Jumat, 9 Desember 22

Pasca Reuni 212 Elektabilitas Kedua Capres Stagnan

Pasca Reuni 212 Elektabilitas Kedua Capres Stagnan
* Acara pemaparan hasil temuan survei LSI Denny JA di Jl Rawamangun, Jakarta Timur, Rabu (19/12/2018). (foto: Istimewa)

Jakarta, Obsessionnews.com – Aksi reuni 212 yang dilaksanakan beberapa waktu lalu, diakui menjadi sejarah pengumpulan massa terbesar. Namun sayangnya aksi tersebut dimunculkan dengan isu politik,  mengingat banyaknya spekulasi efek elektoral politik dari aksi 212 yang dilakukan menjelang pemilu presiden 2019.

Secara umum pengaruh reuni 212 dapat diukur dengan membandingkan elektabilitas kedua calon presiden (capres) sebelum dan sesudah reuni 212.

Sebelum reuni 212, survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA pada November 2018 menunjukan elektabilitas Jokowi-Maruf sebesar 53.2 %, sementara elektabilitas Prabowo-Sandi sebesar 31.2 %.

Pasca reuni 212, elektabilitas kedua capres tidak banyak berubah dan cenderung stagnan. Survei LSI Denny JA Desember 2018 menunjukan bahwa elektabilitas Jokowi-Maruf sebesar 54.2%, sementara elektabilitas Prabowo-Sandi sebesar 30.6 %.

Mengapa reuni 212, tidak banyak mengubah elektabilitas kedua capres? Dari hasil survei LSI Denny JA pada Rabu (19/12/2018) menemukan ada lima alasan mengapa reuni 212 tidak punya efek elektoral yang siginifkan.

Alasan Pertama, mayoritas pemilih yang suka dengan reuni 212 sudah memiliki sikap yang sulit dipengaruhi oleh Habib Rizieq Shihab, terutama terkait soal NKRI bersyariah dan seruan ganti presiden.

Terkait dengan seruan Habib Rizieq untuk mewujudukan NKRI bersyariah, dari mereka yang menyatakan suka dengan reuni 212, sebesar 83.2 % menyatakan Iebih pro dengan konsep NKRI yang berdasarkan pancasila saat ini. Hanya sebesar 12.8 % dari mereka yang suka dengan reuni 212 yang menyatakan pro dengan NKRI bersyariah.

Seruan Habib Rizieq Shihab untuk ganti presiden atau ingin presiden baru juga tidak semua diamini oleh pemilih yang menyatakan suka dengan reuni 212. Dari mereka yang menyatakan suka dengan reuni 212, sebesar 43.6 % menyatakan memilih pasangan Jokowi-Maruf. Sementara sebesar 40.7 % dari mereka yang menyatakan suka dengan reuni 212 menyatakan memilih pasangan Prabowo-Sandi.

Alasan Kedua, pasca reuni 212, ada sebagian pemilih yang datang ke Prabowo-Sandi. Namun ada sebagian pemilih juga yang pergi dari pasangan Prabowo-Sandi.

Di pemilih yang mengaku berafiliasi dengan FPI dan PA 212, terjadi peningkatan suara signifikan dari pasangan Prabowo-Sandi.

Di pemilih yang mengaku berafiliasi dengan FPI, pada November 2018, yang mendukung Prabowo-Sandi sebesar 68.3 %. Pasca reuni 212, meningkat menjadi 74.8 %.

Sementara mereka yang berafiliasi dengan PA 212, pada November 2018, yang menyatakan mendukung Prabowo-Sandi sebesar 70.4 %, naik menjadi 82.6 % pada Desember 2018, pasca reuni 212.

Sementara itu, dukungan Prabowo-Sandi di pemilih yang menyatakan berafiliasi dengan NU, Muhammadiyah dan pemilih yang menyatakan tidak berafiliasi dengan ormas manapun mengalami penurunan suara.

Di pemilih NU, pada November 2018, dukungan Prabowo-Sandi sebesar 30.2 %. Pasca reuni 212, elektabilitas Prabowo-Sandi turun menjadi 28.6 %. Di pemilih yang menyatakan tak berafiliasi dengan ormas manapun, sebelumnya pada November 2018 yang mendukung Prabowo-Sandi sebesar 33.1 %. Pasca reuni 212, dukungan terhadap Prabowo Sandi menjadi 30.8 %.

Alasan Ketiga, kepuasaan terhadap kinerja Jokowi secara umum masih tinggi. Survei LSI Denny JA Desember 2018 menunjukan bahwa mereka yang menyatakan puas terhadap kinerja Jokowi mencapai 72.1 %.

Kepuasaan kinerja Jokowi mengalami kenaikan dari November 2018. Saat itu, sebelum reuni 212, kepuasaan terhadap kinerja Jokowi sebesar 69.4 %. Artinya bahwa reuni 212 tidak banyak mempengaruhi kepuasaan publik terhadap kinerja Jokowi.

Kepuasaan terhadap Jokowi sebagai petahana yang tinggi membuat elektabilitasnya pun hingga kini masih kokoh diatas penantangnya. Dalam perilaku pemilih, petahana yang dinilai baik kinerjanya akan memperoleh berkah elektoral.

Alasan keempat, Ma’ruf Amin menjadi jangkar Jokowi untuk pemilih muslim. Masuknya Ma’ruf Amin sebagai cawapres Jokowi hingga saat ini memang tak banyak menaikan elektabilitas Jokowi.

Namun Maruf Amin menjadi “benteng” atau ”jangkar” Jokowi terhadap isu-isu identitas yang berpotensi menggerus elektabilitas. Pemerintahan Jokowi yang diserang isu tak ramah terhadap Islam bisa diimbangi dengan kehadiran sosok Ma’ruf Amin yang merupakan Ketum MUl dan ulama NU.

Survei LSI Denny JA menunjukan bahwa sebesar 65.8 % pemilih menyatakan simbol Islam tidak bisa digunakan untuk menggerus dukungan Islam ke Jokowi karena cawapresnya adalah seorang pimpinan ulama. Hanya sebesar 17.4 % publik yang menyatakan bahwa simbol Islam bisa menggerus dukungan pemilih terhadap Jokowi.

Alasan Kelima, Jokowi berbeda dengan Ahok. Publik menilai Jokowi bukanlah musuh bersama umat Islam. Oleh karena itu, gerakan reuni 212 tidak bisa digunakan untuk menjadikan Jokowi musuh bersama.

Sebesar 74.6 % menyatakan bahwa gerakan reuni 212 tidak bisa digunakan untuk menjadikan Jokowi sebagai common enemy pemilih muslim. Hanya Sebesar 14.5 % pemilih yang menyatakan bahwa reuni 212 bisa digunakan untuk menjadikan Jokowi sebagai common enemy pemilih muslim.

Dalam riset kualitatif, LSI Denny JA menemukan bahwa publik menilai Jokowi berbeda dengan Ahok. Saat itu, Ahok seakan menjadi musuh bersama umat Islam karena adanya penistaan agama Islam. (Poy)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.