Selasa, 15 Oktober 19

Pejabat yang Jujur dan Pejuang Itu Telah Tiada!

Pejabat yang Jujur dan Pejuang Itu Telah Tiada!
* Sutopo Purwo Nugroho

Mengharukan, perjuangan Dr Sutopo Purwo Nugroho MSi, APU yang tak kenal lelah terus menjalankan tugas beratnya meski harus melawan serangan penyakit kanker yang menggerogoti tubuhnya. Kita berduka! Sang pejabat yang dikenal jujur dan pejuang ini telah tiada, kembali kepada Yang Maha Kuasa.

Sebagai Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho dikenang pekerja keras, menomorduakan kepentingan pribadi. Bahkan, Kepala Letjen TNI Doni Monardo menilai Sutopo sebagai pahlawan kemanusiaan, yang tetap melayani publik walaupun dalam keadaan sakit dengan semangat kerja dan pengabdian yang luar biasa.

Kabar meniggalnya Sutopo pertama kali diumumkan oleh akun Twitter resmi Direktorat Pengurangan Risiko Bencana (PRB) BNPB, Minggu (7/7/2019). Disebutkan bahwa Sutopo meninggal dunia pada pukul 2 dini hari waktu Guangzhou, atau pukul satu dini hari waktu Jakarta.

Kabar tersebut juga disampaikan putranya, Muhammad Ivanka Rizaldy melalui Instagram pada Minggu dini hari. Ia meminta para sahabat dan keluarga untuk memaafkan semua kesalahan mendiang, dan mendoakannya.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat BNPB, Rita Rosita, mengatakan kondisi Sutopo menurun sejak tiga hari terakhir. “Terakhir kali itu info yang saya dapat dari istrinya beliau susah tidur, dan sudah dikasih obat tidur tetap tidak bisa; dan ada kondisi sesak nafas,” kata Rita kepada BBC News.

Pada 15 Juni lalu, Sutopo berangkat ke Guangzhou untuk berobat setelah kanker paru yang dideritanya “telah menyebar di banyak tulang dan organ tubuh lain”. Ia meminta maaf kepada warganet karena tidak bisa menyampaikan informasi tentang bencana dalam satu bulan ke depan. Menurut Rita, sebelum berangkat, Sutopo memberi amanat supaya pekerjaan di Pusat Data, Informasi, dan Humas (Pusdatinmas) ditangani oleh para pejabat eselon tiga.

Berdasarkan informasi yang diterima para staf BNPB, Sutopo akan dimakamkan di Boyolali, Jawa Tengah. Prosesi pemakaman akan dihadiri Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat. “Itu sebagai bagian dari penghormatan kami kepada beliau,” kata Rita.

Acara spesial Sutopo Purwo Nugroho. (Uploaded by TNI AD) :

Kenangan Menyedihkan
Berpenampilan sabar tapi energik, Sutopo tidak pernah mengenal lelah dalam menjalankan tugasnya. Bahkan, Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (Kapusdatin-Humas BNPB) ini selalu meladeni setiap pertanyaan wartawan yang menghubunginya. Bahkan setiap ada bencana ataupun pencegahan, Sutopo rajin dan sering memberikan informasi baik melalui media sosial (medsos) maupun berbentuk rilis (siaran pers). Lulusan Fakultas Geografi UGM ini juga rajin sambangi daerah yang terdampak bencana alam di seluruh Indonesia.

Pria kelahiran Boyolali, 7 Oktober 1969 ini tetap semangat dalam bekerja melaksanakan tugasnya, meski sebenarnya mengidap penyakit berat. Namun, dalam berkerja nampak seperti sehat dan selalu sigap. Pada Januari 2018, Sutopo mengecek kesehatan ke dokter spesialis paru-paru. Hati Sutopo berasa hancur ketika dokter memvonisnya mengidap kanker paru-paru stadium 4B. Ia mengaku terkejut bukan main. Padahal, Sutopo bukan perokok dan bergaya hidup sehat, tapi kanker paru tiba-tiba hinggap di tubuhnya. “Ketika saya divonis, istri saya kena (serangan) jantung. Saya kasihan juga,” ungkap Sutopo sembari mengaku kerap kali menangis jika ingat buah hatinya.

