Senin, 26 September 22

Penelitian NSEAS: Rakyat DKI Rugi di Bawah Kepemimpinan Ahok

Penelitian NSEAS: Rakyat DKI Rugi di Bawah Kepemimpinan Ahok
* Peneliti Network for South East Asian Studies (NSEAS) Prof Muchtar Effendi Harahap.

Jakarta, Obsessionnews.com – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta harus mampu bekerja untuk membangun kondisi kehidupan rakyat DKI lebih baik dan beruntung dibandingkan kondisi sebelumnya. Untuk mencapai keberuntungan dalam kehidupan rakyat DKI, salah satu syaratnya adalah terciptanya suatu kondisi di mana orang-orang mendapatkan kemudahan dalam berbuat baik dan memperoleh kehidupan lebih baik. Sementara itu bentuk-bentuk kezaliman menjadi musuh bersama bagi rakyat DKI.

Jika kondisi sebelumnya mendapatkan kemudahan lebih baik ketimbang kondisi sekarang, maka rakyat tersebut dalam kondisi kehidupan merugi. Bagaimana kondisi rakyat DKI di bawah kepemimpinan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dibandingkan dengan kondisi sebelum Ahok, yakni era kepemimpinan Gubernur Fauzie Bowo alias Foke?

“Kondisi kehidupan rakyat DKI merugi di bawah kepemimpinan Ahok,” kata peneliti Network for South East Asian Studies (NSEAS) Prof Muchtar Effendi Harahap dalam keterangan tertulisnya yang berjudul  Evaluasi Kepemimpinan Pemda DKI Jakarta, yang diterima Obsessionnews.com Sabtu (31/12/2016).

Muchtar memaparkan hasil penelitian yang dilakukan NSEAS menyebutkan angka pengangguran sebelum era Ahok di bawah rata-rata nasional, yakni 12-14%. Pada tahun 2009 angka pengangguran sebesar 12,15%, lalu menurun menjadi 11,05% (2010), 10,80%  (2011) dan 9,87 % (2012).

Sedangkan di era Ahok angka pengangguran menurun, tetapi masih di atas rata-rata nasional, yakni 9,02% pada tahun 2013, sedangkan rata- rata nasional 7,4%. Tahun 2014 angka pengangguran di DKI sebesar 8,47%, sedangkan pengangguran tinggkat nasional 7,2%. Lalu pada Februari 2015 angka pengangguran di DKI sebesar 8,36%, sedangkan angka pengangguran tingkat nasional 7,6%, sedangkan angka pengangguran di tingkat nasional

“Pengangguran di DKI Jakarta dan Provinsi Banten terbesar di Indonesia,” kata Muchtar.

Sementara itu, lanjutnya, jumlah orang miskin di era Ahok tinggi. Sebelum era Ahok terdapat  363,2 ribu orang miskin pada 2012, lalu di era Ahok meningkat menjadi 384,3 ribu orang pada 2016.

Program pembangunan yang dilaksanakan di bawah kepemimpinan Ahok selama ini ternyata tidak menghasilkan dampak positif atau outcome (manfaat) berarti bagi rakyat DKI. Kondisi kehidupan rakyat DKI merugi, salah satu argumentasi dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa Ahok telah gagal dan tidak layak kembali sebagai Gubernur DKI pasca Pilkada DKI 2017 mendatang,” tutur penulis buku Kami Melawan: Ahok Tak Layak Jadi Gubernur ini.

Menurutnya, ke depan rakyat DKI harus memiliki figur gubernur yang mampu membangun kondisi kehidupan lebih baik atau beruntung, bukan justru merugi. Hidup besok harus lebih baik ketimbang hari ini.

Ahok yang menjadi terdakwa penistaan agama maju sebagai calon gubernur DKI pada Pilkada 2017 lewat kendaraan PDI-P, Nasdem, Hanura, dan Golkar. Ia berduet dengan politisi PDI-P yang juga Wakil Gubenur petahana DKI Djarot Saiful Hidayat. Pasangan Ahok-Djarot bersaing dengan Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni dan Anies Baswedan-Saandiaga Uno. Agus-Sylvi diusung Partai Demokrat, PKS, PPP, dan PKS, sedangkan Anies-Sandi diusung Partai Gerindra dan PKS. (arh)

Baca Juga:

Ini Data Perilaku Ahok yang Rendahkan Umat Islam

Kaleidoskop 2016: “Kami Melawan: Ahok Tak Layak Jadi Gubernur”

Mengapa Ahok Harus Menang?

Hakim Tolak Eksepsi Ahok dalam Kasus Penistaan Agama

Demonstran Kecewa Ahok Belum Dipenjara

Jika Ahok Bebas, Parmusi Serukan Revolusi Konstitusional

Penggusuran, Komnas HAM Sebut Ahok Tak Anggap Warganya Manusia

Ahok Tak Mampu Atasi Merosotnya Pertumbuhan Ekonomi DKI

 

 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.