Selasa, 30 November 21

Pelaku Kejahatan Terhadap Anak Pantas Dihukum Berat

Pelaku Kejahatan Terhadap Anak Pantas Dihukum Berat

Jakarta, Obsessionnews – Vonis  Majelis Hakim Pengadilan Negeri  Jakarta Selatan yang menghukum dua warga negara asing guru Jakarta International School (JIS) dalam kasus pelecehan seksual terhadap anak dengan pidana 10 tahun penjara patut diapresiasi.

“Namun jika dilihat dari ancaman hukuman maksimalnya di Pasal 82 UU Perlindungan Anak, yakni 15 tahun vonis Majelis Hakim kemarin masih kurang maksimal,” ungkap Anggota Komisi III DPR RI Sufmi Dasco Ahmad SH MH, Jumat (3/4/2015).

“Jika memang seluruh unsur dakwaan terbukti di persidangan, dan terdapat  alasan-alasan yang memberatkan seperti terdakwa tidak menyesali perbuatannya dan malah melakukan pembentukan opini yang menyesatkan, seharusnya Majelis Hakim tak perlu ragu untuk menjatuhkan hukuman terberat,” tandas Anggota Dewan Pembina DPP Partai Gerindra ini.

Ia mencontohkan di sejumlah negara seperti Jerman, Rusia  dan Korea Selatan, pengadilan telah menerapkan hukuman terberat bagi pelaku kejahatan seksual kepada anak, yakni mulai dari hukuman penjara seumur hidup hingga hukuman mati. “Di beberapa negara bagian Amerika Serikat pelaku kejahatan seksul terhadap dikenakan hukuman kebiri atau chemical castration,” tambahnya.

Menurutnya, kejahatan seksual terhadap anak adalah perkara pidana sangat serius yang harus kita perangi bersama. Mengingat korbannya yang merupakan masa depan bangsa, daya rusak kejahatan tersebut berada pada level yang sama dengan tindak pidana luar biasa lainnya  seperti  terorisme, korupsi dan narkotika.

“Negara dalam hal ini Pengadilan harus senantiasa memberi  peringatan yang keras   jika dalam melindungi anak-anak kita tidak akan main-main, hukuman berat  akan dijatuhkan kepada siapa pun yang tega melakukan kekerasan seksual terhadap anak,” tegas Dasco.

Terkait kasus JIS, menurut dia, hal selanjutnya yang harus kita perhatikan adalah agar seluruh pelaku kejahatan tersebut bisa terungkap dan mepertanggung-jawabkan perbuatannya, tidak terkecuali mereka yang dianggap lalai sehingga memungkinkan kejahatan tersebut terjadi dalam rentang waktu yang begitu lama.
Selain itu, lanjutnya, juga perlu diantisipasi kemungkinan adanya  ‘serangan balik’  dari para pelaku yang membangun opini sesat di media massa seolah mereka merupakan korban pemerasan dari para keluarga korban. “Tidak masuk akal ada keluarga yang melakukan pemerasan dengan menjadikan anak mereka sebagai bagian dari scenario,” tandas Anggota Komisi Hukum DPR ini.

Ia menduga, serangan balik dari pelaku sangat mungkin terjadi karena sebagian pelaku berasal dari kalangan yang secara ekonomi kuat. “Terbukti mereka mampu menyewa pengacara yang dikenal bertarif tinggi,” ungkapnya.

“Negara dan publik harus senantiasa memberikan dukungan kepada korban dan keluarga korban. Mereka tidak boleh kita biarkan berjuang sendiri dalam mencari keadilan!” serunya. (Asma)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.