Senin, 26 Oktober 20

Pembangunan dan Kemacetan di Jakarta

Pembangunan dan Kemacetan di Jakarta
* Kemacetan di Jakarta semakin parah.

Kemacetan memang sudah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari Jakarta. Hampir setiap hari jalan-jalan di wilayah Jakarta tersendat karena macet. Umumnya kemacetan terjadi pada pagi hari dan sore hari.

Banyak hal yang menjadikan ibu kota ini terus dibayangi dengan kemacetan. Salah satunya adalah banyaknya kendaraan yang melebihi kapasitas jalan, atau tidak seimbangnya kebutuhan jalan dengan jumlah penduduk. Terlebih lagi jika tidak dibarengi dengan pengadaan transportasi umum yang baik.

Selain alasan tersebut kemacetan parah juga bisa terjadi karena pengaturan lampu lalu lintas yang bersifat kaku, dan tidak mengikuti tinggi rendahnya arus lalu lintas. Atau bisa jadi saat melewati pasar dengan segala aktivitas warga  terkadang sampai menggunakan bahu jalan untuk berdagang.

Di wilayah Jakarta Selatan, kemacetan parah yang selalu dijumpai adalah di sepanjang Jalan Raya Ciledug, tepatnya di sekitar Jalan Pasar Cipulir. Hhampir setiap hari terjadi penumpukan kendaraan di tempat ini yang jaraknya bisa mencapai 2 Km lebih.

Syiamuddin, yang akrab disapa Udin, warga Pesangrahan, mengatakan, kemacetan Jalan Raya Cilegug  sudah   terjadi sudah cukup lama, yakni sekitar awal tahun 2000, tepatnya pasca reformasi.

‎Pada waktu kerusuhan dan tumbangnya Orde Baru banyak warga Betawi yang mencari tempat lain, dengan memilih penghunian di daerah-daerah pinggir Jakarta. Akibatnya, kemacetan melebar tidak hanya di titik-titik pusat kota. ‎

Dengan luas 661,52 km² dan jumlah penduduknya yang mencapai  10.187.595 jiwa Jakarta memang sudah terlihat sangat padat. Tidak ada lagi tanah kosong dijumpai ditempat ini, karena dengan luas wilayah tersebut idealnya Jakarta hanya ditempati oleh jumlah penduduk sekitar 6.000.000 jiwa.

Maka wajar banyak orang mencari alternatif lain untuk tinggal di pingiran ibu kota, seperti di Depok, Tangerang, ataupun Bekasi. Hal itu yang kemudian dialami oleh Novi (30), warga Ciledug, Tangerang, yang memilih untuk tinggal di pinggiran karena Jakarta sudah sangat padat.‎

Novi  bekerja sebagai pegawai di salah satu bank swasta di Jakarta. Setiap hari dia harus melewati Jalan Raya Ciledug. Untuk sampai ke tempat kerjanya di daerah Sudirman, Jakarta Pusat, ia membutuhkan waktu 2 jam, bahkan terkadang lebih karena terjebak macet.

Kemacetan yang paling parah adalah saat melewati sepanjang Jalan Pasar Cipulir. Di samping jalannya yang kecil, kawasan ini juga selalu ramai dengan lalu lintas para pedagang, sekaligus banyaknya simpang jalan yang tidak menggunakan lampu lalu lintas.

Kondisi kemacetan di wilayah ini semakin parah, saat Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta membuat proyek pembangunan jalan layang non tol ‎dari Tendean ke Ciledug. Proyek yang sudah dimulai sejak 2014 ini belum juga rampung. Bahkan, kondisi jalan semakin rusak, karena sering di lalui kendaraan besar.

Proyek jalan layang non tol ini telah memakan setengah jalan utama, dan terjadi penyempitan jalan dari arah kanan maupun kira. Tidak heran, bila waktu pagi atau sore hari jarak 1 Km bisa dilalui lebih dari 1 jam. Serasa waktu untuk bekerja di Jakarta hanya habis di jalan.  ‎
‎‎
Selain macet, Cipulir setiap tahun juga terkenal dengan langanan banjir. Pasalnya, pasar ini di sampingnya mengalir sungai Pesangrahan yang berhulu di Bogor. Sewaktu-waktu pada musim hujan sungai ini bisa meluap sampai ke Pasar dan jalan raya.

