Selasa, 29 September 20

Pelecehan Seksual di Universitas di Inggris Bebas?

Pelecehan Seksual di Universitas di Inggris Bebas?
* Georgia, mahasiswi Newcastle University mengadukan kasus pelecehan seksual terhadapnya. (BBC)

Pelecehan seksual di universitas di Inggris ‘tidak teratasi’ karena prosedur yang lemah.

Tiga mahasiswi melapor bahwa mereka diperkosa – seorang di antaranya digigit hingga memar – oleh sesama mahasiswa dan para pelaku bisa melenggang bebas.

Penanganan kasus pemerkosaan dan pelecehan seksual oleh berbagai universitas kini dipertanyakan akibat lambatnya tindakan mereka. Berikut laporan yang dibuat oleh wartawan BBC Meghan Fisher.

Tanpa tindakan
Tahun 2019, ada 1.400 laporan pemerkosaan dan pelecehan seksual yang dicatat oleh berbagai universitas di Inggris.

Selama empat bulan BBC mencoba mencari tahu bagaimana tindakan universitas menangani hal itu.

Kepada BBC, dinyatakan bahwa tidak ada tindakan terhadap para pelaku, atau bahkan belum dikonfrontir sama sekali dengan tuduhan yang diajukan terhadap mereka.

Hal ini memicu terjadinya banyak protes terhadap pejabat di kampus-kampus yang menuntut adanya perubahan dalam mekanisme pelaporan pelecehan seksual, dan penanganan terhadap kasus-kasus yang dilaporkan.

Katie, Georgia dan Emma menceritakan pengalaman pahit mereka diperkosa, dilecehkan secara seksual dan tidak mendapat dukungan dari pihak kampus ketika mengadukan kasus mereka. (BBC)

 

Pengaduan
Georgia, 22 tahun asal Irlandia Utara, kuliah di Newcastle Univesity. Ia melaporkan pelecehan seksual yang dialaminya baik ke kampus maupun ke polisi. Namun pelakunya tidak ditindak apa-apa.

Menurutnya, ia sempat digerayangi oleh seorang mahasiswa, padahal ia sudah berkali-kali bilang supaya si mahasiswa berhenti.

Sampai akhirnya Georgia menangis, barulah si mahasiswa berhenti. “Butuh waktu lama agar ia berhenti,” kata Georgia.

Katie (bukan nama sebenarnya), mahasiswi University of Essex, mengaku ia diperkosa beberapa kali, dan pelakunya hingga kini masih bebas.

“Ia naik ke atas tubuh saya,” kata Katie bercerita soal pemerkosaan terhadapnya. “Memangnya Anda pikir saya ke sini mau apa? kata orang itu”.

Saat itu Katie sangat ketakutan karena pemerkosanya mahasiswa bertubuh besar dan berlaku kasar.

Hal sama terjadi pada Emma (bukan nama sebenarnya) juga dari University of Essex. Ia mengaku diperkosa, dan tak ada tindakan apapun terhadap pelakunya.

“Saat terbangun, badanku memar-memar,” katanya. “Saya bingung, apakah saya habis dirampok, dipukuli, atau ditabrak mobil?”

Ketiganya mengaku diperkosa dan dilecehkan oleh rekan mahasiswa.

Foto yang dijadikan bukti oleh Emma terkait serangan seksual terhadap dirinya. (BBC)

 

Kampus wajib bertindak
Sulit untuk dipastikan berapa dari keseluruhan serangan seksual dilakukan oleh mahasiswa. Namun dalam hampir dari 500 laporan, mahasiswa disebut sebagai pelakunya.

Hal ini penting, karena apabila mahasiswa pelakunya, maka kampus wajib bertindak, tidak tergantung pada diskresi mereka.

Namun beberapa mahasiwa menyatakan kepada BBC bahwa prosedur penanganan bisa berjalan sangat lama.

Apabila pihak kampus membentuk panel untuk menyelidiki, para anggota panel kerap sangat intimidatif.

Secara keseluruhan tidak ada sarana pendukung bagi pengadu. “Saya harus bercerita kepada tiga atau empat orang, karena alur kerja mereka tidak padu,” kata Georgia. “Setelah itu mereka tidak mengabarkan apa-apa lagi kepada saya”.

