Senin, 26 Oktober 20

Pelajaran dari Virus Corona

Pelajaran dari Virus Corona
* Shamsi Ali

Oleh: Shamsi Ali, Presiden Nusantara Foundation, New York, USA

Berdasarkan sudut pandang keyakinan teologis kami, kami percaya bahwa tidak ada yang terjadi dalam hidup tanpa makna dan pelajaran untuk dipelajari. Dan orang-orang berpengetahuan diperintahkan untuk merenungkan dan merenungkan setiap fenomena kehidupan kita.

Al-Quran memberi tahu kita: “Dan renungkan orang-orang yang berpengetahuan” (fa’tabiru yaa ulil albaab).

Allah SWT mengingatkan: “Apakah kamu pikir kami telah menciptakan kamu dengan sia-sia?”.

Dengan kata lain setiap ciptaan memiliki tujuan, termasuk pembuatan virus apa pun seperti Corona, baik diketahui oleh kita atau tidak diketahui. “Allah tahu dan kita tidak” (Quran).

Virus Corona mengajarkan banyak hal, seperti yang berikut:

Pertama, virus Corona mengajarkan kita tentang keterbatasan kita sendiri. Bahwa kita lemah dan tidak mampu melakukan banyak hal. Inilah saatnya untuk menyadari keberadaan Wujud yang Maha Kuasa dan tidak terbatas dalam segala hal. Siapa yang mampu dalam segala hal (wa huwa alaa kulli shaein Qadiir).

Kedua, virus Corona mengingatkan kita akan keterbatasan pengetahuan yang kita miliki, dan bahwa di atas semua yang memiliki pengetahuan ada yang Paling Tahu. “Dan kamu belum diberi pengetahuan kecuali sedikit” (Quran).

Allah juga berfirman: “wa fawqa kulli dzi ilmin Aliim” (di atas setiap yang berpengetahuan ada Siapa Dia yang Tahu) (Quran).

Ketiga, virus Corona mengajarkan kepada kita apa artinya menjadi Saudara dan Saudari. Solidaritas manusiawi kita diuji secara mendalam. Di saat krisis, Anda akan melihat hati, pikiran, dan karakter orang-orang di sekitar Anda. Bisakah kita bertindak lebih manusiawi di masa krisis ini? Bisakah kita menunjukkan lebih banyak cinta dan kasih sayang kita untuk semua?

Seperti yang dikatakan Yesus (saw) kepada kami: “dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri

Dan Muhammad (saw) memberi tahu kami: “cinta untuk orang lain apa yang Anda sukai untuk orang lain“.

Atau kita menjadi liar dan kebinatangan dalam perilaku dan tindakan kita? Cenderung memanipulasi misalnya harga barang pokok di saat krisis? Tuhan tahu!

Khususnya, virus Corona mengungkap perilaku nyata banyak politisi kita. Dalam masa krisis yang mendalam ini mereka masih memikirkan kepentingan pribadi / partai mereka atas orang-orang umum. Mereka dalam banyak hal berperilaku sebagai NATO (tidak ada tindakan, hanya bicara). Beberapa bahkan berbicara untuk membingungkan orang di sekitar.

Keempat, virus Corona mengajarkan kepada kita bahwa manusia, tidak peduli seberapa kuat dan mampu mereka, tidak dapat memiliki kendali penuh atas kehidupan mereka sendiri. Alam semesta ini berada di bawah satu kendali penuh. Dia adalah “As-Somad” (Mandiri dan Mandiri). Pegang Dia. Sambil mengambil semua langkah yang diperlukan untuk melawan makhluk ini, andalkan sepenuhnya pada-Nya.

Al-Quran mengingatkan: “dan siapa yang pernah mengandalkan Allah, Dia cukup baginya“.

Kelima, virus Corona mengajarkan kita misteri masa depan kita. Bahwa tidak ada yang bisa memprediksi apa yang akan terjadi besok. Begitu jalani hidup Anda dengan penuh keyakinan. Lakukan yang terbaik dan biarkan Tuhan melakukan sisanya. Damai dan percaya diri hanya dapat dicapai dengan “unta dasi dan percaya Tuhanmu untuk sisanya”.

Al-Quran mengingatkan kita: “dan tidak ada orang yang tahu apa yang akan dia lakukan pada hari berikutnya” (wa laa tadrii nafsun maa qaddmaat li ghodin).

Keenam, virus Corona juga mengajarkan kita untuk selalu mengantisipasi masa depan kita, untuk yang terbaik dari yang terburuk. Corona dan virus lain mengajari kita bahwa kita perlu bersiap ketika pandemi semacam itu terjadi. Negara terkaya di dunia, Amerika Serikat, adalah bukti nyata bagaimana negara-negara tidak siap sebagian besar waktu untuk hal terburuk terjadi. Di bidang medis saja negara adikuasa ini adalah sebuah kegagalan.

Al-Quran mengingatkan: “dan setiap jiwa akan melihat apa yang bisa dia lakukan untuk masa depannya” (wal tanzhur kullu nafsin maa qaddamat lighidin “.

Ketujuh, virus Corona mengajarkan umat secara global untuk bersatu dan belajar untuk menyetujui masalah paling penting dari komunitas kita: memerangi virus. Saya telah melihat hampir semua cendekiawan Muslim setuju bahwa menangguhkan sementara waktu sholat berjamaah kami di masjid dibenarkan oleh Syariah kami. Pertanda bagus. Jika umat ini dapat mempersatukan diri untuk melawan makhluk kecil yang kita anggap musuh bersama, mengapa kita tidak bisa bersatu untuk musuh yang lebih besar seperti kemiskinan, ketidaktahuan dan perpecahan itu sendiri?

Allah mengingatkan kita: “Peganglah semua untuk Tali Allah dan pisahkan dirimu tidak“.

Delapan, virus Corona juga mengajarkan kita tentang realitas dunia tempat kita hidup. Dunia kita sangat saling terkait. Tidak ada satu bangsa pun yang bisa bertahan tanpa yang lain. Pilihan kita di depan kita hanya satu: “Kemitraan Global”.

Al-Quran mengingatkan: “Wahai manusia, Kami menciptakan kamu dari satu laki-laki dan perempuan, dan membuat kamu untuk bangsa dan suku sehingga kamu bisa saling mengenal (ta’aruf)“.

Ta’aruf berarti: membangun rasa peduli, komitmen untuk berbagi, dan kemauan politik untuk membangun kemitraan global dengan seluruh keluarga manusia. Dan nasionalisme itu bukan pilihan. Dan “kebanggaan berorientasi nasional” yang ekstrem dapat membawa kita ke pandemi global dan kehancuran manusia.

Jamaica Hills, 26 Maret 2020

Salam semua iblis, di sana-sini!

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.