Jumat, 7 Agustus 20

Pasca Munas, Pecahan Golkar akan Dirikan Partai Baru?

Pasca Munas, Pecahan Golkar akan Dirikan Partai Baru?

Jakarta – Pasca Musyarawah Nasional (Munas) IX Partai Golkar di Bali, apakah pecahan elit kader Partai berlambnag beringin yang kecewa terhadap Munas akan membentuk partai baru? Berikut adalah pendapat dari mantan Wakil Ketua Dewan Perwakilan daerah (DPD) RI  Laode Ida.

Ia mengamati, dinamika di Golkar saat ini memang cukup menarik, karena kekuatan dominan di bawah Ketua Umum DPP Aburizal Bakrie (ARB)  tampaknya mau mengambil jalan lain dari tradisi Golkar yang selalu berada di lingkaran kekuasaan.

“Barangkali, jika para lawan ARB itu merasa kuat, akan lebih ideal jika pasca Munas di Bali ini membentuk parpol baru dengan basis orang-orang Golkar,” ungkap Laode kepada Obsession News, Senin (1/12/2014).

Ia pun mencontohkan, Surya Paloh yang membentuk Partai NasDem pasca Munas Riau, dan ternyata cukup berhasil dengan menempatkan partai politik (parpol) yang dipimpinnya itu. “Bentukannya itu dalam barisan parpol di DPR sekarang ini,” tandas Laode.

Konflik di internal Golkar, jelas dia, tentu saja tidak bisa dilepaskan dengan komitmen untuk tetap berada dalam barisan Koalisi Merah Putih (KMP) di parlemen. “Ini juga tampaknya bagian ‘sikap perlawanan berbasis dendam’ dari kubu ARB baik terhadap PDIP maupun Jokowi, buntut dari tawar menawar posisi dalam proses pencapresan,” bebernya.

Sementara kubu dari lawan ARB, lanjutnya, merupakan barisan elite yang tergabung dalam dua kelompok dengan orientasi yang berbeda, yaitu: pertama, mereka lebih memposisikan diri dalam warisan karakter elite Golkar yang berupaya untuk selalu berada atau bersama dengan pihak yang sedang berkuasa.

“Kubu ini diwakili oleh Agung Laksono termasuk di dalamnya kader-kader yang tergolong mudah sebut saja Poempida Hidayatullah dan Agus Gumiwang, dan juga tokoh senior Zainal Bintang dan Yorrys Raweyai,” unghkap Laode.

“Mereka berharap, jika kekuasaan di Golkar bisa diambil-alih, maka akan bisa dijadikan posisi tawar untuk masuk dalam kabinet melalui reshuffle. Kelompok kedua, diwakili oleh Priyo Budi Santoso, Erlangga Hartato dan MS Hidayat,” tambahnya.

Menurut Laode, orientasi kubu ini tidak terkait dengan perkubuan antara KMP dan KIH. “Karena bagi mereka, Golkar perlu dikuasai. Agendanya lebih pada peluang-peluang  strategis lima tahun mendatang. Singkatnya, bagi mereka mana saja bisa, bisa tetap di KMP atau bisa juga gabung dukung KIH. Tergantung dari proses negosiasi politik,” paparnya.

Namun, sambung dia, nampaknya kedua kelompok penentang ARB itu bergabung pun tidak cukup kuat untuk mengalahkan ARB. “Soalnya ARB tampaknya pegang kartu truf sejumlah pimpinan DPD Provinsui dan Kabupaten/Kota,  termasuk di kalangan DPP. Sehingga Fadel Muhammad pun yang semula sedikit bergeliat melawan ARB, kini kembali tunduk,” terangnya. (Asm)

 

Related posts