Sabtu, 25 September 21

Panglima TNI Shalat Berjamaah Bermandikan Hujan, Ulama Pun Menangis Haru

Oleh: Windiyati Retno Sumardiyani

21 Juni, 2017 – Tasikmalaya

Tepat lima menit sebelum adzan Maghrib, Panglima Tentara Nasional Indonesia Jenderal Gatot Nurmantyo tiba di Lapangan Brigif 13 Galuh Tasikmalaya, Rabu, 21 Juni 2017.
Bersama itu pula, hujan deras datang mendera.

Kendati demikian, Pak Gatot sama sekali tak bergeming dari lapangan terbuka itu. Seusai menyalami para ulama yang duduk di shaf terdepan, Pak Gatot kemudian duduk bersila didampingi Bupati Tasikmalaya Uu Ruzhanul Ulum dan ulama lainnya.

Hujan yang semakin menderas tak membuat Pak Gatot beserta ribuan santri, anak yatim, serta prajurit TNI yang hadir di Lapangan Brigif bergeming, tetap khidmat menyantap sajian berbuka puasa yang sudah disediakan.

Tanpa berlama-lama, Pak Gatot dan ribuan peserta yang hadir di Lapangan Brigif kemudian serentak berdiri untuk melaksanakan ibadah shalat Maghrib. Mereka menunaikan shalat Maghrib dalam derai hujan yang semakin menderas.

Seusai menunaikan shalat Maghrib, Pak Gatot kemudian maju ke mimbar. Pak Gatot kemudian menyapa seluruh ulama, dan peserta yang hadir dalam acara Safari Ramadhan Panglima TNI tersebut.

Dalam sambutannya, Pak Gatot berterima kasih kepada masyarakat Indonesia yang sudah bersedia menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pak Gatot menyatakan bahwa Indonesia merupakan negara paling aman selama Ramadhan tahun ini.

“Negara kita sudah membuktikan sebagai negara paling aman di dunia. Ini karena di Indonesia banyak ulama yang menenangkan umat, untuk itu kita harus berterima kasih kepada para ulama,” tutur Pak Gatot.

Menurut Pak Gatot, selama ini tidak banyak yang tahu jika panglima pertama TNI adalah seorang ulama. Sosok itu adalah Panglima Besar Jenderal Soedirman. Pak Gatot juga bercerita tentang pentingnya peran santri dalam berjuang dan menjadi badan keamanan rakyat pada saat sebelum negara ini merdeka.

“Ulama yang memerintahkan santrinya untuk berjuang. TNI ini dalam darahnya ada darah ulama, santri itu cikal bakal TNI,” kata Pak Gatot.

Pak Gatot juga menanggapi isu perpecahan yang sedang melanda di Indonesia, dan menyebutkan bahwa Pancasila merupakan hadiah Islam untuk Indonesia. Itu sebabnya, Pak Gatot meyakini tidak ada ulama yang menginginkan perpecahan di Indonesia.

“Saya ingatkan bahwa dalam Pancasila sila yang utama itu Ketuhanan Yang Maha Esa. Ulama itu berkumpul demi Tuhan Yang Maha Esa, jadi bagaimanapun ulama itu tidak mungkin akan merusak Bhinneka Tunggal Ika,” kata Pak Gatot.

Pada penghujung sambutannya, Pak Gatot berkata kepada para prajuritnya untuk bisa bersama-sama berjuang bersama ulama untuk mengamankan NKRI.

“Saya ke sini untuk mengingatkan prajurit saya agar selalu bisa berterima kasih kepada ulama atas bimbingannya, sehingga kita bisa jadi negara muslim yang bisa dicontoh, mari kita jaga persatuan dan kesatuan agar tetap kokoh,” kata Pak Gatot.

Pengasuh Pondok Pesantren Bustanul Ulum Tamansari, Didih Hudaya, yang hadir mendampingi Pak Gatot Nurmantyo tak kuasa menitikkan air matanya. Begitu pula para ulama yang lainnya.

Didih Hudaya mengaku terharu karena melihat umat muslim Tasikmalaya menyatu di bawah derasnya hujan. “Saya menitikkan air mata atas perjuangan kita semua. Mari kita panjatkan do’a dalam rintik hujan ini, Yaa Alloh persatukan lah kami,” kata Didih.

Semoga Pak Panglima TNI Jenderal Gatot bisa jadi Presiden Pilpres tahun 2019, Aamiin, (*)

 

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.