Rabu, 22 Mei 19

‘Para Pensiunan: 2049’, Kisah Pemberantasan Korupsi Temui Jalan Buntu

‘Para Pensiunan: 2049’, Kisah Pemberantasan Korupsi Temui Jalan Buntu
* Acara jumpa pers Teater Gandrik bertajuk Para Pensiun 2049 di Ciputra Artpreneur, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (23/4/2019). (foto: Kapoy)

Jakarta, Obsessionnews.com – Teater Gandrik yang didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation menggelar pertunjukan seni bertajuk Para Pensiunan: 2049. Pertunjukan ini rencana akan digelar pada 25-26 April 2019 di Ciputra Artpreneur Theater, Kuningan, Jakarta Selatan.

Sutradara pementasan Para Pensiunan 2049 G. Djaduk Ferianto mengatakan, naskah Para Pensiunan: 2049 ini merupakan hasil saduran dari karya alm. Heru Kesawa Murti yang berjudul Pensiunan yang dibuat pada tahun 1986.

“Setelah melalui serangkaian proses, akhirnya naskah ini ditulis kembali oleh Agus Noor dan Susilo Nugroho, berganti nama menjadi Para Pensiunan: 2049 agar dapat diterima dan dinikmati oleh generasi muda,” ujar Djaduk di acara jumpa pers di Ciputra Artpreneur Theater, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (23/4/2019).

Pimpinan Produksi Pementasan Para Pensiunan: 2049 Butet Kartaredjasa menambahkan, teater ini merupakan kisah masa depan jika upaya pemberantasan korupsi menemui jalan buntu, kehidupan akan semakin haru dan lucu.

“Kami menampilkannya dengan gaya yang sedikit horor, namun tentu saja akan tetap membuat penonton terpingkal-pingkal,” ujar Butet.

Sementara itu Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation Renitasari Adrian menyampaikan, Teater Gandrik ini  merupakan salah satu kelompok seni yang senantiasa memadukan semangat teater tradisional dan modern dalam setiap panggung pertunjukannya. Kepiawaian dalam mengolah ide dan gagasan kreatif yang didukung dengan kemampuan akting para pemainnya.

“Teater Gandrik selalu dapat menarik perhatian para penggemarnya,” ujar Renitasari.

Mengangkat tema yang sedang hangat diperbincangkan saat ini, pementasan Para Pensiunan: 2049 hadir dengan guyonan khas Teater Gandrik.

Diharapkan teater Para Pensiunan: 2049 ini mampu memberikan pemahaman bagi generasi muda mengenai proses dan perkembangan kebudayaan. “Sehingga mampu membangun jiwa yang penuh dengan semangat kebangsaan,” tuturnya.

Untuk sekedar diketahui, lakon ini bercerita tentang para pensiunan yang ingin menikmati masa tuanya dan menunggu akhir hidupnya dengan tenang. Mereka adalah pensiunan jenderal, pensiunan politisi, pensiunan hakim, dan para pensiunan lainnya.

Lalu ada Undang-undang Pemberantasan Pelaku Korupsi yang secara konstitusional mengharuskan siapa pun yang mati, dan wajib memiliki Surat Keterangan Kematian yang Baik (SKKB).

Undang-undang tersebut memang dibuat agar para koruptor jera, karena hanya orang yang tidak pernah melakukan korupsi yang berhak mendapatkan SKKB. Bila tak punya SKKB, maka mayatnya tidak boleh dikubur, karena dianggap tidak bersih dari korupsi.

Satu dari pensiunan itu terlanjur mati tanpa memiliki SKKB. Padahal ia pensiunan orang besar. Akibatnya, jenazah terlunta-Iunta. Para pensiunan yang lain menjadi gelisah dan masing-masing ingin membuktikan bahwa mereka tak pernah korupsi agar mendapatkan SKKB, sehingga bila nanti mati bisa dikubur baik-baik. Tapi benarkah mereka tak pernah korupsi selama jadi jenderal, politisi, pegawai negeri dan lain-Iain?

Untuk mendapatkan SKKB bermacam cara dilakukan, mulai dari membujuk, menjebak, hingga menyuap penjaga kubur. Sementara jenazah pensiunan yang sudah mati terus mendatangi kolega instansi yang berwenang agar nama baiknya dipulihkan dengan SKKB.

Undang-Undang Pemberantasan Pelaku Korupsi ternyata juga membuat repot mereka yang belum mati karena cemas saat mati tidak bisa dikuburkan. Bahkan ketika menjadi isu politik dan banyak kepentingan yang mempolitisir, undang-undang tersebut mengancam mereka yang berkuasa.

Tim kreatif Para Pensiunan: 2049 ini adalah Butet Kartaredjasa, Agus Noor, Susilo Nugroho, dan G. Djaduk Ferianto. Pementasan juga melibatkan seniman Indonesia, antara lain Purwanto, Indra Gunawan, Sukoco, Sony Suprapto Beny Fuad Hermawan, Arie Senyanto (Pemusik), Ong Hari Wahyu (Penata Artistik), Feri Ludiyanto (Tim Properti), G. Djaduk Ferianto, Rulyani lsfihana, Jamiatut Tarwiyah (Penata Kostum), Dwi Novianto (Penata Cahaya), dan Antonius Gendel (Penata Suara). Naskah oleh Agus Noor dan Susiio Nugroho serta Pimpinan Produksi Butet Kartaredjasa di bawah arahan Sutradara, G. Djaduk Ferianto. (Poy)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.