi ada selisih angka 1600 lonjakan angka orang mati dalam sebulan dibanding sebelumnya.

Tapi ini tidak pernah bisa dimasukkan ini kematian karena Covid walaupun untuk penguburannya dilakukan Prosedur Covid. Karena mereka adalah ODP, PDP yang mati di rumah sakit tapi masih belum sempat ditest karena antre test. Mereka tidak diumumkan sebagai mati karena Covid. Ini yang diminta WHO untuk dimasukkan.

2.5. Masyarakat Tidak Takut

WHO minta itu dilaporkan karena Kapasitas Test yang sangat terbatas. Semua kematian pada ODP dan PDP harus dianggap kematian karena Covid. Hal ini penting.

Alasan Pemerintah jangan menakuti masyarakat. Karena tak boleh menakuti maka masyarakat tidak takut. Tiap hari pada berusaha mudik, nggrombol, pulang , kumpul dijalan yang padat karena tidak takut.
Di anggap semua ini berjalan seperti biasa padahal wabah berkembang terus, sehingga kita tidak tahu sampai dimana penyebarannya.

Yang dikhawatirkan WHO pada saat semua negara lain sudah reda. Covidnya sudah membaik semua, Indonesia yang menjadi satu titik yang berbahaya. Disana sudah selesai disini belum selesai. Sehingga Indonesia bisa menjadi sumber Covid untuk nanti Gelombang Kedua di dunia.

2.6.Kebijakan yang Keliru

Satu hal lagi. Pemerintah mengejar laporan harian untuk mengetahui jumlah pasien yang sembuh.
Apa ini artinya ? Pengalaman saya untuk mencapai hasil negatif saya ditest berkali-kali. Sebelum diberitahu positif dua kali test. Dua minggu kemudian setelah diisolasi ditest ulang sampai 3 kali. Karena sekali negatif, kedua ragu-ragu terus diulang ketiga. Total saya 5 kali test. Yang ketiga adalah test untuk mengkonfirmasi bahwa saya sudah negatif.

Saya baca tulisan di Bali ada orang yang butuh sampai 11 kali ditest baru diketahui hasilnya bisa negatif.
Di dalam rombongan teman saya sendiri ada yang ditest 6 kali test SWAP baru bisa dinyatakan negatif. Ini untuk apa? Untuk bisa diumumkan sebagai jumlah yang sembuh.

Pemerintah Inggris dan Pemerintah Belanda, coba perhatikan. Mereka tidak pernah mengumumkan jumlah yang sembuh karena mereka sudah memberitahu rakyatnya bahwa mereka tidak melakukan test ulang karena alat test terbatas. Padahal kemampuan mereka lebih dari kita. Mereka lebih mengutamakan test untuk ODP dan PDP.

Kalau Pemerintah kita kapasitasnya terbatas untuk apa mengumumkan tiap hari yang sembuh sekian.? Hanya untuk menenteramkan hati.?
Tidak diumumkan juga tidak apa-apa asal saya diisolasi dua minggu tidak ketemu orang dan saya tetap sehat. Terus saya balik ke rumah boleh pulang ditambah isolasi dua minggu di rumah itu sudah aman. Tanpa harus ditest negatif lagi.

Jadi banyak yang salah disini. Tapi Pemerintah kita, kita tahu tidak mendengarkan IDI, FKM UI tidak didengar. Yang tiap hari konsultasi adalah Gubernur DKI. Kenapa Gubernur DKI selalu berbeda langkah, berbeda pendapat dengan Gugus Tugas Covid karena Pemerintah DKI tiap hari mendengarkan pendapat Sience, pendapat ilmuwan, pendapat ahli ilmu Epidemology. Tetapi disisi lain Gugus Tugas anti Science. Faktanya seperti itu.

3. APA YANG DAPAT KITA LAKUKAN

3.1. Contact Tracing

Kita dibawah tidak dapat berbuat apa-apa. Ya sudah kita berbuat untuk lingkungan kita masing-masing. Melakukan Contact Tracing, bersama-sama membatasi diri.
Kita dapat membantu dengan melakukan itu.

