Sabtu, 7 Desember 19

Peci Bung Karno Dilelang

Peci Bung Karno Dilelang
* Ir Soekarno atau Bung Karno. (Foto: Dokumen: penasoekarno

BANYAK hal yang menarik tentang Ir Soekarno atau Bung Karno, proklamator dan Presiden pertama Republik Indonesia. Salah satu di antaranya adalah peci hitam yang dipakainya dan menjadi ciri khasnya.

Bung Karno sosok yang pertama kali mempopulerkan peci hitam sebagai identitas diri dan menjadikannya sebagai lambang kebangsaan.

Hal ini dikisahkan Bung Karno dalam
buku Penyambung Lidah Rakyat Indonesia yang ditulis oleh Cindy Adams.

“Minggu terakhir bulan Juni tahun 1921 aku memasuki kota Bandung, seperti Princeton atau kota pelajar lainnya dan kuakui bahwa aku senang juga dengan diriku sendiri. Kesenangan itu sampai sedemikian sehingga aku sudah memiliki sebuah pipa rokok. Jadi bisa dibayangkan betapa menyenangkan masa yang kulalui untuk beberapa waktu,” katanya.

Ia kemudian menuliskan akan kesuksesannya dalam menggunakan peci hitam. Peci hitam tersebut dipakainya saat pertemuan dengan Jong Java sesaat sebelum dirinya meninggalkan kota Surabaya.

“Salah satu daripada egoisme ini adalah berkat suksesku dalam pemakaian peci, kopiah beludru hitam yang menjadi tanda pengenalku, dan menjadikannya sebagai lambang kebangsaan kami. Pengungkapan tabir ini terjadi dalam pertemuan Jong Java, sesaat sebelum aku meninggalkan Surabaya,” ujar Bung Karno.

Ide untuk mempopulerkan peci karena sebelumnya terjadi pembicaraan hangat di antara mereka yang menamakan dirinya kaum ‘intelijensia’. Bung Karno menyatakan, kaum ‘intelijensia’ ini selalu menjauhkan diri dari rakyat biasa yang menggunakan blangkon atau tutup kepala yang biasa dipakai masyarakat Jawa.

“Tutup kepala yang biasa dipakai orang Jawa dengan sarung, atau peci yang biasa dipakai oleh tukang becak dan rakyat jelata lainnya. Mereka lebih menyukai buka tenda daripada memakai tutup kepala yang merupakan pakaian sesungguhnya dari orang Indonesia. Ini adalah cara kaum terpelajar ini mengejek dengan halus terhadap kelas-kelas yang lebih rendah,” jelasnya.

Bung Karno memandang kaum ‘intellijensia’ tersebut sebagai orang yang ‘bodoh’ dan perlu belajar. Baginya seseorang tidak akan mampu memimpin rakyat jika tidak terjun langsung menjalin ikatan bersama rakyat kecil.

“Aku memutuskan untuk mempertalikan diriku dengan sengaja kepada rakyat jelata. Dalam pertemuan selanjutnya kuatur untuk memakai peci, pikiranku agak tenang sedikit. Hatiku berkata-kata. Untuk memulai suatu gerakan yang jantan seperti ini secara terang-terangan memang memerlukan kawan-kawan seperjuangan yang berlagak tinggi lewat semua dengan buka tenda dan rapi, semua berlagak seperti mereka itu orang barat kulit putih, aku ragu-ragu untuk sedetik,” katanya.

Ia kemudian bertanya kepada dirinya sendiri. “Jadi pengikutkah engkau, atau jadi pemimpin kah engkau? Aku pemimpin, jawabku menegaskan, kalau begitu buktikanlah, kataku pada diriku. Ayo maju, pakailah pecimu, tarik napas yang dalam dan masuk sekarang!!! Begitulah kulakukan,” tegasnya.

Bung Karno yang memasuki ruang pertemuan dengan peci hitam kemudian menjadi perhatian. Dengan peci hitam setiap orang memandangnya dengan tanpa kata-kata.

“Di saat itu nampaknya lebih baik memecah kesunyian dengan buka bicara, janganlah kita melupakan demi tujuan kita, bahwa para pemimpin berasal dari rakyat dan bukan berada di atas rakyat. Mereka masih saja memandang,” ujarnya.