Awal tahun 2014 Cipulir juga mempunyai nasib yang sama dengan daerah-daerah lain di Jakarta, yakni terkena banjir hampir setinggi 3 meter. Pasar ini sempat lumpuh, tidak ada aktivitas ekonomi selama tiga pekan karena tergenang air.

Sampai saat ini dampak banjir masih tempak terlihat jelas, dengan banyaknya ditemui jalan-jalan yang rusak, bergelombang bahkan berlubang. Hal itu jelas sangat mengganggu pengguna kendaraan yang melintasi kawasan Cipulir, karena sangat membahayakan sekaligus menambah kemacetan.‎

Bagi warga yang tinggl di Ciledug, dan setiap hari mempunyai aktivitas kerja di Jakarta, ada dua jalan yang bisa dijadikan alternatif lain yakni melewati Jalan Raya Joglo, atau melewati daerah Bintaro. Jalur-jalur ini relatif tidak begitu macet dibanding Jalan Raya Ciledug yang melewati Pasar Cipulir.

Memang, Jalan Raya Ciledug adalah jalan utama yang menghubungkan Kota Tangerang dengan Jakarta. Banyak angkutan umum yang melewati tempat ini diantaranya Metro Mini, Kopaja, Mikrolet yang jumlahnya mencapai ratusan dengan berbagai jurusan. Kemudian Bus besar seperti Bianglala, dan Mayangsari Bakti. Tak pelak Jalan Raya Ciledug setiap tahun semakin macet.

Terlebih dengan semakin meningkatnya pertumbuhan ekonomi di Jakarta, banyak penduduk daerah yang berbondong-bondong ingin mengadu nasib di Jakarta. Setiap tahun jumlahnya terus meningkat. Mereka datang dari segela penjuru Indonesia.

Kendaraan Pribadi ‎

Ketua Umum Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Danang Parikesit, mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi yang tinggi dengan sendirinya mengakibatkan pertumbuhan per kapita masyarakat Jakarta juga semakin tinggi. Kemampuan daya belinya juga semakin tinggi.

Dengan demikian, ujar Danang, masyarakat akan memilih kendaran pribadi untuk digunakan beraktifitas setiap hari. Dan Pemerintah sendiri seakan memberi ruang terbuka kepada perusahaan asing untuk membuka pasar otomotifnya secara luas dan bebas tanpa ada batasan. Akhirnya timbul menjadi masyarakat konsumtif.

Dalam kondisi tersebut lanjutnya, keadaan angkutan umum di Jakarta semakin buruk. Bahkan dari data yang diperoleh MTI, dalam kurun waktu 10 tahun ini, jumlah pengguna kendaraan umum  semakin menyusut dari 40 persen menjadi 14 persen setiap harinya.

Alasanya menurut Danang sangat simpel, masyarakat lebih senang mengunakan kendaraan pribadi dari pada naik kendaraan umum, “Jadi ada peralihan, masyarakat ini pengin bergerak cepat,” katanya.

Namun, jika terus dibiarkan menurut Danang Jakarta akan terus macet, karena jalan semakin penuh dengan kendaraan pribadi. Bahkan diprediksi beberapa tahun kedepan bisa jadi Jakarta lumbuh karena kendaraan tidak bisa jalan terkena macet.

Ia menjelaskan, dengan semakin sedikitnya pengguna kendaraan umum, maka secara tidak langsung nasib perusahaan angkutan umum semakin buruk, karena jumlah armada yang banyak, tidak dibarengi dengan jumlah penumpang yang semakin sedikit. Bahkan nyaris perusahaan angkutan umum banyak yang gulung tikar.

Tidak bisa dipungkiri, macet yang berkepanjangan akan memberikan dampak buruk di masyarakat. Salah satunya adalah Kerugian waktu, karena kecepatan perjalanan yang rendah. Pemborosan energi, karena pada kecepatan rendah konsumsi bahan bakar lebih rendah, kemudian yang paling berbahaya adalah polusi udara yang bisa menganggu kesehatan manusia. Dan yang terakhir menimbulkan stres. (Dewi Maisaroh, Jalan Haji Gedad, Peninggilan, Ciledug, Tangerang)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.