Jumat, 7 Oktober 22

Pembangunan Pulau Palsu untuk Permukiman Orang Cina

Pembangunan Pulau Palsu untuk Permukiman Orang Cina

Oleh: Muchtar Effendi Harahap, Peneliti Senior Network for South East Asian Studies (NSEAS), dan alumnus Program Pascasarjana Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, tahun 1986

 

Di bawah kondisi politik ekonomi Rezim Jokowi kian intens ke Cina, merebak isu pembangunan sejumlah pulau palsu di Teluk DKI Jakarta untuk permukiman orang Cina (RRC). Isu ini juga muncul bersamaan gelombang anti Ahok sebagai Gubernur dan penista agama Islam.

Kini di Teluk Jakarta sedang dibangun sejumlah pulau palsu/reklamasi. Proyek ini dipayungi Gubernur Ahok kini sudah jadi terpidana penista Islam dan dinonaktifkan. Pulau palsu/reklamasi ini menjadi isu politik terkait dengan rencana permukiman orang asing dari Cina, termasuk tenaga kerja Cina. Terdapat klaim publik, pembangunan sejumlah pulau palsu ini sebagai upaya untuk memindahkan rakyat Cina ke Indonesia dengan memberi permukiman dan perumahan. Gelombang rakyat Indonesia anti kebijakan pembangunan sejumlah pulau palsu ini semakin meningkat dan dinilai sebagai ancaman bagi kedaulatan dan kelanjutan NKRI.

Pulau palsu dibangun di Teluk Jakarta adalah pulau A-Q dengan 10 pengembang.Pulau palsu untuk kelas atas, bukan semua kelas. Harga properti paling rendah Rp3,77 miliar dengan luas bangunan 128 meter persegi dan tanah 90 meter persegi. Dengan harga setinggi ini, siapa sanggup membelinya? Semua unit rumah di proyek reklamasi diiklankan di Singapura, Taiwan, Hongkong, Macau, Beijing, dan kota-kota lain di Cina. Infonya semua unit sudah habis terjual kepada Cina Asing.

Isu pulau palsu kian hangat kembali sejak pasangan calon (paslon) Anies-Sandi dalam kampanye Pilgub DKI 2017 berjanji akan menghentikan program tersebut. Tapi, sehari setelah pemungutan suara dan paslon Anies-Sandi menang, langsung Menko Maritim Luhut Panjaitan menegaskan akan mengambil alih program itu dan diteruskan. Bahkan, diklaim jangan karena satu orang (Anies) program itu dihentikan. Juga menantang adu data ke publik. Reaksi publik cukup kencang melawan tantangan Menko Maritim ini.

Pada 16 Mei 2017 IRESS dan MPR mengadakan seminar “Stop Program Reklamasi Teluk Jakarta” dgn keynote speech M.Amien Rais (UGM). Pembicaranya antara lain  Muslim Muin (ITB), Sri Bintang Pamungkas (UI), Irvan Pulungan, M Ramli, Marwan Batubara (IREES), dan Hanafi Rais (Wakil Ketua Komisi I DPR). Pada prinsipnya seminar yang  dilaksanakan di Gedung MPR ini sepakat untuk menolak dan membatalkan program reklamasi/pulau palsu. Mereka menantang Menko Maritim untuk adu data tentang program pulau palsu/reklamasi ini. Sebagaimana Amien Rais tegaskan, jika data Tim Menko Maritim benar dan menang tanpa reklamasi DKI akan banjir, mereka terima dan ikuti. Tetapi, jika data Tim Amien Rais benar dan dengan reklamasi justru DKI akan banjir, maka program itu harus dihentikan.

Sementara itu  Hanafi Rais mengingatkan masalah reklamasi ini harus dilihat upaya penyerahan jalan laut ke Cina. Reklamasi ini adalah rekayasa politik, bukan semata rekayasa ekonomi. Langkah berikutnya Cina akan menggunakan jalur maritim ini menjadi jalur militernya.

Selanjutnya Presidium Musyawarah Rakyat Indonesia menegaskan reklamasi adalah makar dan penjajahan terhadap rakyat pribumi oleh Jokowi dan para konglomerat taipan untuk kolonisasi Cina di Komnas HAM. Pada 17 Mei 2017 mereka laporkan kasus ini ke Komnas HAM.

Rezim Jokowi perlu mengelola dan mengendalikan isu politik pulau palsu/reklamasi ini merembet ke isu tindak pidana korupsi reklamasi elite kekuasaan parpol penguasa. Jika isu korupsi merebak, maka dampak negatif besar akan melanda eksistensi kekuasaan rezim Jokowi itu sendiri. Gelombang suara kritis tentang  pembangunan pulau palsu ini adalah jika rezim Jokowi tidak cepat-cepat  menghentikan, bagaimanapun akan bergeser ke isu korupsi yang mengaitkan elite kekuasaan. Persoalannya bukan lagi masalah pulau palsu, tetapi pertarungan kekuasaan negara. (***)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.