Jumat, 27 Mei 22

Pemerintah Dinilai Panik, Blokir Situs Islam

Pemerintah Dinilai Panik, Blokir Situs Islam
* Aksi Bela Islam mencatat fenomena baru, yakni munculnya kekuatan besar di dunia maya atau Muslim Mega-Cyber Army (MMCA).

Jakarta, Obsessionnews.com – Kasus penistaan agama Islam yang diduga dilakukan oleh Gubernur non aktif DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok membuat umat muslim murka. Calon gubernur DKI pada Pilkada 2017 yang beragama Kristen Prosten ini mencampuri  urusan agama lain. Dengan lancang dalam kampanye terselubung Ahok menyinggung Al-Quran surat Al Maidah ayat 51 dalam sebuah acara di Kepulauan Seribu, Selasa (27/9/2016). Ketika itu dalam kapasitasnya sebagai gubernur ia antara lain mengatakan,”… Jadi jangan percaya sama orang, kan bisa aja dalam hati kecil bapak ibu nggak bisa pilih saya, ya kan. Dibohongin pakai surat al Maidah 51, macem-macem itu. Itu hak bapak ibu, jadi bapak ibu perasaan nggak bisa pilih nih karena saya takut masuk neraka, dibodohin gitu ya..”

Gara-gara ucapannya tersebut, massa dari berbagai organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam yang tergabung dalam Gerakan Nasional  Pengawal Fatwa (GNPF) Majelis Ulama Indonesia (MUI) melancarkan demonstrasi menuntut Ahok ditangkap dan dipenjara.

Demo itu dikemas dengan nama Aksi Bela Islam (ABI). ABI  digelar pada Jumat (14/10) yang kemudian dikenal dengan sebutan aksi  1410 yang diikuti ribuan orang. Kemudian digelar ABI jilid 2 pada  Jumat (4/11) yang kemudian populer dengan sebutan aksi  411, dan jumlah pesertanya diperkirakan lebih dari 3,2 juta orang.  Selanjutnya GNPF MUI yang dimotori  Ketua Dewan Pembina GNPF MUI yang juga Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Syihab kembali menggelar ABI jilid 3 pada Jumat (2/12). Kali ini pesertanya jauh lebih banyak daripada aksi-aksi sebelumnya, yakni diperkirakan lebih dari 7,5 juta orang.

tito-rizieq-2
Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Syihab.

Para pengunjuk rasa memprotes lambannya proses hukum terhadap Ahok, karena  ia  diduga dilindungi oleh Presiden Jokowi.

Jurnalis senior yang juga konsultan media dan politik, Hersubeno Arief, dalam artikelnya berjudul  Muslim Mega-Cyber Army Versus Ahok Cyber Army di sebuah media online, Sabtu (10/12/2016), menulis ABI  mencatat fenomena baru,  yakni munculnya kekuatan besar di dunia maya  atau Muslim Mega-Cyber Army (MMCA). Mereka ini adalah pegiat sosial media yang berlatar belakang muslim perkotaan, terdidik dan sangat terkoneksi. Mereka termasuk jenis penduduk dunia yang disebut sebagai Native Digital.

Menurut Hersubeno, hasil kerja mereka sangat terasa, baik di dunia nyata, maupun dunia maya. Suksesnya ABI I,II dan III tak lepas dari peran mereka dalam menerobos berbagai “barikade’ yang dibangun penguasa dan aparat keamanan. Demikian pula halnya dalam Pilkada DKI.

Sementara itu Rizieq mengungkapkan munculnya  MMCA membuat pemerintahan Jokowi panik. Bos  FPI ini menilai pemerintah tidak mampu melawan kekuatan MMCA yang kompak. Menurutnya, karena tidak mampu menghadapi serangan MMCA  maka pemerintah memblokir situs  pejuang ABI, termasuk situs  habibrizieq.com.

“Ayo … Laskar Cyber dimana pun anda berada … serbu dan serang serta habisi semua SITUS ANTI ISLAM … !!! INILAH JIHAD KITA … !!!” tulis Rizieq di laman Facebooknya, Minggu (18/12).

Rizieq menceritakan pada  27 November 2016 tim cyber FPI menerima informasi akan adanya pemblokiran website pribadinya. Menurut sumber tersebut, instruksi pemblokiran langsung dari Kemkominfo.

Keesokan harinya, kabar pemblokiran langsung merebak ke seantero negeri. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Humas Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo), Noor Iza, akhirnya angkat bicara ketika didesak banyak pihak untuk menjelaskan. Ia membenarkan adanya pemblokiran ini. Pihaknya menuduh website Rizieq mengandung konten negatif.

Hari-hari berikutnya, satu persatu Internet Service Provider (ISP), perusahaan yang menyediakan jasa layanan koneksi akses internet, mulai menjalankan instruksi pemblokiran dari Kemkominfo. Hingga puncaknya, website benar-benar tidak bisa diakses. Tentu hal ini sangat disayangkan banyak pihak, khususnya di tengah era keterbukaan informasi.

Jika ditilik lebih lanjut, web habibrizieq.com tidak ditemukan konten pornografi, anjuran kekerasan, teror, fitnah, atau konten-konten negatif lainnya sebagaimana yang dituduhkan Kemkominfo. Semua kabar atau opini disajikan berdasar data akurat yang bisa dipertanggungjawabkan.

“Nampaknya, Kemkominfo lebih tertarik untuk memberangus web ulama yang kritis serta mencerahkan umat dibanding membersihkan ribuan web pornografi dan judi yang merajalela serta merusak generasi bangsa. Entah kenapa?” tulis Rizieq di laman Facebooknya.

Sebagian kalangan juga menilai aksi blokir web ini adalah bentuk pembungkaman rezim terhadap opini-opini kritis. Terlebih lagi Rizieq dinilai sukses memimpin jutaan massa saat ABI 411 dan 212. (arh)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.