Sabtu, 20 April 19

Para Menteri Perdagangan APEC Gelar Pertemuan

Para Menteri Perdagangan APEC Gelar Pertemuan
Menteri Perdagangan RI Gita Wirjawan.

 

 
Jakarta– Para Menteri Perdagangan ekonomi Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) kembali akan menggelar pertemuan tahunan pada 20-21 April 2013 di Surabaya. Delegasi Indonesia akan dipimpin oleh Menteri Perdagangan RI Gita Wirjawan, yang sekaligus merangkap sebagai Pimpinan Sidang (Chair) selama berlangsungnya pertemuan. Demikian siaran pers Kemterian Perdagangan, Jumat (12/4/2013).
Dengan tema “Resilient Asia Pacific; Engine of Global Growth”, para Menteri Perdagangan akan membahas beberapa isu strategis guna terus mendorong peningkatan kerja sama perdagangan dan investasi di kawasan ini.
“MC9 merupakan kesempatan penting bagi semua anggota WTO untuk menggapai kembali kepercayaan terhadap sistem perdagangan multilateral di bawah naungan WTO. MC9 juga merupakan momentum kunci untuk menggulirkan kembali Perundingan Putaran Doha yang sejak tahun 2001 terus berputar di tempat walaupun ada sejumlah kemajuan. Karena itu, para Menteri Perdagangan APEC perlu menyatukan visi dan tekad guna menyukseskan MC9 di Bali pada Desember yang akan datang,” ungkap Dirjen Kerja Sama Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan, Iman Pambagyo di Kantor Kementerian Perdagangan RI (12/4).
Selain itu, para Menteri Perdagangan juga akan membahas upaya pencapaian visi Bogor Goals, integrasi ekonomi regional, pengembangan konektivitas, pengembangan inovasi, pembangunan infrastruktur, kerja sama bidang investasi, penyederhanaan regulasi, serta pertumbuhan yang berkelanjutan yang adil atau sustainable growth with equity.
“Tema APEC yang kita tetapkan tahun ini jelas menunjukkan jejak kebijakan yang kita tuju, yakni integrasi perekonomian kita dengan kawasan dan dunia harus diimbangi dengan upaya serius untuk memastikan bahwa proses integrasi tersebut bukannya memperlebar tetapi justru harus memperkecil jurang perbedaan, antara lain dengan meningkatnya partisipasi UKM, pebisnis pemula, wanita pengusaha serta kalangan yang selama ini terpinggirkan oleh proses globalisasi,” imbuh Iman.
Hal ini kata Iman memang dipandang penting khususnya di tengah situasi perekonomian dunia yang masih belum pasti saat ini. Meskipun bersifat sukarela dan langkah-langkah liberalisasi ekonomi APEC lebih bersifat unilateral, namun APEC telah dan akan tetap memainkan peran penting untuk memfasilitasi kerja sama perdagangan dan investasi di kawasan yang paling dinamik ini, seperti dengan bertukar pengalaman dan menyepakati best practices untuk diimplementasikan di ekonomi masing-masing.
Topik lain yang akan menjadi perhatian para Menteri Perdagangan APEC jelas Iman adalah terkait Daftar Produk Ramah Lingkungan APEC (APEC Environmental Goods List/EGs List). Indonesia berkeinginan untuk mendorong dibukanya kembali pembahasan serta menjajaki kemungkinan dimasukkannya produk-produk pertanian dan kehutanan seperti Crude Palm Oil (CPO) dan Rubber ke dalam EGs List yang telah disepakati di Vladivostok tahun lalu.
Upaya ini dilakukan agar EGs List menjadi lebih seimbang, tidak didominasi oleh produk manufaktur, tetapi juga mencakup produk pertanian, sehingga ikut mendorong negara-negara berkembang yang umumnya masih mengandalkan sektor pertanian untuk ikut berkontribusi kepada pelestarian lingkungan.
Iman menegaskan bahwa Indonesia akan memperjuangkan agar produk-produk pertanian dan kehutanan seperti CPO dan karet alam dapat dimasukkan ke dalam daftar barang ramah lingkungan. “Kita akan menekankan kembali bahwa CPO itu produk pertanian paling produktif karena mampu memberikan yield yang paling tinggi dibanding semua produk pertanian sejenis, sehingga sangat memenuhi syarat untuk melayani kebutuhan dunia minyak nabati, energi terbarukan, dan keperluan konsumsi lainnya. Selain itu, CPO juga memenuhi kebutuhan peningkatan mata pencaharian produsen kecil, sehingga produk ini dapat dikatakan pro-environment, pro-trade, pro-development, dan pro-poor. Karet alam juga memiliki karakteristik lingkungan dan pembangunan yang sama dengan CPO,” tambah Iman Pambagyo.
Isu penting lainnya yang akan dibahas para Menteri Perdagangan APEC adalah upaya mempromosikan konektivitas di kawasan ini. Indonesia akan mendorong disepakatinya strategi konektivitas APEC yang lebih terarah dengan memperkenalkan sebuah kerangka kerja yang difokuskan pada tiga konektivitas, yakni konektivitas fisik, konektivitas kelembagaan, dan konektivitas masyarakat (people-to-people).
“Kita perlu menyepakati sebuah strategi pengembangan konektivitas yang terarah dan praktis karena isu konektivitas itu sendiri sangat kompleks dan memerlukan pembiayaan yang tidak sedikit. Oleh karena itu, APEC perlu memfokuskan diri pada ‘quick wins’ dan ‘high-impact targets’ agar tercipta konektivitas yang efektif di kawasan ini,” jelas Iman.
Pertemuan para Menteri ini didahului dengan serangkaian pertemuan di tingkat sub-fora dan working group sejak 7 April 2013 yang selanjutnya dirangkum dalam pertemuan Committee on Trade and Investment, Economic Committee dan Sub Committee on ECOTECH untuk dilaporkan kepada Senior Official Meeting. (rud)

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.