Jumat, 29 Oktober 21

Pemerintah Harus Buat Aturan E-Commerce

Pemerintah Harus Buat Aturan E-Commerce

Jakarta, Obsessionnews Seiring dengan majunya  industri perdagangan online atau e-commerce yang rawan terjadinya tindak kriminal, maka perlu dibuat aturan hukum oleh pemerintah.

“Internet itu merupakan dunia yang sangat luas dan terbuka. Siapa saja bisa mengunggah konten apa pun, termasuk konten negatif, dengan maksud merusak reputasi lawan,” ujar William Tanuwijaya, CEO Tokopedia, dalam keterangan tertulisnya yang diterima  Obsessionnews.com, Kamis (24/3/2016).

baca juga:

Neraca Perdagangan Surplus 10 Miliar Dollar AS

Perdagangan Organ Manusia, Kejahatan Terorganisir

UU Penjualan Organ Manusia Sama Dengan UU Perdagangan Orang

Salah satu peraturan yang bisa diadopsi pemerintah untuk melindungi pemain e-commerce di Indonesia adalah Safe Harbour Policy. Kebijakan ini awalnya dikeluarkan pada 1998 di Amerika Serikat (AS) untuk melindungi para pembuat platform berbasis digital di internet. Dengan kebijakan ini platform tersebut memiliki filter yang bisa mencegah user nakal menggunakan celah untuk melakukan kegiatan yang merusak.

William megatakan, beberapa waktu lalu masyarakat dikejutkan dengan adanya iklan penjualan bayi di salah satu toko online terkemuka di Indonesia. Masyarakat pun langsung bereaksi dan mengecam e-commerce tersebut yang kemudian harus berhadapan dengan hukum, baik hukum negara maupun hukum sosial.

Menurutnya, keberadaaan Safe Harbour Policy bisa melindungi pemain e-commerce dari kejadian tersebut. Sebagai contoh, apabila ada pengguna Facebook atau YouTube yang mengunggah konten yang mengganggu, yang mendapat sanksi harusnya si penggunggah.

“Demikian pula dengan kejadian penjualan bayi tersebut. Harus ditelusuri siapa yang mengunggah dan berikan sanksi kepada pengunggah tersebut. Bisa saja itu dilakukan oleh kompetitor,” ujar William.

Dia juga menekankan betapa pentingnya Safe Harbour Policy. Menurutnya, tanpa adanya Safe Harbour Policy, para pemain e-commerce Indonesia bisa melakukan persaingan tak sehat dan saling menghancurkan dan ujungnya justru melemahkan potensi e-commerce Indonesia.

Hal ini akan sangat disayangkan mengingat Indonesia diprediksi akan menjadi salah satu raksasa e-commerce di Asia Pasifik.

Nilai transaksi e-commerce di Indonesia pada 2015 tercatat mencapai US$3,56 miliar dengan jumlah konsumen mencapai 7,4 juta orang.  Tahun ini nilai transaksi e-commerce Indonesia diperkirakan naik menjadi US$4,89 miliar dengan konsumen mencapai 8,7 juta orang.

Meski kebijakan ini belum sepenuhnya hadir dan diberlakukan di Indonesia, William menambahkan hal tersebut sudah dilakukan di kalangan anggota asosiasi e-commerce Indonesia sebagai landasan operasi mereka. Mereka sadar pentingnya melindungi platform mereka dari kegiatan-kegiatan yang bersifat merusak dan terbukti efektif melindungi para pemain e-commerce di AS dan negara maju lainnya.

“Aturan-aturan yang ada di Tokopedia sudah menerapkan kebijakan ini karena telah terbukti efektif melindungi e-commerce di Amerika Serikat dan negara maju lainnya,” ujarnya.

Dia menambahkan bahwa dengan kepastian perlindungan dari pemerintah dalam bentuk peraturan atau kebijakan yang mendukung, maka akan bermunculan platform baru yang bisa memunculkan daya saing yang tinggi demi menjadi yang terbaik.

“Hal ini bisa mendorong lahirnya 1000 Google, 1000 YouTube, 1000 Wikipedia, dan yang terbaik yang akan menang. Wikipedia menjadi yang terbaik di konten ensiklopedia, YouTube menjadi yang terbaik di platform video konten, dan lain sebagainya,” paparnya.

Di sisi lain, peran user dalam mendukung Internet sehat dan positif pun tidak kalah pentingnya. “User yang merasa terganggu dengan konten yang diunggah user lain dapat melaporkan dengan tools yang disediakan oleh platform penyelenggaranya. Dan pihak platform wajib menanggapi dengan mem-banned atau memoderasi konten yang melanggar,” tegas William.

Gelar IESE
IDEA (Asosiasi E-Commerce Indonesia) dan Dyandra Promosindo akan menggelar Indonesia E-Commerce Summit & Expo (IESE) yang mengangkat tema The New Digital Energy of Asia, 27–29 April mendatang di Indonesia Convention Exhibition (ICE), BSD, Tangerang, Banten.

Sebagai forum pertemuan bergengsi para pemangku kepentingan industri, summit dan workshop selama 3 hari ini akan menampilkan 72 pembicara baik dari lokal maupun internasional. Antara lain Menteri Kominfo RI Rudiantara,  Menteri Perdagangan RI Thomas Lembong, Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf, Vice President SEA & India Google Rajan Anandan, Global CEO Nielsen Mitch Barns, Roger dan CEO & Co-Founder Redmart Egan.

Selain itu lebih dari 150 eksibitor yang bergerak di industri e-commerce. William Tanuwijaya juga akan hadir sebagai pembicara pada IESE Summit hari ketiga (29 April 2016). William dinobatkan sebagai Young Global Leaders (YGL) angkatan 2016 ini meneruskan tradisi pemimpin Indonesia di panggung dunia, setelah sebelumnya Thomas Lembong dan Anies Baswedan, terpilih masing-masing di tahun 2008 dan 2009. Hal tersebut sekaligus mengikuti jejak entrepreneur teknologi dunia, seperti Jack Ma (YGL 2005), Mark Zuckerberg (YGL 2009), Larry Page dan Sergey Brin (YGL 2011). (Reza Indrayana)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.