Sabtu, 13 Agustus 22

Parlemen Tak Berfungsi Karena Dihegemoni Suatu Kekuasaan

Parlemen Tak Berfungsi Karena Dihegemoni Suatu Kekuasaan

Surabaya, Obsessionnews.com – Masyarakat Indonesia seyogianya menyadari bahwa beberapa aksi unjuk rasa yang terjadi belakangan ini merupakan bagian dari sebuah pendewasaan berbangsa dan bernegara.

Demikian dikemukakan penulis buku, Agus Mualif Rohadi, usai peluncuran bukunya berjudul Himda (Muhammad) dalam Konflik Agama dan Bangsa di Grand Palace Hotel, Surabaya, Sabtu (18/2/2017).

Menurutnya, aksi-aksi unjuk rasa yang terjadi seperti 411, 212, dan lainnya itu merupakan bagian dari konflik yang dibutuhkan bangsa ini guna menuju sebuah kesempurnaan.

“Aksi-aksi itu menjadi refleksi panjang. Proses sejarah memang harus diketahui publik. Rakyat Indonesia harus tahu sejarahnya nanti bagaimana. Dalam proses penyempurnaan, konflik itu harus terjadi dan harus diketahui oleh seluruh masyarakat,” ujar Agus.

“Kalau konflik ini ditutup malah akan menimbulkan konflik yang lebih besar,” imbuhnya.

Agus menegaskan, dalam konteks politik, parlemen lah yang lebih berhak mengelola konflik. Di sini, konflik seharusnya didiskusikan untuk dicarikan solusinya.

“Idealnya, kontribusi publik dalam politik itu sudah selesai saat melakukan pemilihan umum, baik eksekutif maupun legislatif. Adanya konflik atau pertentangan di masyarakat terkait perbedaan cita-cita, ketidak-adilan, dan lain sebagainya, seharusnya dibawa ke parlemen,” katanya.

Hanya saja, imbuhnya, parlemen tidak mungkin bisa mengelola konflik dengan baik jika sudah dikuasai kekuatan lain.

“Tentu saja hal ini tidak akan terjadi jika parlemen sendiri dihegemoni oleh suatu kekuasaan, sehingga parlemen tidak bisa menjalankan fungsinya,” tegasnya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Lingkar Madani Untuk Indonesia (LIMA) Ray Rangkuti menilai kinerja parlemen dari tahun ke tahun tak berubah. Parlemen cenderung dekat dengan pemerintah bukanlah hal baru di republik ini.

“Jadi enggak ada yang aneh. Tapi sebenarnya parlemen saat ini lebih banyak yang menjadi oposisi dibandingkan eranya SBY (Susilo Bambang Yudhoyopno),” ujar Ray saat dihubungi Obsessionnews.com, Senin (20/2/2017). (Fath)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.