Sabtu, 18 September 21

Pendiri HMI Dipromosikan Jadi Pahlawan Nasional

Pendiri HMI Dipromosikan Jadi Pahlawan Nasional

Jakarta, Obsessionnews – Para kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) beserta para alumni mendorong pemerintah ‎untuk menjadikan pendiri HMI Lafran Pane sebagai salah satu pahlawan nasional. Sebab, perjuangan dan pengabdian Lafran Pane terhadap gerakan mahasiswa dianggap layak disebut sebagai pahlawan.

Dalam rangka itu, Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) bekerjasama dengan alumni HMI di Yogyakarta ‎mengadakan seminar untuk mengingat dan mengkaji lagi perjuangan Lafran Pane. Seminar diadakan dua kali, pada 10 Nov 2015 di Universitas Islam Indonesia (UII), Jalan dan di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) pada 11 Nov 2015.

“Nama Pak Lafran Pane ini selalu muncul dalam tulisan tentang sejarah intelektual dan gerakan mahasiswa di Indonesia pascaproklamasi kemerdekaan, dengan seminar ini, masyarakat diharapkan lebih mengenal Pak Lafran, sebagai salah satu calon pahlawan nasional,” kata Ibrahim Ambong, ketua panitia seminar ini di Jakarta (09/11/2015).

Hadir sebagai narsumber pada seminar pertama, Prof. Dr. Nikmatul Huda, S.H, Drs. Syafaruddin Alwi, M.S, dan Hariqo Wibawa Satria, M.Si (Penulis Biografi Lafran Pane). Untuk seminar kedua, narasumbernya adalah Dr. Akbar Tanjung, Prof. Dochak Latief, dan Prof. Dr. Syafri Sairin.

“Hingga hari ini, semua narasumber dipastikan hadir, termasuk Bang Akbar Tandjung,” lanjut Ibrahim Ambong, mantan aktifis mahasiswa di Universitas Gajah Mada (UGM) Yogya ini.

Sementara itu, Lukman Hakiem penanggungjawab kegiatan ini di Yogyakarta menjelaskan bahwa UII dipilih, karena merupakan salah satu kampus tertua di Indonesia, disinilah Prof Lafran mendirikan Himpunan Mahasiswa Islam pada 5 Februari1947, sedangkan UNY adalah kampus tempat Prof Lafran Pane mengabdikan ilmunya sebagai ahli tata negara.

“lewat HMI, Lafran Pane ingin mahasiswa islam terlibat mempertahan kemerdekaan Indonesia,” ungkap Lukman Hakiem, mantan Ketua Umum HMI Cabang Yogyakarta.

Lafran Pane lahir 5 Februari 1922 di Kampung Pangurabaan, Sipirok, Padang Sidempuan, Sumatera Utara. Ia adik dari dua sejarawan dan sastrawan terkenal di Indonesia, yaitu Sanusi Pane dan Armijn Pane. Setelah Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, Lafran Pane bergabung dengan Perserikatan Mahasiswa Yogyakarta (PMY), salah satu organisasi mahasiswa pertama di Yogyakarta ketika itu.

Pada 5 Februari 1947, disebuah ruang kelas, Lafran Pane bersama teman-temannya mendirikan Himpunan Mahasiswa Islam dengan dua tujuan utama; mempertahankan Negara Republik Indonesia, dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia, serta menegakkan dan mengembangkan ajaran agama Islam.

Amanat terakhir yang diembannya adalah sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA). Dalam bukunya ”Sang Pelintas Batas” intelektual Djohan Effendi mengaku pernah diminta datang oleh Lafran Pane ke hotel tempat Lafran Pane menginap.

”Lafran Pane sebagai orang Yogya bingung, gajinya sebagai anggota DPA terlalu besar baginya, mau diapakan uang ini,” tulis Djohan. banyak kisah kesederhanaan Prof Lafran Pane.

Almarhum Nurcholish Madjid atau Cak Nur menuliskan bahwa HMI yang dirintis oleh Lafan Pane sejak 1946 mengatasi jurang pemisah antara mahasiswa ‘agama’ dan mahasiswa ‘umum’. Mayoritas mahasiswa Sekolah Tinggi Islam (STI) berasal dari madrasah-madrasah dan pesantren-pesantren, sehingga mereka mengetahui banyak hal tentang masalah keagamaan.

Sedangkan mahasiswa Universitas Gajah Mada (UGM), kebanyakan mahasiswanya berasal dari sekolah umum dan pada umumnya pengetahuan mereka tentang agama juga kurang. HMI kemudian menjadi pohon yang uratnya menghujam ke bumi dan cabang-cabangnya menjulang ke langit, memberikan buahnya setiap waktu dengan izin Tuhan. (Albar)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.