Selasa, 21 Maret 23

PBB: Lebih 1.000 Muslim Tewas dalam Operasi Militer Myanmar

PBB: Lebih 1.000 Muslim Tewas dalam Operasi Militer Myanmar
* Pemukiman muslim Rohingya dihancurkan.

Myanmar – Dua pejabat tinggi PBB mengumumkan, dalam operasi yang dilakukan aparat keamanan Myanmar di Utara negara itu, lebih dari 1.000 Muslim Rohingya tewas.

Seperti dilansir ParsToday, Kamis (9/2), Press TV melaporkan, dua pejabat tinggi PBB yang bertugas menangani masalah Muslimin Rohingya yang lari dari kekerasan di Myanmar, Rabu (8/2) menuturkan, data terkait jumlah korban operasi militer Myanmar terhadap warga Muslim Rohingya, menunjukkan jumlah yang jauh lebih besar dari data yang dilaporkan sebelumnya.

Pemerintah Myanmar mengklaim, jumlah Muslim Rohingya yang tewas sejak dimulainya operasi militer Myanmar tahun 2016 lalu di Negara Bagian Rakhine, kurang dari 100 orang.

Kantor Komisaris Tinggi Hak Asasi Manusia PBB dalam laporannya menyebutkan, aparat militer Myanmar dalam operasinya melakukan pembunuhan terhadap bayi, anak-anak, perempuan dan orang lanjut usia, juga melakukan pemerkosaan dan kekerasan fisik terorganisir serta luas.

Pemerintah Myanmar yang sebelumnya membantah laporan tersebut, pekan lalu berjanji akan melakukan penyelidikan terkait hal ini.

Sehubungan dengan masalah tersebut, Paus Fransiskus, Pemimpin umat Katolik dunia, Rabu (8/2) menyampaikan protes atas kejahatan-kejahatan yang dilakukan terhadap Muslim di Myanmar.

Ia mengatakan, Muslimin Rohingya menderita selama bertahun-tahun dan hanya karena memegang teguh ajaran agama serta budayanya, mereka harus disiksa dan terbunuh.

Menurut laporan PBB, lebih dari 69 ribu Muslim Rohingya di wilayah Maungdaw, Negara Bagian Rakhine, Myanmar melarikan diri ke Bangladesh dan 23 ribu lainnya terlantar.

Kejahatan Terorganisir
Lembaga Pengawas Hak Asasi Manusia (HRW) mengabarkan kejahatan terorganisir yang dilakukan militer dan polisi Myanmar terhadap perempuan Muslim Rohingya.

Press TV (7/2) melaporkan, Human Right Watch (HRW), Senin (6/2) dalam laporannya mengumumkan, aparat keamanan Myanmar di Negara Bagian Rakhine, memperkosa dan menyiksa perempuan-perempuan Muslim Rohingya.

HRW juga mendesak pemerintah Myanmar agar segera merespon laporan-laporan terkait kasus pemerkosaan terhadap perempuan dan gadis-gadis Muslim Rohingya.

Dalam laporan HRW juga disebutkan, militer dan polisi perbatasan Myanmar sejak tanggal 9 Oktober hingga pertengahan Desember 2016, sedikitnya di sembilan desa dan wilayah Rakhine, melakukan aksi pemerkosaan.

Komisaris Tinggi HAM, PBB dalam salah satu laporannya mengkonfirmasi kejahatan-kejahatan terorganisir yang dilakukan militer dan polisi Myanmar terhadap perempuan Muslim Rohingya.

Negara Bagian Rakhine, Barat Laut Myanmar yang merupakan tempat tinggal sejumlah banyak warga Muslim Rohingya, sejak tahun 2012 sampai sekarang terus dilanda aksi kekerasan etnis warga ekstrem Buddha terhadap Muslim.

Akibat aksi kekerasan tersebut, ratusan orang tewas dan puluhan ribu lainnya terpaksa mengungsi dan tinggal di kamp-kamp pengungsian tidak layak di Bangladesh, Thailand dan Malaysia.

Militer Myanmar terlibat Kejahatan
Kantor Hak Asasi Manusia (HAM) Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan, aparat keamanan Myanmar sejak Oktober 2016 melakukan pembantaian massal dan penyerangan terhadap Muslim Rohingya.

Seperti dilaporkan IRNA, kantor HAM PBB Jumat (3/2) dilaporannya terkait pembantaian etnis minoritas Muslim Rohingya di Myanmar menyatakan, para saksi mata mengatakan aparat keamanan Myanmar membantai bayi, anak-anak, perempuan dan manula serta menembaki orang-orang yang melarikan diri.

Di laporan ini disebutkan, aparat keamanan Myanmar juga membakar desa dan melakukan penangkapan besar-besaran, pelecehan serta kekerasan terorganisir. Selain itu, militer Myanmar juga dengan sengaja memusnahkan makanan.

Zeid Ra’ad al-Hussein, Komisasris Tinggi PBB untuk HAM di statemennya menjelaskan, kezaliman dan perusakan yang mempengaruhi anak-anak Rohingnya tidak dapat dibayangkan.

Ia mengungkapkan bahwa dalam pembicaraannya dengan Aung San Suu Kyi, dirinya telah mengatakan kepada pemenang hadiah nobel perdamaian ini untuk menekan militer dan dinas keamanan guna mengakhiri operasi ini.

Muslim Rohingnya di Myanmar senantiasa mendapat serangan dari etnis Budha ekstrim, sementara pemerintah tidak memberikan perlindungan yang diperlukan kepada etnis Muslim ini. (*/Red)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.