Rabu, 22 September 21

Pendukungnya Marah Soeharto Dizalimi

Pendukungnya Marah Soeharto Dizalimi

Jakarta, Obsessionnews – Harapan itu berubah menjadi kemarahan. Semula para pendukung Soeharto berharap Presiden kedua Indonesia tersebut mendapat gelar pahlawan nasional. Tetapi ternyata Presiden Joko Widodo (Jokowi) tidak memenuhi keinginan para pendukung mantan penguasa Orde Baru (Orba) itu.

Di luar dugaan nama Soeharto tidak masuk dalam daftar lima tokoh yang yang diberi gelar pahlawan nasional oleh Presiden Jokowi di Istana Negara, Kamis (5/11/2015).

Adapun lima tokoh tersebut adalah Bernard Wilhem Lapian (alm), Mas Iman (alm), Komjen Pol Moehammad Jasin (alm), I Gusti Ngurah Made Agung (alm) dan Ki Bagus Hadikusumo (alm). Mereka dikukuhkan sebagai pahlawan nasional lewat Keputusan Presiden (Keppres) 116/TK Tahun 2015. Semua plakat tanda jasa dan penghargaan gelar pahlawan nasional diberikan oleh Presiden Jokowi kepada para ahli waris.

Gagalnya Soeharto mendapat gelar pahlawan nasional membuat murka para pendukungnya yang tergabung dalam organisasi kemasyarakatan (ormas) Himpunan Masyarakat Peduli Indonesia (HMPI). Ormas inilah yang mengusulkan Soeharto agar mendapat gelar pahlawan nasional. HMPI didirikan Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto, putra bungsu Soeharto, pada Juni 2015.

Ini untuk kedua kalinya mantan penguasa Orba selama32 tahun itu tak berhasil meraih gelar pahlawan nasional. Sebelumnya pada 2010 usulan Soeharto agar dianugerahi gelar pahlawan nasional ditolak oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Sekretaris Jenderal Majelis Nasional HMPI Tri Joko Susilo menuding pemerintahan Jokowi telah menzalimi Soeharto, karena tidak memberikan gelar pahlawan nasional.

“Soeharto sangat dizalimi oleh penguasa saat ini, karena terkesan tidak ada sedikit pun jasanya dihargai. Seakan-akan sejarah kepahlawanan Soeharto dibelokkan. Ini penzaliman dan pembodohan, tidak mau mengakui kepahlawanan pemimpin sebelumnya. Generasi kita saat ini dipaksa untuk melupakan sejarah,” kata pria yang akrab disapa Joko itu dengan nada tinggi kepada Obsessionnews.com, Minggu (8/11/2015).

Dia mengaku prihatin karena pemberian gelar pahlawan nasional dikaitkan dengan kepentingan politik.

“Coba perhatikan tokoh-tokoh yang dipilih tahun ini oleh Jokowi, ternyata keluarga mereka adalah tim sukses Jokowi pada Pilpres 2014,” ujarnya.

Menurutnya, Soeharto berandil besar dalam membangun bangsa ini. Misalnya, Soeharto telah membangun banyak masjid melalui Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila.

“Pemerintah durhaka pada Pak Harto karena tidak memberikan gelar pahlawan nasional,” ucapnya.

Joko menyayangkan para pendukung Soeharto yang kini dekat dengan Jokowi, tidak ikut memperjuangkan Soeharto mendapat gelar pahlawan nasional. Salah seorang di antaranya adalah mantan ajudan Soeharto yang pernah menjadi Panglima ABRI.

“Apa Jokowi dan presiden-presiden sebelum Jokowi takut memberi gelar pahlawan ke Pak Harto karena mereka akan kalah populer dengan Pak Harto? Masyarakat jadi ingat kalau Pak Harto lebih baik daripada presiden-presiden sebelumnya,” tuturnya.

Joko mengungkapkan empat alasan yang menjadi acuan Soeharto layak menjadi pahlawan nasional.

Pertama, Soeharto bertahan puluhan tahun karena memiliki ide yang terasa bagi masyarakat. Joko enjelaskan, ini pelajaran bagi kita bahwa menjadi suatu kelompok atau orang yang daya tahan atau eksisnya di mata masyarakat adalah sebesar apa idenya.

