Kamis, 21 Maret 19

Pembangunan di Daerah Terpencil Terus Digarap 

Pembangunan di Daerah Terpencil Terus Digarap 
* Rumah Khusus (Rusus) Kampung Kehiran I, Kabupaten Jayapura, Papua. (Foto: Kementerian PUPR)

Jakarta, Obsessionnews.com  – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) tidak hanya membangun infrastruktur  di Pulau Jawa dan kota-kota besar saja, tetapi juga terus menggarap  pembangunan di daerah perbatasan, pulau terdepan dan terpencil. Salah satunya penyediaan hunian yang layak sebagai infrastruktur dasar bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang tinggal di kawasan perbatasan dan pulau terpencil di  Provinsi Papua melalui program Rumah Khusus (Rusus).

“Selain untuk MBR pembangunan Rusus di Papua juga untuk pemuka agama/adat, masyarakat yang terimbas konflik, petugas, tenaga pendidikan dan kesehatan yang bertugas di daerah perbatasan dan eks anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM),” kata Menteri PUPR Basuki Hadimuljono seperti dikutip obsessionnews.com dari situs Kementerian PUPR.

 

Baca juga:

Kementerian PUPR Bangun 164 Jembatan Gantung di 2015-2018

Kementerian PUPR Tingkatkan Bantuan Alat Berat ke Lombok

Kementerian PUPR Tunda Penerapan Transaksi Tol JORR, Ini Alasannya

FOTO BTN dan Kementerian PUPR Tandatangani Pembiayaan Pemilikan Rumah

 

Pembangunan Rusus mendapat sambutan hangat dari Bernard Sie. Penghuni Rusus di Kampung Skow, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, ini menuturkan, ia bahagia bisa tinggal di tanah kelahirannya di Papua dengan menempati rumah yang dibangun pemerintah. Rusus yang ditempatinya merupakan salah satu dari 50 unit Rusus yang dibangun Kementerian PUPR melalui Ditjen Penyediaan Perumahan pada tahun 2015.

“Saya bahagia karena pemerintah memberikan pelayanan untuk membuat kehidupan masyarakat lebih baik. Harus saya katakan pemerintah Indonesia salah satu yang terbaik dari banyak negara yang saya tahu,” kata pria yang tinggal bersama istri dan 8 orang anaknya itu.

Sementara itu Frans Wally, 48 tahun, Kepala Suku di Kampung Kehira, Kabupaten Jayapura menceritakan sebelum ada program Rusus, satu rumah dihuni oleh bapak ibu, anak hingga cucu. Dengan dibangunnya Rusus, anak yang sudah menikah harus pindah tidak lagi tinggal bersama orang tua.

“Secara ekonomi kami tidak bisa bangun rumah seperti ini. Tapi dengan adanya perhatian pemerintah dari pusat sampai daerah, mereka juga punya hati untuk rakyat, akhirnya kami bisa punya rumah seperti ini,” ucap Frans.

Rusus yang ditempati Frans adalah satu dari 50 Rusus yang dibangun di Kampung Kehiran I, Kabupaten Jayapura tahun 2016.

Pembangunan Rusus juga menyentuh Kampung Ariepi, Distrik Kosiwo, Kabupaten Kepulauan Yapen, Papua. Sebanyak 25 unit Rusus dibangun di daerah tersebut tahun 2017 dan sudah dihuni. Mantan Panglima Tentara Pembebasan Nasional (TPN) OPM Yapen Timur Kris Nussy yang telah mendeklarasikan integrasi pada 17 Agustus 2017 mengatakan, sebelumnya sebuah rumah dihuni oleh 2-3 keluarga sehingga sangat sempit.

“Saya sangat berterima kasih. Kalau boleh jangan pembangunan ini sampai putus. Maju terus di tahun 2019 dan 2020. Maju terus agar saudara-saudara kita yang belum mengerti bisa dapat. Tempat-tempat yang belum dibangun harus dibangun,” tandasnya.

Tahun 2018 pembangunan Rusus untuk masyarakat terpencil dan eks OPM di Yapen Timur dan Yapen Barat sebanyak total 24 unit.

Rusus yang dibangun Kementerian PUPR pada umumnya merupakan rumah tipe 36 yang telah dilengkapi meubelair dan prasarana sarana dan utilitas (PSU) seperti jalan lingkungan, drainase, listrik dan air. Kondisi tersebut diharapkan meningkatkan kenyamanan penghuni.

Secara nasional pembangunan Rusus oleh Kementerian PUPR periode 2015-2018 sebanyak 22.358 unit. Tahun 2019 pembangunan Rusus ditargetkan sebanyak 3.230 unit. (red/arh)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.