Rabu, 25 November 20

Pengalaman Gempa Besar di Jepang

Pengalaman Gempa Besar di Jepang
* Dr.Uyi Sulaeman,S.Si,M.Si.

Tanggal 11 September 2011, adalah pengalaman yang tak pernah terlupakan, ketika Dr.Uyi Sulaeman,S.Si,M.Si. pertama kalinya merasakan gempa yang hebat di Jepang, tepatnya di Sendai, Miyagi, Jepang. Saat itu, Dosen Jurusan Kimia, Fakultas MIPA Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto ini menempuh studi Program Doktor di Universitas Tohoku, Jepang.

Gempa tersebut berkekuatan 9.0 skala richter merupakan gempa terbesar sepanjang sejarah Jepang dalam 1.200 tahun terakhir, yang diikuti gelombang tsunami setinggi 10 m. Kali itu hari Jumat, setelah selesai melaksanakan Sholat Jumat di Masjid Islamic Cultural Centre of Sendai (ICCS), satu-satunya masjid di Sendai yang dibangun tahun 2008. Biasanya Uyi Sulaeman naik sepeda dari Laboratorium (lab) menuju masjid kurang lebih 45 menit.

Setelah melakukan Sholat Jum’at, Uyi Sulaeman langsung ke lab dan buka komputer, tidak melakukan eksperimen, karena ia sudah menyelesaikan studi program doktor dan sudah menempuh sidang terakhir dan lulus, hanya menunggu graduation (wisuda) pada tanggal 25 Maret2011, hari yang bersejarah bagi dirinya yang biasanya dirayakan oleh universitas. Tapi impian yang akan menjadi kenangan dan foto bersama saat graduation (wisuda) itu menjadi tiada.

Gempa pun datang, mulanya hanya kecil, getaran-getaran yang sudah biasa bagi Uyi Sulaeman merasakan dan ia tak menghiraukannya. Namun lama-lama, gempa itu semakin hebat, dan dirinya tak punya kesempatan untuk keluar. Uyi dan anggota lab lainnya hanya bisa berlindung di bawah meja, salah satu prosedur yang harus ia lakukan saat gempa datang, agar tidak tertimpa benda-beda keras yang jatuh.

Meskipun meja Uyi cukup kuat karena memang terbuat dari besi. Namun, ia merasakan goyangan itu sangat keras, dan hanya bisa berserah diri pada Allah. Apapun yang terjadi, ia berfikir mungkin bangunan ini akan runtuh.

Uyi merasakan seperti berada di atas air dalam perahu di tengah lautan. Bumi itu ternyata bergerak, dan lembek. Cukup lama dirinya merasakan gempa entah berapa menit. Ia hanya khawatir apa yang terjadi dengan anak-anak dan istrinya karena mereka tinggal di apartemen tua yang bangunannya tidak sekuat bangunan laboratorium.

Setelah gempa mulai mereda, Uyi bersama anggota lab keluar menuju lapangan dan berkumpul, memastikan tidak ada korban dan ia berdiri di lapangan, terasa gempa susulan datang, rasanya tanah ini telah bergerak bagaikan gelombang dan sulit untuk melangkah.

Secara otomatis listrik dan sambungan telepon mati, Uyi tidak bisa mengontak isteri, lalu ia izin ke professor, untuk pulang ke apartemen dengan sepeda. Sepanjang naik sepeda, hatinya gelisah dan bergetar, di tengah jalan salju putih halus turun, seakan meneguhkan hati dan menghilangkan rasa gelisah dan cemas.

Ketika sampai di apartemen, Uyi merasa kaget, kunci kamar keluarganya tergantung di pintu, sepertinya ada masalah, dan ia pun masuk ke kamar, terlihat, TV, barang-barang elektronik, barang-barang dapur, berantakan tidak karuan. Semuanya pada tumpah ke ruangan tengah.

Uyi berfikir, mungkin anak-anaknya ke rumah sakit, tak ada orang yang bisa hubungi dirinya. Kemudian ia hanya kembali dengan sepeda, mengikuti jalannya ayunan sepeda akan kemana dirinya melangkah, karena tidak tahu kemana dirinya harus pergi.

Akhirnya, kegalauan Uyi hilang, Allah mempertemukan keluarga dirinya di depan jalan asrama mahasiswa dan semuanya selamat. Rupanya, isterinya ketika gempa, tidak ada di rumah dan meninggalkan kunci tergantung dipintu, dia menyaksikan hebatnya gempa di luar, dan melihat bagaimana bangunan-bangunan itu diguncangkan dengan sangat kuatnya, lalu dia pergi ke sekolah untuk jemput anak-anak.

