Minggu, 2 Oktober 22

Pedagang Kue di Masa Pandemi Corona: Kalau Begini Terus, Usaha Saya Bisa Tutup

Pedagang Kue di Masa Pandemi Corona: Kalau Begini Terus, Usaha Saya Bisa Tutup
* Khairiri (46), pedagang kue bolu susu khas Bandung di bilangan Duren Tiga, Jakarta Selatan. (Foto: dok BRI)

Jakarta, Obsessionnews.com — Wabah virus Corona, Covid-19 memberi dampak pada lesunya kegiatan usaha UMKM. Salah satunya dirasakan oleh Khairiri (46), selaku pedagang kue bolu susu khas Bandung di bilangan Duren Tiga, Jakarta Selatan.

Ia mengatakan sejak adanya penyebaran virus Corona di Jakarta, usaha dagangan kue Bolu Susu Lembang miliknya terus mengalami penurunan. Saat ini pendapatannya menurun sebesar 70% karena pelanggan menjadi berkurang imbas dari sepinya aktivitas masyarakat karena wabah Corona.

Padahal sebelum pandemi COVID-19 merebak, Khairiri biasanya mengantongi pendapatan sebesar Rp 8 juta per bulan.

“Pelanggan berkurang, jalanan juga sepi apalagi orang tidak ada yang lewat. Namun saya juga melayani pembelian melalui online, jadi ada lah yang beli lewat online, meski tidak seramai hari-hari biasanya,” ujar Khairiri dalam keterangan tertulis yang diterima obsessionnews, Rabu (15/4/2020).

Bapak dari empat orang anak ini mengaku khawatir usahanya semakin berat, bahkan bisa tutup apabila situasi pandemi COVID-19 ini berlangsung lama. Hal itu berefek terhadap pemenuhan kebutuhan keluarganya.

Ia mulai memutar otak agar usahanya tetap berjalan. Khairiri mengurangi belanja kue bolu susu yang biasanya dibeli dari agen di Lembang, Bandung. Biasanya sekali belanja membeli sekitar 50-60 boks dan dagangan tersebut habis terjual dalam dua hari. Sementara saat ini, dia hanya dapat membeli sekitar 27 boks dan baru habis terjual dalam 3 hari.

“Kalau kondisi seperti ini terus usaha saya bisa tutup. Kalau empat bulan atau delapan bulan ya masih bisa kita penuhi (kebutuhan), tapi kalau sudah sampai setahun mungkin ya berat,” ujarnya.

Ajukan Keringanan Kredit

Pada suatu hari, Ia menyaksikan pernyataan Presiden Jokowi dalam televisi yang bilang kalau pemerintah akan memberikan relaksasi selama satu tahun bagi pelaku UMKM yang usahanya terkena dampak pandemi virus Corona.

“Akhirnya saya dihubungi pihak BRI dan dibilang angsuran saya belum masuk. Saya sampaikan mungkin telat (angsuran) bulan (Maret) ini karena (jualan) sepi banget,” ungkap Khairiri.

Khariri akhirnya memutuskan berkonsultasi dengan pihak BRI untuk melakukan pengajuan keringanan kredit. Khairiri yang sudah 3 tahun menjadi nasabah BRI ini juga melengkapi berkas pengajuan untuk mendapatkan relaksasi tersebut. Menurutnya, prosedur relaksasi yang dilakukan sangat mudah dan ringan.

“Kalau BRI Alhamdullilah sudah menjadi langganan, pinjaman BRI sangat membantu tidak terlalu memberatkan,” tukas Khairiri.

Berkat relaksasi yang digulirkan BRI atas kebijakan pemerintah dan regulator, Khairiri bersyukur karena pada bulan Maret lalu pinjamannya direstrukturisasi, dengan keringanan selama 6 bulan. Dia cukup hanya membayar bunga pinjaman saja, tanpa harus menyetor angsuran pokok.

“Keringanan yang dikasih BRI ya kalau tidak bisa setor pokok dan bunganya, jadi (cicilan) bulanan dikasih (keringanan bayar) bunganya saja. Jadi sesuai dengan kondisi kita. BRI sangat membantu,” ujar Khairiri. (Has)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.