Minggu, 17 Oktober 21

Pelemahan Rupiah Adalah ‘Wake Up Call’

Pelemahan Rupiah Adalah ‘Wake Up Call’

Pelemahan Rupiah Adalah ‘Wake Up Call’
(Surat Rizal Ramli Kepada Jokowi)

Presiden Jokowi memang kurang beruntung. Warisan SBY berupa ‘Quatro Defisit’ (Defisit Perdagangan, Neraca Berjalan dan Pembayaran, dan Defisit Anggaran) masih akan terus menekan Rupiah.

Kurs Rp13.250/$ masih akan tertekan karena US$ yang terus menguat, kewajiban utang yang semakin besar, dan tidak adanya kebijakan jelas dan agresif untuk
membuat surplus perdagangan dan neraca berjalan.

Kita mendengar statement “asal-nyeplak” pejabat, kalau Rp melemah 100 Rp/$, negara untung Rp 2,3 triliun. Pernyataan ini, tidak  menyebutkan bahwa beban pembayaran utang juga akan semakin besar.

Juga pernyataan konyol Menko Sofyan: “Kecilnya kiriman TKI membuat Rupiah rapuh.” Atau pernyataan: “ekspor akan meningkat jika rupiah terus melemah.” Tetapi, kedua pernyataan itu tidak  menjelaskan, sebagian besar ekspor manufaktur Indonesia sangat padat impor (input, parts), sehingga manfaat pelemahan rupiah juga kecil. Sementara ekspor komoditas masih terkendala permintaan dunia yang melemah.

Anjloknya rupiah ini adalah sebuah wake up call untuk pemerintahan Jokowi. Tidak bisa hanya terus bicara soal-soal mikro (infrastruktur, proyek dan lain-lain), tapi juga harus canggih dalam merumuskan kebijakan dan berbicara tentang ekonomi makro. Jangan “asal nyeplak,” karena merusak kredibilitas di dalam maupun luar negeri.

Perlu disadari, defisit transaksi berjalan, sebagian besar dibiayai oleh aliran hot money (speculative inflows). Itulah yang menyebabkan mengapa BI sangat hati-hati. Penurunan bunga beberapa waktu lalu oleh BI yang 0,25%, cukup untuk menunjukkan bahwa BI tidak super monetaris. Jika penurunan tingkat bunga sangat besar,  akan membuat rupiah anjlok mendekati Rp14.000/$.

Sayang sekali, selama ini hanya BI yang fokus dalam stabilisasi kurs rupiah, peranan pemerintah nyaris tidak ada kecuali komentar-komentar asal-nyeplak dan konyol.

Mengelola makro ekonomi bagaikan pilot dengan banyak knop di panel kontrol. Salah pencet, bikin pesawat besar RI goyang bahkan bisa nyungsep seperti 1998.

Presiden Jokowi, ini adalah lampu kuning dan wake up call yang nyaring. Rapikan tim Anda, siapkan kebijakan makro yang jelas dan hentikan kebiasaan menteri-menteri untuk asal nyeplak.

*) Rizal Ramli adalah Ekonom Senior, Menteri Koordinator Perekonomian era Presiden Gus Dur, Tokoh Pergerakan Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) 1978.

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.