 

Dr.Uyi Sulaeman,S.Si,M.Si.

Setelah itu Uyi sekeluarga tidak tinggal di apartemen, tetapi di sekolah SMP, karena bangunan sekolah dibuat kuat oleh pemerintah Jepang, dan dijadikan tempat untuk mengungsi apabila gempa datang. Semuanya berkumpul di tempat-tempat sekolah, seperti SD ataupun SMP, membawa selimut, dan lain-lain agar bisa bertahan daridingin.

Malam hari, Uyi merasakan, pertama kalinya, kota menjadi gelap tak ada lampu yang menyala, hanya bintang-bintang di langit yang menerangi dirinya di jalan. Saat itu ia merasakan bahwa manusia itu lemah, dan penduduk kota sangat tergantung dengan energi: gas dan listrik. Tetapi,saat itu tak ada listrik , tak ada gas, dan bahkan tak ada air.

Uyi Sulaeman tak bisa masak, dan tak ada sesuatu yang bisa dibeli, makanan di supermarket habis. Kurang lebih tiga hari ia mengungsi. Dan dirinya mendapati informasi yang hebat, tsunami datang meluluh lantakan bangunan-bangunan di dekat pantai.

Setelah itu, bantuan darurat datang, nasi dan furikake (bumbu makanan asal Jepang) dari organisasi/pemerintah Jepang, dan disediakan hanya untuk anak-anak, yang sudah mulai menangis, menginginkan.

Di siang hari, Uyi kehilangan Umar (SD di Jepang kelas 4) anak pertama dari tiga putranya yang tinggal di Sendai, kemana dia pergi? Ia mencarinya, ternyata ia dapati anaknya (Umar) sedang mengantri sangat panjang berada di tengah-tengah orang Jepang.

Segera Uyi mengajak Umar untuk pulang ke tempat pengungsian, tak perlu mengantri karena lama dan melelahkan, mungkin sudah hampir 3 (tiga) jam dia berdiri. Tetapi dia tidak mau, dia suduh berjuang untuk mengantri dan tak mau meninggalkannya.

Tapi akhirnya dia mau ketika Uyi Sulaeman menggantikan posisi untuk antri membeli makanan di supermarket. Setelah sampai di ujung antrian, ternyata Uyi hanya mendapatkan satu batang cokelat dan satu botol softdrink, Alhamdulillah, dan dia berikan pada Umar, anaknya.

Uyi terkesan, walaupun ditimpa bencana, orang-orang Jepang sangat tertib. Mereka saling menolong dan saling memberi, yang sudah mendapatkan dua potong roti, dia berikan satu potong roti ke temannya yang sedang antri.

Tak lama kemudian ada bencana yang tak terduga, bangunan SMP tempat Uyi mengungsi kebakaran. Pemadam kebakaran datang dan sibuk menghentikan api yang terus menyala.

Semua pengungsi berkemas-kemas dan harus pindah dari tempat itu. Dan tak lama kemudian bantuan makanan datang dari Indonesia katanya dari PKPU, memberikan makanan mie instan, minuman dan berbagai hal yang diperlukan, setelah itu datang utusan dari KBRI Tokyo menawarkan untuk mengungsi ke Tokyo.

Akhirnya, Uyi dan semua dari Indonesia bersiap-siap dan dikoordinasikan oleh KBRI ke Tokyo. Mulanya ia berfikir akan tinggal di Tokyo untuk sementara, tapi karena kondisi yang tidak memungkinkan, akhirnya dirinya dipulangkan ke Indonesia, untuk sementara waktu atas perintah presiden (katanya).

Kerjasama Riset
Kerja sama riset antara Laboratorium Kimia Anorganik Unsoed dan laboratorium environmental inorganic material chemistry (Sato Lab.), Tohoku University terus berjalan sejak tahun 2012 sampai saat ini.

Setelah gempa hebat, Uyi Sulaeman tetap berkomunikasi dan berdikusi. Kerjasama itu terus terjalin, dengan melakukan riset bersama. Profesor diUniversitas Tohoku, Jepang (Prof. Tsugio Sato) mempersilahkan untuk melakukan penelitian di Laboratoriumnya. Di lab. tersebut, Uyi melakukan penelitian tentang material fotokatalis. Di Lab ini, disamping peralatan riset yang lengkap, juga informasi artikel ilmiah sangat mudah didapat. (Red)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.