Minggu, 28 November 21

Pembatasan Kepemilikan Senjata di AS

Pembatasan Kepemilikan Senjata di AS

Orlando – Asosiasi Nasional Senapan Amerika Serikat (NRA), lobi senjata terbesar di negara itu, telah menyetujui pemberlakuan batasan untuk penjualan senjata kepada orang yang diduga teroris.

Asosiasi tersebut merilis pernyataan dan menekankan, setiap orang yang namanya tercantum dalam list tersangka teroris dan ingin membeli senjata, maka sebelum membeli harus sepenuhnya diperiksa oleh polisi federal FBI, dan penjualan senjata kepadanya harus ditangguhkan sampai penyelelidikan tuntas.

Disebutkan pula bahwa jika penyelidikan menemukan bukti-bukti aksi teror atau keterlibatan dalam aktivitas teror, maka pemerintah Amerika Serikat dapat langsung melimpahkan masalah pembelian senjata itu kepada pengadilan.

Persertujuan NRA itu diumumkan setelah seorang teroris AS dalam serangan ke sebuah klub malam kelompok gay-lesbian di kota Orlando, Florida, menewaskan dan melukai lebih dari 100 orang.

Setelah insiden berdarah itu, media massa menyatakan bahwa nama Omar Matin, pelaku pembantaian massal Orlando, tercantum dalam list FBI soal para tersangka bekerjasama dengan teroris. Meski demikian, beberapa hari sebelum insiden, dia mampu membeli beberapa pucuk senjata otomatis. Dengan senjata tersebut, Matin melakukan aksi teror terbesar di Amerika Serikat pasca 11 September 2001.

Kebebasan warga Amerika Serikat untuk mengakses senjata sedemikian mudah sehingga para kriminal profesional, penyandang cacat mental dan teroris juga dapat memiliki senjata dan membunuh orang lain. Namun dalam beberapa tahun terakhir dan pasca upaya meluas pendukung pembatasan hak kepemilikan senjata, beberapa persyaratan harus dipenuhi ketika pembelian senjata.

Sebagai contoh, pembeli harus memenuhi formulir agar dapat ditelurusi catatan kriminalnya. Akan tetapi berulangkali proses penelusuran catatan kriminal itu tidak dilakukan secara mendalah dan pihak penjual kerap terburu-buru menjual senjatanya. Selain itu, perusahaan senjata kecil tidak harus mematuhi persyaratan tersebut sebagaimana yang ditentukan untuk perusahaan-perusahaan besar, dan dapat langsung menjual senjatanya kepada pembeli.

Oleh karena itu, senjata dapat jatuh ke tangan orang-orang berbahaya sebagaimana aksi penembakan yang terjadi di sekolah, universitas, sinema, klub malam, pusat perbelanjaan dan bahkan pangkalan militer AS.

Akan tetapi NRA kembali menekankan bahwa prinsip yang disebutkan dalam UUD AS bahwa “satu warga satu senjata” harus tetap berlanjut. Pertanyaannya, apakah pembatasan baru tersebut efektif dalam mencegah jatuhnya senjata ke tangan orang-orang yang tidak tepat? (ParsToday)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.