Selasa, 28 Januari 20

Inilah Pengadilan yang Tidak Adil?

Inilah Pengadilan yang Tidak Adil?

Pengadilan yang Tidak Adil

Keluarga terdakwa pelaku kekerasan seksual di Jakarta International School (JIS) kontan menangis. Mereka berontak dan berteriak, menuding bahwa pengadilan berlaku tidak adil terhadap orang kecil. Ini terjadi setelah Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan (Jaksel), Senin (22/12), yang menyidangkan perkara mereka menjatuhkan vonis antara 7-8 tahun untuk kelima petugas kebersihan JIS. Tidak hanya keluarga terdakwa yang protes, pengacara terdakwa pun menyatakan akan banding ke Pengadilan Tinggi (PT) atas keputusan tersebut.

Memang keputusan ini lebih rendah dibanding tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang menuntut mereka 10 tahun penjara. Selain vonis hukuman penjara, para petugas kebersihan itu juga masih dikenai denda yang jumlahnya sangat tinggi untuk ukuran mereka. Peratanyaan dan persoalannya adalah mengapa para keluarga korban menuding pengadilan telah berlaku tidak adil? Hukuman menurut dalil hukum diberikan kepada seseorang yang dianggap bersalah adalah untuk memberikan efek jera. Dengan harapan yang bersangkutan tidak akan mengulangi lagi perbuatan serupa di lain waktu. Juga agar perbuatan itu tidak ditiru orang lain.

Dan tentu saja hakim maupun jaksa yang menyidangkan perkara tersebut asumsinya seperti itu, tetapi mengapa kemudian mereka dituding tidak adil? Ini terjadi karena kebetulan yang jadi tersangka adalah orang kecil, petugas kebersihan. Akan halnya yang menjadi korban adalah orang-orang kaya dan bukan mustahil punya kedudukan. Selain itu, baik jaksa maupun hakim yang menyidangkan perkara ini terkesan gagah berani, dan tanpa ragu melakukan tuntutan atau pun menjatuhkan vonis. Sehingga lengkaplah tudingan keluarga terdakwa terhadap para penegak hukum itu, bahwa mereka telah diperlakukan tidak adil.

Bicara tidak adil hukum di negeri sebenarnya sudah seringkali diteriakan banyak orang. Namun selama ini teriakan, sepertinya tinggal teriakan, tetapi hasilnya tetap mebuat kita harus mengelus dada. Lihat saja tingkah polah jaksa dan hakim, mereka terkesan hati-hati saat sidang, jika yang jadi terdakwa adalah mantan pejabat atau pun oknum politisi. Tidak hanya hati-hati, mereka juga terlihat takut-takut dan ragu-ragu menuntut maupun menjatuhkan vonis. Sehingga banyak para terdakwa kasus korupsi yang besarnya luar biasa tuntutan dan keputusannya mengecewakan publik. Karena itu tidak heran jika public mengatakan, bahwa pisau keadilan di negeri ini hanya tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas.

Juga wajar jika pembela terdakwa minta ada persidangan ulang atas kasus JIS tersebut. Dan desakan itu mungkin akan semakin kencang dan kuat, jika ternyata putusan hakim terhadap dua tersangka lain yang adalah para guru di sekolah elit tersebut berbeda atau lebih ringan. Mungkin bisa saja hal tersebut terjadi, karena terdakwanya adalah guru JIS dan orang asing. Berbeda dengan lima orang yang sudah divonis terlebih dahulu, mereka hanyalah orang-orang kecil yang mungkin tidak berarti. (Arief Turatno, wartawan senior/pengamat hukum)

 

Related posts