Karena tanpa gejala, maka siapapun yang berasal atau datang dari daerah zona merah harus dianggap positif Covid sebelum bisa dibuktikan tidak.
Memutus rantainya cuma isolasi 14 hari. Karena kita testnya terbatas, jangan berharap dari test.
Mau berharap dari test pakai Rapid Test yang ada 50 merk beredar di Indonesia mulai dari KW1, KW2, KW9, KW 10 ada semua disini.

3.2. Pendidikan Sosial

Bagaimana mendidik masyarakat untuk tidak menstigmatisasi mereka yang positif Covid.
Waktu saya dan teman-teman diisolasi di Hotel Kesambi milik Pemerintah di Semarang itu, yang pertama saya menghargai Pemerintah bahwa nanti tak akan ada orang mau menginap disitu, paling tidak sampai 1-2 tahun. Karena hotel dipakai menampung orang infeksi.

Karena banyak Penduduk menolak. Ada beberapa SMA di Jakarta dipakai isolasi, penduduk di sekitarnya menolak. Karena orang takut ketularan. Penjelasan ke masyarakat tidak tuntas. Bagaimana penularannya, siapa yang bisa ketularan.

Pertama kami datang, semua karyawan hotel ketakutan. Jadi kami buat edukasi pada karyawan hotel. Kami dikamar dibiarkan mengelola kamar kami sendiri. Kebersihan kamar kami kerjakan sendiri. Diberi sapu, sikat. Mengganti seprei sendiri semua kami lakukan sendiri tidak melibatkan karyawan hotel.

Semua barang-barang kotor kami tidak ditangani karyawan hotel tapi dikumpulkan karyawan rumah Sakit, dicuci dan disterilkan oleh rumah sakit kemudian kembali kepada kami. Itu semua karena karyawan hotel takut.

Penduduk sekitar ramai mendatangi, RT, RW nya semua datang menanyakan tentang keberadaan kami. Hari pertama disana kami mau olah raga pagi, kami dilarang. Karena belum ada kesepakatan dengan Penduduk sekitar.

Saya takutnya karena kami ketahuan Positif nanti kami dilempari batu sama mereka, jangan-jangan. Karena jenazah saja ditolak.

Sempat kami didatangi Penduduk, mereka protes gara-gara ada satu teman di hotel itu yang menjemur pakaian dalam di jendela.
Dari kampung kelihatan, mereka takut virusnya terbang menghampiri mereka.

Jadi banyak sekali penjelasan. Kita butuh sosialisasi. Bahwa kami ini tenaga kesehatan, kami bisa menjaga diri agar tidak menulari orang lain.
Kami kumpul itu untuk memutus rantai.

Kami tidak mengisolasi di rumah masing-masing karena kami takut nanti tiap hari Petugas datang dengan Pakaian astronot untuk memeriksa saya. Itu akan membuat geger satu kampung.

Yang kami takutkan adalah tetangga kalau tahu kami Positif nanti menjauhi. Ada teman sejawat yang dipersoalkan tetangganya. Takut kalau ketularan. Dengan begitu jangan menyalahkan Pasien yang menutup informasi bahwa keluarganya positif Covid.

3.3. Hindari Pendekatan Ancaman

Pendekatan Rumah Sakit juga Kadang tidak benar. Kita lihat di Rumah Sakit Swasta, kalau mau berobat ke Rumah Sakit, baru sampai pintu sudah ada tulisan Ancaman Pidana UU KUHP kalau tidak jujur dalam memberi informasi tentang Corona, tentang riwayat perjalanan, tentang riwayat test.

Pendekatannya pendekatan ancaman. Itu yang dilakukan. Sebenarnya bagaimana usaha kita justru kalau ada orang terbuka mengatakan dirinya positif. Jadikan dia Pahlawan supaya setiap lingkungan terbuka. Ini dapat dilakukan di lingkungan masing- masing.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.