Sabtu, 25 September 21

Pedagang Johar Mulai Berpindah ke Penampungan

Pedagang Johar Mulai Berpindah ke Penampungan
* Salah seorang pegawai nampak memindahkan karung dagangan yang baru datang.

Semarang, Obsessionnews – Memasuki satu minggu kebakaran hebat yang melanda kawasan perdagangan Johar, para pedagang mulai dipindahkan ke tempat penampungan sementara sambil menunggu pembangunan pasar darurat selesai. Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Pasar Kota Semarang, Triyoto Sardjoko ketika dihubungi obsessionnews.com via telefon selular.

“Pedagang ini sudah mulai dipindah ke tiga titik yakni Pasar Bulu, Pasar Sampangan dan Pasar Rejomulyo. Sehabis shalat Jumat Insya Allah sudah pada pindah,” terangnya, Jumat (15/5/2015).

Sementara itu dari pantauan, masih terlihat banyak pedagang berjualan di sekitar kompleks, tepatnya di Jalan Agus Salim. Triyoto menjelaskan mereka sementara diizinkan tapi hanya di titik-titik tertentu. “Memang masih ada yang menempati di sekitar Pasar Johar. Itu kita ijinkan. Asal tidak mengganggu aktivitas jalan,” jelas Triyoto.

Terkait apakah nantinya pedagang membayar sewa selama berdagang di penampungan sementara ataupun pasar darurat, pihaknya menegaskan seluruh pedagang tidak akan dipungut biaya sepeserpun. “Ini kan musibah. Saya pastikan tidak ada pembayaran. Semuanya free.”

“Pokoknya sebelum Ramadhan, kami usahakan pasar darurat sudah jadi,” imbuhnya.

Kentang-2

Seperti diketahui, lokasi pasar ditempatkan di sisi utara Masjid Agung Jawa Tengah. Sebanyak 7 ribu pedagang akan direlokasi di wilayah tersebut sampai waktu yang belum ditentukan.

Terpisah, banyak pedagang yang berdagang di wilayah jalan Agus Salim karena kebutuhan yang mendesak. Aris, penjual grosir kentang yang kiosnya hancur ketika kebakaran minggu lalu, memilih untuk berjualan di Agus Salim dengan alasan untuk memutar roda perekonomian toko miliknya. “Kalau nunggu dipindah kelamaan mas. Kami juga harus makan,” ujar pria berperawakan kurus itu.

Dirinya juga sudah mendaftar ke Dinas Pasar Kota untuk mendapatkan surat ijin berjualan di penampungan sementara. Aris mengaku tetap taat arahan pemerintah terkait relokasi. Meski begitu ia mengeluhkan luas kios yang terlalu kecil.

“Tapi tempatnya kalau bisa sesuai mas. Kayak yang di Rejomulyo, kan kiosnya cuma 2×1, tok. Sedangkan jualan kami seabrek mas, hari ini aja baru datang 7,5 ton.” keluhnya.

Jika ditilik, kerugian yang ditanggungnya terbilang cukup besar. Hampir Rp 500 juta lenyap dalam sekejap. Bahkan ia harus menaikan harga kentang yang mulai datang dari petani sejak selasa kemarin. “Saya ada 10 toko itu habis semua. Kenaikan harga paling seratus dua ratu rupiah perkilo. Ya mau bagaimana mas, modal kami kan sedikit.”

Triyoto Sardjoko menjelaskan seluruh kios di pasar darurat ataupun penampungan sementara tanpa ditarik biaya sedikitpun
Triyoto Sardjoko menjelaskan seluruh kios di pasar darurat ataupun penampungan sementara tanpa ditarik biaya sedikitpun

Terlebih kentang yang berhasil diselamatkan terpaksa dijual lagi dengan separuh harga. Sebanyak 2 ton kentang diambil setelah ia dan para pegawainya mengorek puing-puing bangunan. Namun banyak dari jualannya rusak akibat terkena kobaran api dan semburan air pemadam.

“Harga biasanya Rp 5 ribu sekilo. Saya jual Rp 2 ribu perkilonya. Belum laku semua juga,” tutur warga Manyaran tersebut.

Mengenai bantuan, Aris yang tidak mengikuti asuransi ini berharap pemerintah tidak sekedar memberi bantuan berupa lapak dagangan, tetapi juga bantuan modal bagi para pedagang. “Semoga pemerintah nanti kasih bantuan bisa berupa modal berapa persen. Soalnya jujur modal kami terhitung ikut ludes mas,” tutupnya. (Yusuf IH)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.