Rabu, 29 Juni 22

Pembangunan Infrastruktur Jalan Layang Dihentikan, Apa Perlu?

Pembangunan Infrastruktur Jalan Layang Dihentikan, Apa Perlu?

Oleh: Jusman Syafii Djamal, Mantan Menteri Perhubungan RI

Ketika membaca statemen di atas, sebagai seorang insinyur penerbangan saya jadi bertanya, lantas industri dan kontraktor kontruksi bangunan bertingkat Indonesia bagaimana nasibnya? Pertanyaan ini diajukan ketika saya sedang diatas mobil menuju bandung. Di kiri jalan saya melihat kemajuan pekerjaan pembangunan infrastruktur LRT. Di kanan jalan juga berdiri tiang kokoh dari konstruksi jalan bertingkat. Pekerjaannya dari segi kualitas dan kerapihan sangat membanggakan.

Sebab memang ilmu Teknik bangunan sipil termasuk ilmu tertua bidang keinsinyuran di Indonesia. Juga industri konstruksi bangunan dengan mata rantai supply chain sub kontraktornya telah terbangun menjadi network keahlian yang patut diunggulkan. Keahlian insinyur sipil dan ahli kontraktor bangunan bertingkat Indonesia termasuk top rank di kawasan Asia

Kita mengenal jejak karya Insinyur Sukarno di Hotel Preanger, bangunan bertingkat zaman old. Begitu juga jejak karya Ir Rooseno dan Ir Sutami yang membangun bangunan konstruksi jalan layang pertama di Indonesia. Jembatan Semangi, Hotel Indonesia, Hotel Nusantara, Gedung Gelora Bung Karno adalah jejak keahlian insinyur Indonesia generasi tahun 60-an yang tak lapuk ditelan zaman.

Begitu juga jalan tol konstruksi cakar ayam, teknologi sosrobahu yang disegani oleh insinyur dan para ahli dunia. Ada juga jejak keahlian masa lalu tentang “space structure”, konstruksi yang menggantung di udara hanya dengan kombinasi clamp dan ball joint untuk atap bandara. Kubah mesjid dan juga hasil rekayasa rancang bangun Ir Wiratman ahli bangunan tahan gempa yang sudah almarhum, yang memimpikan pembangunan jembatan layang penghubung Jawa Sumatera.

Kecelakaan pembangunan jalan layang yang berturut turut terjadi memang menyedihkan dan perlu solusi. Tetapi sebab-sebab terjadinya kecelakaan belumlah terang benderang. Apakah karena salah desain, salah rancang bangun, salah tata cara konstruksi, atau sebab lainnya.

Di tahun 2007 ketika diminta menangani jumlah kecelakaan transportasi yang hampir setiap hari terjadi tahun 2006 di seluruh Indonesia, banyak tekanan publik yang meminta agar Kementerian Perhubungan untuk mencabut segala jenis izin. Baik angkutan darat, cabut izin operasi bis yang alami kecelakaan, izin operasi maskapai, izin pelayaran termasuk izin kereta api yang sering anjlok.

Akan tetapi pengalaman saya hampir lebih 20 tahun di industri penerbangan mengingatkan saya bahwa tidak mungkin ada perusahaan yang secara sengaja didirikan untuk membuat tragedi. Tidak mungkin ada bis, kereta api, kapal dan pesawat terbang yang dirancang secara sengaja untuk menjadi “moving coffin” atau peti mati bergerak mencari korban.

Accident should be managed properly. Tiap kecelakaan mengikuti hukum Murphy, if something goes wrong goes wrong. Jika segala sesuatu tidak ditempatkan pada rel atau jalan aktivitas yang seharusnya dilakukan dengan baik dan benar, benih kecelakaan yang tertidur dalam sistem akan bangkit tumbuh berkembang.

Kecelakaan tidak pernah muncul sebagai akibat dari satu sumber peristiwa. Ada rangkaian kejadian yang mendahuluinya.

Karena itu investigasi kecelakaan transportasi dan accident lainnya berbeda dengan investigasi peristiwa kriminal.

Penyelidikan kriminal arahnya selalu siapa yang harus dihukum, apa bukti baik berupa evidence maupun motif. TKP harus di sealed, tidak boleh ada benda di lokasi kejadian yang berpindah tempat dan digunakan. Segala jenis barang yang ada di lokasi TKP adalah barang bukti. Tutup TKP dan analisa.

Sementara penyelidikan kecelakaan punya metode berbeda. Science approach. Interview, lihat barang bukti analisa mata rantai melalui fault tree diagram bangun skenario tentang kemungkinan penyebab kecelakaan. Temukan alurnya mengapa accident terjadi. Apakah man made berupa error decision, kelalaian ikuti standard operating procedure, ketidaktelitian operasi di lapangan akibat kelelahan, penerangan yang tidak memadai di waktu malam, pekerja belum dapat makan dan sebab sebab lainnya untuk menemukan “clue” bukan untuk mencari Siapa yang salah.

Adagium KNKT atau Komite Nasional Keselamatan Transportasi National Transportation safety committee atau NTSC yang dilahirkan atas dasar gagasan Prof Oetarjo Diran, pendiri jurusan Teknologi Penerbangan yang kini sudah almarhum jelas sekali: investigasi kecelakaan bukan “blaming game”. Tidak untuk mencari siapa yang salah dan menjatuhkan hukuman atau efek jera. Melainkan untuk mencari akar masalah supaya peristiwa serupa tidak terjadi di masa depan.

Mengapa? Sebab life must go on. Aktivitas bisnis untuk menggerakkan roda ekonomi harus terus berjalan. Mengatasi krisis tidak boleh dilakukan dengan melahirkan krisis baru. Bisnis dan aktivitas ekonomi memerlukan jembatan udara berupa pesawat terbang, jembatan dan tol laut berupa kapal laut. Begitu juga kemacetan lalu lintas yang sudah menahun terjadi memerlukan konstruksi bangunan bertingkat.

Dan di Indonesia generasi muda insinyur kontruksi bangunan yang jauh lebih baik dan lebih pintar dari generasi 45, 60 dan 70 an banyak sekali. Every genius of his timesselalu datang dan pergi. Serahkan tiap pekerjaan dan tupoksi pada ahlinya.

Mohon Maaf jika food for thought ini ada yang keliru. Salam

 

(sumber: FB)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.