Minggu, 26 September 21

Peneliti : Minuman Ringan Berkarbonasi Tidak Rugikan Kesehatan

Peneliti : Minuman Ringan Berkarbonasi Tidak Rugikan Kesehatan

Imar

 

Jakarta – Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LPEM FEUI) menilai bahwa minuman ringan berkarbonasi (CSD) tidak berkontribusi dalam masalah kesehatan di Indonesia, sebab tingkat konsumsi CSD di Indonesia masih rendah, yaitu 2.37 liter per kapita.

 

“Minuman ringan berkarbonasi tidak berkontribusi dalam masalah kesehatan,” kata  peneliti LPEM FE UI, Dr. Eugenia Mardanugraha di Jakarta, Senin (22/4/2013).

 

Ia mengatakan, seluruh bahan-bahan yang terkandung dalam CSD sudah memenuhi peraturan persyaratan dan aman untuk dikonsumsi.

 

 “Proses produksi CSD oleh merek CSD internasional diawasi secara ketat dan telah memenuhi standar kualitas internasional dan standar halal,” ujarnya.

 

 Lebih lanjut Eugenia menambahkan, CSD tidak mengakibatkan obesitas karena kandungan kalorinya hanya 42kcal per 100g. Sementara roti dan telur masing-masing mengandung 239kcal dan 155kcal per 100g nya.

 

Selain itu, CSD juga tidak menyebabkan gangguan pencernaan maupun efek samping yang beracun. CSD hanya terdiri dari 24mg kafein per 250ml, lebih sedikit dibandingkan jumlah kafein yang terkandung dalam minuman kopi, yaitu 65-120mg kafein per 250ml. Kandungan air dalam CSD adalah sekitar 85% sampai dengan 99%.

 

“Oleh karena itu, anggapan selama ini yang mengatakan minuman ringan berkarbonasi berdampak negatif bagi kesehatan tidaklah benar,” ujarnya.

 

Sedangkan Ahli gizi dan pakar teknologi pangan, Prof. Made Astawan menjelaskan di era komunikasi modern sekarang ini, kita dapat dengan mudah menerima berbagai informasi seputar makanan dan minuman. Sayangnya tidak semuanya berlandas pada kajian atau fakta ilmiah yang benar. Sebagai pemerhati masalah nutrisi, dia selalu percaya bahwa tidak ada makanan/minuman tunggal yang buruk, yang ada hanyalah pola makan dan gaya hidup yang buruk.

 

“Janganlah menjadi buru-buru menyalahkan suatu jenis makanan atau minuman sebagai penyebab tunggal penyakit tubuh,” jelasnya.           

 

Ia melanjutkan, kita mengkonsumsi berbagai jenis makanan dan minuman setiap harinya. Setiap kalori darinya akan berpengaruh pada tubuh. Pada dasarnya semua jenis makanan dan minuman boleh kita nikmati, selama dengan kombinasi yang seimbang, wajar, dan didukung dengan aktivitas fisik yang cukup. “Inilah inti dari penerapan gaya hidup yang aktif dan sehat,” katanya.

 

Minuman bersoda mendapatkan gelembung udaranya ketika karbon dioksida dimasukkan ke dalamnya menggunakan tekanan tinggi. Gas tersebut kemudian terperangkap didalamnya dan baru terlepas keluar ketika kita membuka tutup botol tersebut.

 

“Itulah sebabnya mengapa minuman tersebut akan “menjadi datar” jika dibiarkan dalam keadaan terbuka terlalu lama setelah tutupnya dibuka,” papar Made.

 

Made mengatakan sebagian besar karbonasi yang ditelan saat meneguk minuman bersoda bahkan tidak sampai ke lambung karena sebagian besar gas karbon dioksida pada minuman bersoda akan terlepas keluar ketika botol minuman itu dibuka.

“Sebagian besar gas karbon dioksida pada minuman bersoda akan terlepas keluar ketika botol minuman itu terbuka,” ujarnya.

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.