Selasa, 28 Juni 22

Pedagang Daging Sapi di Daerah Ancam Mogok

Pedagang Daging Sapi di Daerah Ancam Mogok
* Kios Pedagang Daging Sapi di Pasar Tradisional Subang bertuliskan DAGING MOGOK

Subang, Obsessionnews – Pedagang daging sapi di daerah diantaranya di Subang Jawa Barat mengancam mogok berjualan jika harga daging sapi tetap melambung seperti sekarang ini. Menurut Agus, pedagang daging sapi di Pasar Tradisional Subang Jawa Barat fluktuasi ekstrim harga daging sapi dirasakan pasca Idul Fitri lalu. Padahal biasanya usai Idul Fitri harga daging akan beangsur normal kembali.

“Sekarang mah aneh, kok setelah Idul Fitri jadi ajol-ajolan (naik ekstrim) begini? Ada apa, ya?” ujarnya dengan nada bertanya saat ditemui Obsessionnews di kios Pasar Tradisonal Subang, Selasa (11/8/2015).

Agus bersama rekan-rekannya yang tergabung dalam Paguyuban pedagang Daging “Mandiri” Subang mengaku keuntungan yang diperoleh selama ini sangat-sangat tipis. Bahkan sering menanggung rugi akibat tingginya biaya operasional dan penurunan penjualan. Harga daging sapi di Pasar Subang dan Pasar Pujasera tercatat dalam kisaran 110 ribu rupiah sampai 120 ribu rupiah. Berakibat penjualan daging menurun lebih dari 50 persen. Bila hari biasa, kata Agus bisa menjual 1,5 – 2 kwintal.

“Kalau sekarang mah sakintal (satu kwintal) juga nggak,” ujarnya menjelaskan. Sebagian besar konsumen atau pelanggannya adalah pedagang bakso dan pedagang makanan berbahan baku daging.

Kios Pedagang Daging Sapi di Pasar Tradisional Subang bertuliskan DAGING MOGOK
Kios Pedagang Daging Sapi di Pasar Tradisional Subang bertuliskan DAGING MOGOK

Kesulitan ditambah dengan ongkos potong ikut-ikutan naik jadi 200 ribu rupiah.”Total jendral biaya operasional termasuk biaya bensin dan ongkos tukang angkut, bisa habis 500 ribuan (rupiah) seekor,” jelasnya lagi.

Agus menduga mahalnya daging sapi karena ada pihak-pihak yang sengaja membuat kelangkaan di pasar. Untuk itu meminta kepada pemerintah supaya segera turun tangan secara serius mengatasinya karena menyangkut hidup orang banyak. Khususnya pedagang kecil.

“Kami sebagai pengusaha juga ingin kelancaran pasokan barang. Walaupun kecil ‘kan pengusaha mah ingin punya bati (keuntungan). Gimana mau ada untung kalau barangnya langka?” ujar Agus.

Untuk berganti komoditas jualan bagi Agus sangat sulit karena dirinya sudah terbiasa berjualan daging sapi. “Sudah turun-temrun, Kang. Susah ganti (jualan yang lain),” pungkasnya. (Ted)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.