Selasa, 24 November 20

Pengacara Trump: Bantu Pilpres Curang, Direktur CIA Harus Dipecat!

Pengacara Trump: Bantu Pilpres Curang, Direktur CIA Harus Dipecat!
* Pengacara Trump, Sidney Powell. (Foto: ParsToday)

Salah seorang pengacara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Sidney Powell mengatakan direktur dinas intelijen pusat Amerika (CIA) harus dipecat karena mengabaikan peringatan tentang perangkat lunak yang digunakan dalam pemilu presiden (Pilpres) AS 2020.

Fars News (16/11/2020) melaporkan, Sidney Powell, Minggu (15/11) mengatakan, Direktur CIA, Gina Haspel harus dipecat karena membiarkan penggunaan software pemilu yang dituduh Trump, dan para pendukungnya, tanpa menunjukkan bukti, memungkinkan Joe Biden memenangkan pemilu dengan cara curang.
Seperti ditulis Newsweek, Powell menuturkan, ada sejumlah pelapor atau whistleblower yang mengatakan bahwa perangkat lunak Dominion Voting Systems digunakan untuk menghapus jutaan suara Trump.
Ia menambahkan, saya tidak bisa memahami mengapa Sidney Powell tetap berada di CIA. Ia harus segera dipecat.
Saat reporter meminta Powell menunjukkan bukti bahwa perangkat lunak tersebut bermasalah, ia mengaku tidak mungkin melakukan hal semacam ini di depan televisi.
Ia menegaskan, perangkat lunak ini bermasalah, dan nanti jika gugatan hukum berhasil dimenangkan, hasil pemilu presiden Amerika 2020 akan berubah.

Trump Tolak Menyerah!
Donald Trump berkeras dia tidak akan mengakui hasil pemilu AS, meskipun tampaknya—untuk kali pertama—mengakui bahwa pesaingnya, Joe Biden, memenangi pemilu.

“Dia menang karena pemilu dicurangi,” tulis kandidat petahana tersebut di Twitter, mengulangi klaim pemilu curang— tanpa menyebut bukti.

Kira-kira satu jam kemudian, dia mengatakan dia tidak mengakui hasil pemungutan suara pada 3 November.

Dia telah mengajukan banyak gugatan hukum di sejumlah negara bagian, tetapi belum memberikan bukti apa pun untuk mendukung klaimnya.

Semua gugatan hukumnya tak berhasil, sejauh ini.

Pada Jumat (13/11), pejabat pemilu mengatakan bahwa pemungutan suara adalah “paling aman dalam sejarah Amerika” dan “tidak ada bukti bahwa sistem pemungutan suara menghapus atau menghilangkan suara, mengubah suara, atau dengan cara apa pun yang dikompromikan”.

Sementara itu, Biden tetap menjadi presiden terpilih.

Partai Demokrat meraup 306 suara pada electoral college – sistem yang digunakan AS untuk memilih presidennya – yang jauh melebihi ambang batas 270 untuk menang.

Penghitungan ulang atau gugatan hukum apa pun, kemungkinan tidak akan membatalkan hasil keseluruhan.

Kemenangan Biden dalam pemilihan umum juga telah melampaui perolehan lima juta suara.

Namun demikian, Trump menolak untuk mengakui kemenangan Biden sampai sekarang.

Dalam konferensi pers Jumat (13/11), Trump mengatakan “siapa yang tahu” pemerintahan yang akan berkuasa di masa mendatang.

Penolakannya untuk menyerah telah meningkatkan kekhawatiran tentang kemampuan pemerintah AS ke depan untuk mengatasi tingkat infeksi Covid-19 yang meningkat. (ParsToday/BBC/Red)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.