Kamis, 23 September 21

Pelanggar Lockdown di Filipina Tewas Usai Dihukum Squat 300 Kali

Pelanggar Lockdown di Filipina Tewas Usai Dihukum Squat 300 Kali
* Filipina lakukan karantina ketat saat pandemi Covid-19. (Foto: Getty)

Seorang pria Filipina yang ketahuan melanggar aturan karantina meninggal dunia setelah dipaksa melakukan squat 300 kali oleh polisi sebagai hukuman, kata keluarganya.

Darren Manaog Penaredondo diberhentikan oleh petugas saat dalam perjalanan untuk membeli air setelah pukul 18:00 waktu setempat di provinsi Cavite pada Kamis (1/4/2021).

Dia pingsan keesokan harinya dan kemudian meninggal.

Provinsi Cavite, di pulau Luzon, sedang dalam karantina ketat untuk mengatasi penyebaran Covid-19.

Marlo Solero, kepala kepolisian General Trias City, mengatakan mengatakan tidak ada hukuman fisik bagi mereka yang melanggar aturan jam malam, hanya teguran dari petugas. Dia berkata kepada media lokal bahwa jika ada petugas yang diketahui memberikan hukuman itu, mereka tidak akan ditoleransi.

Seorang kerabat korban, Adrian Lucena, mengumumkan kematiannya di Facebook. Dia mengatakan Penaredondo dan beberapa orang lainnya yang ketahuan melanggar jam malam disuruh melakukan latihan squat 100 kali secara serentak bersama-sama.

Jika mereka gagal melakukannya pada saat yang sama, mereka harus mengulang set tersebut, katanya. Kelompok itu akhirnya melakukan squat 300 kali.

Penaredondo pulang pukul 06.00 pada Jumat pagi dalam keadaan sakit, kata saudaranya. Pasangan serumahnya mengatakan kepada media lokal Rappler bahwa pria itu kesulitan bergerak sepanjang hari.

“Sepanjang hari itu, dia susah berjalan, hanya bisa merangkak. Tetapi saya tidak menganggapnya serius karena dia bilang hanya nyeri biasa,” kata Reichelyn Balce.

Keesokan harinya dia pingsan dan berhenti bernapas. Balce meminta tetangga untuk membantu membangunkannya, tetapi dia dilaporkan meninggal tak lama kemudian.

Ony Ferrer, Walikota General Trias City, mengatakan dia telah memerintahkan kepala polisi untuk melakukan penyelidikan menyeluruh. Dia menyebut dugaan hukuman itu sebagai “penyiksaan”.

Ferrer menambahkan bahwa dia telah mengontak keluarga Penaredondo.

Awal bulan ini Human Rights Watch memperingatkan tentang penganiayaan terhadap pelanggar aturan di Filipina. Kelompok hak asasi itu mencontohkan dalam satu kasus, polisi dan pejabat setempat mengurung orang-orang di kandang anjing sementara yang lainnya dipaksa untuk berjemur di bawah sinar matahari terik pada tengah hari.

Dalam pidatonya di televisi pada hari Kamis, Presiden Rodrigo Duterte memperingatkan warga untuk tidak menentang aturan lockdown, dengan mengatakan: “Saya tidak akan ragu. Perintah saya kepada polisi dan militer, serta pejabat desa, jika ada masalah, atau saat terjadi kekerasan dan nyawa Anda dalam bahaya, tembak mati mereka.” (Red)

Sumber: BBC News

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.