Jumat, 17 September 21

Pembantaian Muslim Rohingya Berlanjut di Rakhine

Myanmar – Genosida terhadap minoritas Muslim Rohingya di negara bagian Rakhine hingga kini terus berlanjut. Anggota parlemen Myanmar baru-baru ini menyerukan perubahan demografi dengan mengisi desa-desa di daerah Rakhine oleh mayoritas etnis negara ini selain Muslim Rohingya. Pada saat yang sama, minoritas Muslim Rohingya dipaksa meninggalkan wilayah itu mengungsi ke negara lain.

Kebanyakan Muslim Rohingya tinggal di negara bagian Rakhine yang terletak di wilayah barat Myanmar. Mereka tinggal di sana jauh sebelum Burma yang beralih nama menjadi Mynamar berdiri, tapi ironisnya hingga kini tidak diakui sebagai bagian dari etnis resmi yang diakui negara. Akibatnya persekusi terhadap Rohingya terus-menerus terjadi. Komunitas Muslim Rohingya telah menetap di Rakhine yang dahulu bernama Arakan selama ratusan tahun dan di sana juga pernah berdiri kesultanan Islam.

Gelombang tekanan terhadap minoritas Rohingya terjadi secara masif yang melibatkan aparat keamanan dan pejabat negara. Fenomena terbaru adalah statemen anggota parlemen negara ini untuk mengubah demografi Rakhine yang sebagian besar dihuni oleh minoritas Rohingya dan diisi oleh etnis mayoritas di negara ini.

Gelombang persekusi terhadap minoritas etnis Rohingya tidak pernah berhenti hingga kini. Sebelumnya, pada Oktober 2016 lalu, otoritas keamanan Myanmar melancarkan operasi militer dengan dalih memburu pelaku penyerangan tiga pos polisi di Rakhine. Human Rights Watch (HRW) memublikasikan sejumlah foto satelit yang memperlihatkan sekitar 820 struktur bangunan hancur antara 10 hingga 18 November 2016. Foto satelit ini menggambarkan adanya penghancuran 1.200 rumah di beberapa permukiman etnis Rohingya di Myanmar tahun lalu.

Di tahun 2012 terjadi aksi serupa yang menewaskan lebih dari 80 orang, dan menyulut pengungsian sekitar 20.000 orang Rohingya ke negara lain. Meskipun konflik tersebut juga menewaskan korban dari pihak warga Budha Rakhine, tapi Rohingya menjadi korban terbesar konflik sektarian tersebut.Tekanan publik internasional, terutama umat Islam dari berbagai penjuru dunia terhadap pemerintahan Mynamar, terutama penasehat negara sekaligus menlu Aung San Suu Kyi, menyebabkan Myanmar mengubah pola persekusi terhadap Rohingya dengan cara baru.

Kini mereka melakukan pengubahan demografi Rakhine dengan mendatangkan warga dari wilayah lain ke daerah ini.Masalah tersebut diakui sendiri oleh pejabat militer Myanmar . Jenderal Tan Hothat, deputi menteri urusan perbatasan Mynamar mengungkapkan program semacam transmigrasi dari daerah lain ke negara bagian Rakhine, termasuk di wilayah Buthidaung dan Maungdaw.

Berdasarkan program ini, etnis selain Rohingya diperbolehkan untuk menempati 36 desa di negara bagian Rakhine yang sebagian ditinggalkan oleh orang-orang Rohingya karena menghindari konflik yang terjadi di daerah tersebut. Kedua daerah tersebut termasuk tempat terjadinya serangan berdarah ekstrimis Budha terhadap minoritas Muslim Rohingya yang terjadi antara bulan Oktober 2016 hingga Februari 2016.

Dengan mempertimbangkan posisi penting Rakhine dari sisi pertanian, dan juga perdagangan, sejak enam dekade lalu, para ekstremis Budha yang didukung militer dan pejabat pemerintah daerah berupaya mengambilalih harta milik orang-orang Muslim di wilayah itu. Pengusiran dan serangan dilakukan demi mewujudkan tujuan tersebut. Meskipun demikian, Muslim Rohingya melakukan perlawanan terhadap genosida terhadap mereka yang terus berlanjut hingga kini. (ParsToday)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.