Senin, 18 November 19

Pasang Surut PPP dari Era Orba Hingga Reformasi

Pasang Surut PPP dari Era Orba Hingga Reformasi

Jakarta, Obsessionnews.com – Dalam sejarah, kita tidak bisa melihatnya dalam pembabakan yang terpisah. Apa yang terjadi hari ini sedikit banyak akan berpengaruh ke masa depan. Semua memiliki keterhubungan. Begitu pula dalam melihat Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang terus mengalami pasang surut dari waktu ke waktu.

Pada 1977, PPP berseteru dengan pemerintah. Ada usaha pemerintah menggembosi kekuatan umat Islam demi memperkuat kekuasaan. Sebelumnya, pada 1971, banyak aktivis sekuler mendukung Golkar yang menghadang politik Islam. Kelompok politik Islam sejak 1973 dikecilkan ke dalam satu wadah PPP.

Ada paksaan untuk mengganti ideologi partai. Atas desakan Nahdlatul Ulama (NU), PPP tetap berideologi Islam dan pemerintah saat itu terpaksa menerimanya. Pemerintahan Orde Baru (Orba) tidak hilang akal. Beberapa tokoh Islam disatukan ke dalam satuan karya Golkar demi menghadang kekuatan PPP.

Selama Pemilu yang diselenggarakan pemerintahan otoriter Orba, PPP selalu berada dalam keadaan tertindas. Kader-kader PPP dengan segala alat kekuasaan Orba dipaksa meninggalkan partai, kalau tidak akan dianiaya. Seniman, tokoh PPP itu bisa tampil di media yang dikontrol Pemerintah.

Selama masa Orba banyak kader PPP, terutama di daerah yang ditembak, dipukul, dan malah ada yang dibunuh. Saksi-saksi PPP diancam, suara yang diberikan rakyat ke PPP dimanipulasi untuk kemenangan Golkar, mesin politik Orba.

Akan tetapi hal itu tidak mempengaruhi eksistensi partai berlambang Kakbah ini. PPP sendiri sudah mengikuti pemilihan umum sebanyak enam kali sejak tahun 1977 sampai pemilu dipercepat tahun 1999 dengan hasil yang fluktuatif, turun naik.

Pada Pemilu 1977 PPP meraih 18.745.565 suara atau 29,29 persen). Sedangkan dari sisi perolehan kursi, PPP mendapatkan 99 kursi atau 27,12 persen dari 360 kursi yang diperebutkan.

Pada Pemilu 1982 PPP meraih 20.871.800 suara atau 27,78 persen. Dari perolehan kursi, PPP mendapatkan 94 kursi atau 26,11 persen dari 364 kursi yang diperebutkan.

Pada Pemilu 1987 PPP meraih 13.701.428 suara arau 15,97 persen. Sedangkan dari perolehan kursi, PPP meraih 61 kursi atau 15,25 persen dari 400 kursi yang diperebutkan.

Pada Pemilu 1992 PPP meraih 16.624.647 suara atau 14,59 persen. Dari sisi perolehan kursi PPP meraih 62 kursi atau 15,50 persen dari 400 kursi yang diperebutkan.

Pada Pemilu 1997 PPP meraih 25.340.018 suara. Sedangkan dari sisi perolehan kursi, PPP meraih 89 kursi atau 20,94 persen dari 425 kursi yang diperebutkan.

Pada Pemilu 1999 PPP meraih 11.329.905 suara atau 10,71 persen. Dari sisi perolehan kursi, PPP meraih 58 kursi atau 12,55 persen dari 462 kursi yang diperebutkan.

Pada Pemilu 2004 PPP meraih 9.248.764 atau 8,14 persen. Dari sisi perolehan kursi, PPP tetap meraih 58 kursi atau 10,54 persen dari 550 kursi yang diperebutkan.

Pada Pemilu 2009 PPP meraih 5,5 juta suara atau 32 persen. Dari sisi perolehan kursi, PPP memperoleh 38 kursi dari 550 kursi yang diperebutkan. Sedangkan pada Pemilu 2014 PPP meraih 8,1 juta suara (6,53 persen).

Pada fakta kenyataannya bahwa dalam Pemilu 1999, 2004, dan 2009 hingga 2014 suara PPP selalu turun. Ini merupakan tantangan bagi kepengurusan PPP yang sekarang, apalagi internal partai ini sedang didera perpecahan. Untuk meraih kembali kejayaannya, PPP harus kembali bersatu dalam satu wadah.

Dilihat dari sisi Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) PPP, pernyataan PPP sebagai rumah besar umat Islam” merupakan penegasan bahwa PPP merupakan hasil fusi atau gabungan dari beberapa partai politik Islam melalui sebuah deklarasi bersama pada 5 Januari 1973 (Miladiyah) bertepatan dengan tanggal 30 Dzulqadah 1392 (Hijriyah).

Jadi, kekuatan utama PPP terletak pada kemampuannya untuk membangun dan menggalang kebersamaan di antara partai politik Islam yang melakukan fusi dalam PPP yaitu Partai Nahdlatul Ulama (NU), Partai Muslimin Indonesia (Parmusi), Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII), dan Partai Islam Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti). (Has)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.