Menurutnya, kalau Pak Harto tidak punya ide dan pemikiran otentik, tak mungkin bertahan selama puluhan tahun. Pak Harto memiliki ide perubahan bagi negeri secara gradual atau bertahap, lewat Pelita I, Pelita II, sampai Pelita V  dengan ending swasembada. Periode sekian fokus pada pertanian, periode sekian lagi fokus pada insfrastruktur.

“Soeharto memiliki naratif intelejensi atau kemampuan menjabarkan idenya seperti istilah ‘jamu singset’ artinya jelas, mudah dicerna, singkat dan sederhana. Misal, lewat program imunisasi, dan itu sampai hal-hal detail diperhatikan, bukan pepesan kosong khas para pemikir yang tidak pernah bersentuhan dengan masyarakat secara nyata,” katanya.

Kedua, Soeharto bukan sosok yang berkarya dengan gaduh hingga Republik ini berhasil keluar dari posisi kemelut dan terseok-seok menjadi negara modern tidak lenggak-lenggok bak model di layar kaca.

“Dengan tangan dinginnya, dia bawa Republik ini dari kemelut tanpa banyak aksi pidato meledak-ledak tapi isinya khayalan-khayalan atau meledak-ledak soal revolusi mental. Padahal cuma menawarkan hiburan bagi rakyat yang mudah kagum seolah pemimpinnya siap bekerja dan bukan mewujudkan harapan. Ini pesan yang perlu kami tawarkan bahwa di pentas politik sekarang ‘kualitas barang harus lebih bagus daripada kualitas promosi,” tutur Joko.

Ketiga, pembangunan demokrasi di masa Soeharto lebih bagus daripada saat ini. Saat SDM lemah dan kemiskinan masih ada, negara harus fokus pada musyawarah mufakat bukan berdebat. Ia menjelaskan hal ketiga penting, karena orang memandang Soeharto hanya unggul di pembangunan, bukan demokrasi.

“Sekarang apa yang perlu dilakukan? Kita harus kembali pada spirit berkarya tanpa gaduh. Di saat masyarakat sejahtera, ideologi radikal dan komunis pun jadi pepesan kosong yang tak pernah masuk mendominasi pemikiran anak bangsa,” ucapnya.

Keempat, Indonesia dibangun sebagai karya akumulatif antar orde yang harus dilihat dengan lapang dada bagi generasi muda.

“Pak Harto telah meletakkan dasar-dasar fundamental negara ini. Tugas anak muda untuk mendalami apa yang sudah baik dibangun oleh beliau,” tandasnya.

Beberapa netizen juga mengecam Jokowi yang tidak memberikan gelar pahlawan nasional kepada Soeharto. Mereka menyuarakan isi hatinya di media sosial facebook dan twitter.

Seorang netizen bernama Suratni Djaya menulis status di faacebook,”Soeharto dihargai oleh dunia internasional. kejatuhannya memang sudah waktunya karena beliau sdh memerintah selama lebih dr 30 tahun namun itu juga karena intervensi asing yg takut Indonesia menjadi negara kuat. tapi bangsa Indonesua semua tahu bahwa pak Harto blm ada yg menandingi beliau. Presiden yg memerintah sesudah beliau tdk ada yg berhasil membangun negeri ini shg setara dg negara2 lain malah diakui sebagai macan Asia. Kalau SBY menolak Pak Harto sebagai Pahlawan Nasional itu wajar karena era reformasi yg baru pulih dr huru hara masih banyak yg mencari kambing hitam untuk dipersalahkan. Namun di setiap hati rakyat Indonesia mengakui bahwa pak Harto memang pejuang untuk rakyat Indonedia sejak zaman perang sampai masa membangun negeri ini. Semoga pemerintah yg menolak Soeharto srbagai Pahlawan Nasional akan segera tumbang ber keping2 dan tidak dihargai oleh siapapun juga.”

Di twitter netizen berakun @NasochiAchmad berkicau,”Jangan karena benci, demi kepentingan kalian lupakan jasanya, tak ada manusia yg sempurna.”

Sementara itu netizen lain yang berakun @Bagus_nfu berkicau,”Mau kayak gimana tetap enak masa beliau, apa2 murah, keamanan terjamin.” (Arif RH)

Baca juga:

Soeharto Layak Jadi Pahlawan Nasional

Soeharto Gagal Rebut Gelar Pahlawan Nasional

Sekjen Ormas Tommy: Pemerintah Durhaka Pada Pak Harto

Mengapa Soeharto Ditolak Jadi Pahlawan Nasional?

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.