Kamis, 29 Oktober 20

Parmusi Melihat Ada Upaya Benturkan Presiden dengan Umat Islam

Parmusi Melihat Ada Upaya Benturkan Presiden dengan Umat Islam
* Ketua Umum Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi), Usamah Hisyam, saat memberikan keterangan kepada wartawan dalam konferensi pers di Parmusi Center Jakarta, Senin (3/4/2017).

Jakarta, Obsessionnews.com – Ketua Umum Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi), Usamah Hisyam, menilai ada ‘invisible hand’ dalam kasus penahanan KH Muhammad Al-Khaththath. Bahkan lebih jauh lagi, ia melihat ada upaya membenturkan Presiden Joko Widodo dan umat Islam dalam kasus tersebut.

Usamah mengungkapkan, tak lama setelah Sekjen Forum Umat Islam (FUI) itu ditangkap, Menko Polhukam Wiranto telah berjanji untuk membebaskan Al-Khaththath. Janji itu diucapkannya kepada Usamah dan sejumlah pimpinan Aksi 313 yang diterima Wiranto, Jumat (31/3/2017).

“Kepada Menko Polhukam kami meminta agar Ustadz Al-Khaththath dibebaskan karena belum melewati 24 jam. Beliau menjanjikan kepada kami akan berbicara dengan Kapolri dan disampaikan kepada Presiden. Menurut beliau, bilamana tidak ada hal-hal prinsipil dan tidak berat, maka ustadz segera dibebaskan,” ungkap Usamah saat konferensi pers di Parmusi Center, Jakarta Selatan, Senin petang (3/4/2017).

Sore hari setelah pertemuan itu, lanjut Usamah, ia menelepon Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Mochamad Iriawan untuk menyampaikan hasil pertemuan dengan Wiranto. Kapolda kemudian mengutus Wakapolda untuk mendiskusikan hal tersebut bersama Usamah.

“Dalam pertemuan itu Wakapolda sesuai arahan Kapolda berjanji membebaskan Al-Khaththath esok hari jika Aksi 313 dibubarkan paling lambat jam 5 sore. Saya lalu panggil ketua Korlap (koordinator lapangan) untuk mengupayakannya,” terang Usamah. “Tapi kenyataannya hingga sore ini Al-Khaththath tetap tidak dibebaskan,” imbuh Ketua Steering Committee Aksi 313 itu.

Namun demikian, Usamah mengapresiasi langkah yang dilakukan Wiranto membuka ruang dialog untuk delegasi massa Aksi 313. Apalagi dalam pertemuan itu terjadi dialog yang sangat terbuka.

Berdasarkan pertemuan itu Usamah meyakini jika Menko Polhukam memang memiliki niat baik dan bersungguh-sungguh untuk membebaskan Al-Khaththath. Hanya saja, Usamah tidak habis pikir melihat kondisi riilnya justru berbeda dengan hasil pertemuan tersebut.

“Pertanyaannya adalah, apakah ada Menko lain yang kemudian mengintervensi kasus ini? Kejadian ini sama saja membenturkan Presiden dengan umat Islam, karena dikesankan Presiden yang tidak menghendaki,” tandas Usamah.

Sepengetahuan Usamah yang pernah menjadi koordinator rombongan umrah saat Joko Widodo menyalonkan diri sebagai presiden, Presiden Jokowi merupakan sosok yang sangat berkomitmen dalam penegakan hukum.

“Oleh karenanya yang saya pertanyakan, dalam kasus ini siapa sebetulnya yang mengendalikan aparat keamanan? Karena Menko Polhukam sudah komitmen, baik, dan santun menyampaikan janji tersebut. Jadi, apakah ada Menko lain yang mengendalikan aparat sehingga Ustadz Al-Khaththath sampai saat ini belum dibebaskan?” kata Usamah.

Jika benar, tegas Usamah, maka hal tersebut tidak boleh dibiarkan, karena soal penegakan hukum tidak boleh diremehkan.

“Sudah 71 tahun negeri ini merdeka dan dipuji sebagai negara demokrasi cukup besar, tapi kita justru melakukan langkah setback, menggunakan pasal-pasal karet untuk menangkap aktivis dan ulama. Ini menyedihkan,” tandas Usamah. (Fath)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.