Ia kemudian memulai pidatonya kepada peserta yang hadir dalam pertemuan tersebut. Dia mengatakan, Indonesia memerlukan sebuah lambang yang menjadi kepribadian bangsanya. Dengan menunjuk peci hitam yang dipakainya, Bung Karno berujar jika peci adalah yang menjadikan sifat khas dari seseorang yang memakainya. Peci seperti yang juga dipakai oleh para pekerja Melayu adalah asli kepunyaan rakyat Indonesia.

“Namanya malahan berasal dari penakluk kita. Perkataan Belanda ‘pet’ berarti kopiah, ‘je’ maksudnya kecil. Perkataan itu sebenarnya ‘peje’. Ayolah saudara-saudara, mari kita angkat kita punya kepala tinggi-tinggi dan memakai peci ini sebagai lambang Indonesia merdeka,” ajaknya.

“Pada waktu aku melangkah gagah keluar dari kereta api di stasiun Bandung dengan peciku yang memberikan pandangan yang cantik, maka peci itu sudah menjadi lambang kebangsaan bagi para pejuang kemerdekaan,” sambung Sukarno mengenang kisahnya.

***

MASIH soal peci Bung Karno, ada kisah menarik tentang pecinya yang dilelang karena dia butuh uang. Hal itu dimuat di buku Suka Duka Fatmawati Sukarno Seperti Diceritakan kepada Kadjat Adrai.

Menjelang Lebaran Bung Karno menemui mantan Menteri Luar Negeri Roeslan Abdoelgani untuk utang uang. “Cak, tilpuno Anang Tayib. Kondo-o nek aku gak duwe duwik (Cak, teleponkan Anang Tayib. Kasih tau bahwa aku tak punya uang),” kata Soekarno.

Anang adalah keponakan Roeslan, tinggal di Gresik, pengusaha peci merk Kuda Mas yang sering dikenakan Soekarno.

“Beri aku satu peci bekasmu. Saya akan lelang,” kata Roeslan Abdoelgani.

“Bisa laku berapa, Cak?” tanya Soekarno.

“Wis tah, serahno ae soal iku nang aku. Sing penting rak beres tah (Sudahlah, serahkan saja soal itu pada saya. Yang penting ‘kan beres)” jawab Roeslan.

Roeslan lalu menyerahkan kepada Anang satu peci yang bekas dipakai Soekarno. Roeslan kaget karena jumlah peserta lelang begitu banyak, semuanya pengusaha asal Gresik dan Surabaya. Tapi yang membuatnya sangat terkejut ternyata Anang melelang tiga peci.

“Saudara-saudara,” kata Anang. “Sebenarnya hanya satu peci yang pernah dipakai Bung Karno. Tetapi saya tidak tau lagi mana yang asli. Yang penting ikhlas atau tidak?”

“Ikhlas!!!” seru para peserta lelang.

“Alhamdulillah,” sahut Anang.

Dalam waktu singkat terkumpul uang sepuluh juta rupiah. Semua uang itu segera diserahkan Anang kepada Roeslan.

“Asline rak siji se (Yang asli ‘kan satu)” kata Roeslan.

“Ya. Sebenarnya dua peci lainnya akan saya berikan untuk Bung Karno,” kata Anang.

“Tapi kedua peci itu jelek.”

“Memang sengaja saya buat jelek. Saya ludahi, saya basahi, saya kasih minyak, supaya kelihatan bekas dipakai.”

“Kurang ajar kamu, Nang. Kamu menipu banyak orang.”

“Kalau ndak begitu mana mungkin bisa dapat banyak uang.”

Roeslan kemudian menyerahkan semua uang hasil lelang kepada Soekarno.

“Cak, kok banyak banget uangnya,” kata Soekarno kaget.

“Itu semua akal-akalan Anang, “ kata Roeslan. Ia menceritakan bagaimana cara Anang menggandakan peci.

“Kurang ajar Anang. Kalau begitu yang berdosa saya atau Anang?” tanya Soekarno.

“Anang.” jawab Roeslan.”Uang begitu banyak akan dipakai untuk apa?”

“Untuk zakat fitrahku. Bawalah semua uang ini ke makam Sunan Giri. Bagikan untuk orang melarat di sana,” jawab Soekarno. (arh)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.