Senin, 27 September 21

Pemerintah Perlu Waspadai Lemahnya Nilai Rupiah

Pemerintah Perlu Waspadai Lemahnya Nilai Rupiah

Jakarta, Obsessionnews – Mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Halim Alamsyah menilai, kondisi ekonomi dan keuangan Indonesia terakhir ini ada tanda-tanda memprihatinkan. Meski keuangan dari sisi pembangunan ketahanan infrastruktur cukup bagus, namun belum terlihat ada perubahan secara besar-besaran.

Hal ini, menurutnya,  disebabkan kondisi barang di dalam dan luar negeri begitu parah tidak terkendali. Misalnya saja wilayah Kalimantan pertumbuhan ekonominya mencapai 1%, sedangkan Sumatera mines 53%.

“Jika dibandingkan pertumbuhan ekonomi pulau Jawa yang memiliki penduduk 250 juta jiwa baru mencapai 50% padahal biasanya mencapai 60-65%. Kalau hal ini tidak diatasi maka akan bahaya sebab perputaran ekonomi keuangan itu ada di Jawa,” ungkapnya kepada obsessionnews usai acara buka puasa bersama Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) di kediaman Akbar Tandjung, Jakarta, Jumat malam (19/6/2016).

Halim sendiri memprediksi tekanan rupiah akan terus bertambah kalau pemerintah terus menaikan suku bunga, kondisi ini disebabkan terjadinya nilai tukar rupiah melemah. “Kalau bulan depan Amerika belum mempastikan nilai suku bunga maka posisi rupiah akan terus melemah, hal ini juga disebabkan jumlah utang kita begitu banyak terutama utang kita dari swasta mencapai 300 miliar dolar,” paparnya.

Menurutnya, tekanan nilai rupiah faktor utama disebabkan dari luar dimana ketidak pastian Amerika dalam menetapkan suku bunga, sehingga berdampak pada nilai tukar pasar yang selalu menduga-duga. “Sebab kalau misalnya Amerika menaikan suku bunga itu, maka orang yang menaruh uangnya di Indonesia akan cenderung kembali ke Amerika dan jika keluar akan berakibat pada nilai rupiah yang akan terus tertekan,” pungkasnya.

Selain faktor dari luar, Halim juga mengatakan pengaruh menurunya nilai rupiah karena faktor dalam negeri juga. “Ini disebabkan pemerintah gagal dalam mengurangi devisit viskal, atau pemerintah dianggap tidak objektif dalam menerapkan kebijakan-kebijakannya,” cetusnya.

“Dalam setahun memproduksi barang di Indonesia hanya mencapai 60%, itu hanya untuk bayar utang saja. Saya pikir sudah ada tanda-tanda ekonomi kita mengalami tekanan, kita berharap pemerintah lebih gesit dalam membuat proyek-proyek yang sudah dijanjikan itu bisa dilaksankan,” harapnya. (Asma)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.