Pengalaman Emma dengan panel universitas tak jauh berbeda. “Saya berada di ruangan penuh pria. Rasanya saya seperti dipermalukan, karena mereka bertanya hal-hal pribadi,” katanya.

Tak ada sistem yang kuat
Jika mengacu pada statistik, tak semua universitas memiliki sistem yang cukup kuat untuk mencegah atau merespons pelecehan seksual.

Dengan ketiadaan panduan prosedur, maka para penyintas merasa tidak mendapatkan bantuan yang memadai ketika mereka mengadukan kasusnya ke pihak kampus. Mereka juga merasa tidak dipercaya.

Georgia mengaku ia merasa harus berjuang sendirian dan tak mendapat dukungan dari luar. Ia juga merasa sulit untuk menjalani terapi karena khawatir catatan terapinya bisa dipakai jika kasusnya dibawa ke pengadilan.

Sementara itu Katie mengaku ia ditanya oleh panel, berapa banyak alkohol yang ia minum saat peristiwa terjadi.

“Mana saya ingat?” katanya. “Kejadiannya sudah sembilan bulan lalu. Saya merasa seperti sedang diinterogasi”.

“Prosesnya sangat mengerikan,” kata Emma. “Rasanya saya ingin menangis saat pemeriksaan oleh panel itu selesai”.

“Saya merasa sendiran. Dan satu-satunya nasihat yang saya dapat dari pengawas di universitas adalah: ‘jangan sebutkan kasus-kasus lain'”.

Dijadikan sasaran
Menurut Georgia, polisi menghentikan kasusnya. Sementara ia tak pernah mendengar lagi dari pihak universitas.

Bagi Katie, ia juga merasa telah membuang-buang waktu dan tenaga membuat pengaduan.

Butuh sembilan bulan bagi pihak kampus untuk memproses pengaduan Katie. Menurut mereka “tidak cukup bukti”.

Sedangkan Katie harus menanggung akibat pengaduannya. Saat keluar malam hari, ia sering diusir oleh teman-teman si pelaku sambil diteriaki telah membuat pengaduan pemerkosaan palsu.

Dan ketika ia tahu hasil dari pemeriksaan panel, ia merasa tak mampu lagi meneruskan kuliahnya karena implikasi sosial dari perkembangan kasus ini. “Saya merasa dijadikan sasaran,” katanya.

Pada kasus Emma, dengan melihat bukti foto yang ia ajukan, universitas menyatakan bahwa setidaknya ada kekerasan terjadi pada tubuhnya.

Dibutuhkan waktu lima bulan bagi kampus untuk menangani pengaduan Emma, sebelum akhirnya diputuskan ‘tidak cukup bukti’.

Gunung es
Kasus-kasus ini merupakan gunung es dari yang ada di seluruh Inggris Raya, terutama yang tidak dilaporkan.

Banyak universitas mencoba memperbaiki prosedur penanganan pelecehan seksual, terutama dalam membantu korban, tetapi upaya ini masih tambal sulam.

Sebelum adanya upaya untuk bergabung secara nasional dalam membuat prosedur penanganan, maka kemajuan akan sulit didapat.

Di University of Essex, setelah setahun protes berjalan, pihak kampus akhirnya bekerja mengubah prosedur mereka.

Mereka bekerja sama dengan senat mahasiswa melakukan perubahan serta menerapkan kode dan standar perilaku mahasiswa serta pelatihan mengenai persetujuan dalam hubungan seks dan prosedur keamanan.

Sementara itu Newcastle University menyatakan: “Kami menangani semua tuduhan serangan seksual dengan sangat serius. Setiap penyintas bisa mendapat dukungan dari sexual violence liaison officer (SVLO)”.

“Kami menargetkan agar SVLO bisa menghubungi mereka yang butuh bantuan dalam waktu 48 jam. Jika butuh dukungan tambahan, kami akan menghubungi layanan yang relevan.

“Jika tuduhan ini disampaikan kepada tim Progress Mahasiswa, kami akan menyelidikinya sesuai dengan Prosedur Disiplin Mahasiswa”. (*/BBC)

Sumber: BBC Magazine

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.