Sutopo lahir dan hidup jauh dari berkecukupan.Ia pernah tinggal di rumah kontrakan yang dindingnya terbuat dari anyaman bambu dan sudah banyak berlubang. Lantainya pun masih tanah. Kalau musim hujan datang, laron berdatangan dari lubang-lubang tanah rumahnya. “Kalau musim hujan, dari dalam lantai keluar laron banyak. Kami ambil, kami goreng untuk makan,” kenang Sutopo. Akibat kehidupan ekonomi mepet, Sutopo pun pernah terpaksa makan laron. Bagi dia dan keluarga, makan telur adalah sebuah kemewahan. Ia baru bisa makan telur ketika Lebaran.

Karena kondisi keluarganya yang serba kekurangan, Sutopo kecil kerap kali dirundung teman-teman sebayanya, bahkan disingkirkan dari pergaulan. Namun, Sutopo akhirnya tumbuh menjadi anak muda berprestasi. Beragam predikat dia dapat, mulai dari mahasiswa teladan, juara lomba tingkat nasional, mahasiswa berprestasi, hingga lulus dengan predikat cumlaude dan sarjana termuda. Sutopo mengawali karier di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), kemudian bertugas di BNPB sejak 2010. Awalnya, dia menjabat Direktur Pengurangan Risiko Bencana.

Sutopo, kerap dipanggil dengan “Pak Topo”, dikenal akrab dengan para awak media. (BBC)

 

Sutopo dikenal sebagai sosok yang jujur dan apa adanya. Ia selalu menyampaikan data dan fakta apa adanya, tanpa dikurangi, apalagi dilebihkan. Akibatnya, ia sering dimaki dan dihujat orang, bahkan diancam. “Pernah juga saya bikin rilis bencana nasional, yang menghujat banyak sekali. Ada yang bilang, pengkhianat kamu Sutopo, mati kamu!” kata Sutopo. Belum lagi ada pihak yang kerap menegurnya lantaran menyampaikan data yang terlalu detail. Bagi dia, kejujuran kepada publik adalah kunci. Ia selalu menyampaikan fakta, tanpa mau menutup-nutupi apalagi membohongi.

Sebagai Kapusdatin Humas BNPB, Sutopo selalu memberikan informasi saat bencana terjadi di Indonesia, serta rajin mengirimkan rilis pers ke banyak kontak yang mayoritas adalah wartawan. Apa pun yang jadi pertanyaan wartawan, dia jawab. Dedikasinya untuk negeri terlihat tak kenal lelah. Padahal, tubuhnya kini digerogoti kanker paru-paru stadium 4B. Lulusan sarjana termuda predikat cumlaude S1 Fakultas Geografi UGM ini menyelesaikan S2 Program Studi Pengelolaan DAS IPB serta S3 Program Studi Pengelolaan SDA dan Lingkungan IPB. Baru usia 49 tahun sudah meraih golongan IV/e.

Sutopo mendapat 11 penghargaan sepanjang 2018 diantaranya dinobatkan sebagai Communicator of the Year 2018 dari Kominfo dan ISKI pada 16 Oktober 2018, serta meraih The First Responders dari media The Straits Times Singapura pada 29 November 2018, dan menyandang predikat ASN Paling Inspiratif di ajang Anugrah ASN 2018 yang yang digelar Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. Sutopo juga menerima penghargaan The Most Inspirational ASN 2018.

Hal menyedihkan, Sutopo ‘gagal’ menjadi profesor riset bidang hidrologi. Pada November 2012 Sutopo hendak lakukan orasi profesor riset, semua berkas dan administrasinya sudah disetujui oleh pihak Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dan SK dirinya sebagai peneliti utama sudah ditandatangani Presiden SBY. Namun, satu bulan sebelum orasi, tiba-tiba dibatalkan oleh LIPI hanya karena Sutopo menjabat Kapusdatin-Humas di BNPB yang bukan lembaga riset. “Padahal, status saya saat itu peneliti BPPT yang diperbantukan di BNPB. Hanya gara-gara soal pasal karet ditafsirkan pejabat LIPI akhirnya dibatalkan,” keluh Sutopo. (Red)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.