Sabtu, 16 Oktober 21

PASAR, Yang Rugikan Rakyat Harus Ditentang!

PASAR, Yang Rugikan Rakyat Harus Ditentang!

PASAR, Yang Rugikan Rakyat Harus Ditentang!
Oleh: Gede Sandra

Apakah sebenarnya pasar? Pasar adalah suatu keadaan tempat berkumpulnya orang-orang yang hendak berjual-beli. Dalam situasi riil sehari-hari, kita mendapati dua jenis pasar. Ada pasar yang nyata, barang-barang terlihat dan para penjual dan pembelinya juga terlihat. Namun ada juga pasar yang spekulatif, yang diperdagangkan hanya janji (tertulis dalam surat perjanjian) dan penjual serta pembelinya sering tidak jelas.

Pasar yang nyata adalah pasar yang melibatkan mayoritas manusia, seperti pasar-pasar tradisional, pasar modern, pasar akik, pasar ikan, pasar beras, dan sebagainya. Sedangkan pasar spekulatif adalah pasar yang tidak melibatkan mayoritas manusia, hanya yang berpendapatan sangat tinggi yang mampu masuk gelanggang pasar ini, seperti pasar saham dan surat berharga lainnya.

Di manapun di seluruh dunia, para ekonom terbagi menjadi ekonom yang pro pasar riil dan ekonom yang pro pasar spekulatif. Untuk Indonesia, ekonom yang pro terhadap pasar riil sebagai ekonom konstitusi. Karena amanat konstitusi Indonesia seperti tertuang dalam Pembukaan UUD 1945, adalah “memajukan kesejahteraan umum”. Sedangkan ekonom yang pro terhadap pasar spekulatif cenderung kurang nasionalismenya. Mereka terlalu berlebihan dalam memandang pasar keuangan dunia. Istilah neoliberal lebih mengarah pada ekonom tipe yang belakangan.

Garis-garis besar neoliberal dalam menyelesaikan permasalahan ekonomi dunia cenderung sama, yaitu memotong anggaran kesejahteraan umum, menjual aset bangsa kepada investor pasar uang, dan mendorong perdagangan yang tidak adil terhadap bangsa sendiri, namun di sisi lain segelintir orang kaya di dunia, para pemain pasar uang, terus diuntungkan dengan kebijakannya (seperti bail out, QE, dsb).

Semisal pada model neoliberal di Indonesia, derajat perpisahan (decoupling) antara pasar di sektor keuangan dan pasar di sektor riil sangat signifikan. Pada tahun 2008, menjelang terjadinya krisis keuangan dunia, sering disebut sebagai tahunnya gelembung, terdapat rasio harga terhadap ekuitas (P/E) yang lebih dari 100 kali pada perusahaan-perusahaan yang terdaftar du bursa. Hal ini didorong oleh maraknya aksi spekulatif domestik dan uang panas internasional. Pertumbuhan ekonomi Indonesia saat itu tidak terlalu terkoreksi, meskipun bursa terkoreksi sangat signifikan, karena ekspor hanya 30% PDB.

Bila pasar keuangan yang spekulatif berhasil disubordinasikan dari pasar sektor riil, hasilnya adalah model ekonomi yang menghasilkan pertumbuhan ekonomi tinggi seperti di Asia Timur Laut. Yaitu Jepang sebesar 9,2 % selama tahun 1951-1973 dan 5% selama tahun 1976-1990, juga Tiongkok sebesar belasan persen selama 20-an tahun. Satu fakta kesamaan model ini adalah mengatur nilai tukar mereka pada tingkatan di bawah nilai yang sebenarnya (undervalued), sehingga memacu ekspor dan menyediakan proteksi implisit bagi industri-industri domestik.

Pembatasan konvertibilitas mata uang kefua negara ini dan kadar tertentu atas kendali modal telah menyediakan stabilitas makro dan membuat perekonomian mereka kurang rentan terhadap shock eksternal. Kebijakan suku bunga kredit yang rendah juga berkontribusi pada biaya yang lebih rendah dari produksi mereka.

Perbedaan relasi antara pasar keuangan dan pasar riil juga memiliki dampak yang berbeda pada performa makro ekonomi dan kapasitas penciptaan lapangan kerja. Model neoliberal di Indonesia teramat tergantung pada harga komoditi-komoditi, arus masuk utang, dan uang panas. Faktor-faktor tersebut menyebabkan surplus neraca pembayaran dan kuatnya secara artifisial mata uang kita.

Ini adalah suatu stabilitas yang disetir dari eksternal, tidak berhubungan sama sekali dengan produktivitas dan penciptaan lapangan kerja. Buktinya, meskipun tingkat pertumbuhan ekonomi rata-rata sebesar 5 % tapi pengangguran terus meningkat dan deindustrialisasi terjadi, (setelah tumbuh 12% di tahun1980-an, pertumbuhan industri hanya tinggal 1,4% di 2009.

Dalam model neoliberal terdapat ketergantungan yang tinggi pada arus masuk modal spekulatif, yang harus dipancing dengan pemasangan suku bunga yang lebih tinggi. Jika suku bunga dipasang lebih rendah, modal yang masuk adalah yang kurang spekulatif. Sistem ekonomi neoliberal, yang mana pasar keuangan spekulatif mendominasi pasar riil, membuka kembalinya kolonialisme. Pada era kolonial, negara seperti Indonesia adalah sumber bahan mentah dan kekayaan alam, serta pasar yang sangat besar bagi produk ekspor Belanda.

Saat ini, tidak jauh berbeda, Indonesia adalah eksportir terbesar bahan mentah, produk perkebunan (kelapa sawit dan sebagainya), energi (gas dan batubara), dan pertambangan. Indonesia juga merupakan salah satu importir terbesar bahan makanan (beras, terigu, gula, buah, dan daging), produk tekstil, dan sebagainya. Padahal dengan mengekspor bahan mentah dan sumber daya alam, sebenarnya kita telah mengekspor juga nilai tambah.

Bagaimanapun pasar tidaklah buruk, karena sejak dini peradaban manusia telah mengenalnya- setelah manusia meyakini pentingnya pertukaran. Pasar, terutama yang mampu mensejahterakan seluruh rakyat, memajukan kesejahtetaan umum, harus terus didorong. Sedangkan pasar yang merugikan, yang spekulatif, harus dikekang, tidak boleh terlalu dituruti karena berujung pada krisis dan ketimpangan sosial. [#]

*) Gede Sandra – Dosen Universitas Bung Karno (UBK), Mantan Aktivis ITB dan Lulusan Magister UI.

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.