Sabtu, 29 Januari 22

Panen Perdana Inpago UNSOED 1 di Malut

Panen Perdana Inpago UNSOED 1 di Malut
* Prof.Totok-3 Panen Perdana Inpago UNSOED 1 di Maluku Utara

Press Release

Tidore – Meneguhkan semangat kemerdekaan dari ketergantungan pasokan beras terhadap daerah lain, Walikota Tidore Kepulauan, Ali Ibrahim melaksanakan panen perdana benih bersertifikat Inpago Unsoed 1 di Kelurahan Akelamo, Kec. Oba Tengah, Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara (Malut). Panen perdana dilaksanakan pada Sabtu (19/8/2017).

Hadir dalam kesempatan baik tersebut Istri Gubernur Maluku Utara, Hj.Faoniah Kasuba, Walikota Tidore Kepulauan Ali Ibrahim, dan para pimpinan daerah dan pimpinan SKPD kabupaten/kota di wilayah Provinsi Maluku Utara, PT.Tidore Sejahtera Bersama, tim peneliti dan mitra industri Universitas Jenderal Soedirman, Camat Oba Tengah, Kepala dan masyarakat Kelurahan Akelamo, Kecamatan Oba Tengah, Kota Tidore Kepulauan. Produksi diperkirakan mencapai.lebih dari 8 ton per hektar. Penanaman ini berorientasi produksi benih bersertifikat untuk mendukung penyediaan benih bersertifikat padi gogo untuk pengembangan areal tanam perkebunan kelapa di Provinsi Maluku Utara.

Prof.Ir.Totok Agung Dwi Haryanto,MP.,Ph.D., Guru Besar Pemuliaan Tanaman Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto Jawa Tengah menyampaikan, peningkatan produksi padi di Indonesia sudah tidak jamannya lagi bertumpu pada padi sawah. Alih fungsi sawah di Jawa semakin menghebat. Tak kurang 100 Ha per tahun sawah mengalami konversi, tak mampu diimbangi oleh laju pencetakan sawah baru yang hanya sekitar 60 Ha setiap tahunnya. Satu-satunya jalan yang bisa ditempuh adalah mengoptimalkan lahan-lahan kering yang tersebar luas di seluruh wilayah Indonesia, terutama di luar Jawa yang sebagian besar merupakan perkebunan untuk mendukung peningkatan produksi padi dengan penanaman padi gogo. Sistem ini tidak memerlukan biaya tinggi untuk penyiapan infrastruktur irigasi pada pencetakan sawah, dan tidak mengubah secara frontal keseimbangan ekologi.

Prof.Totok-2 Panen Perdana Inpago UNSOED 1 di Maluku Utara

Maluku Utara merupakan salah satu daerah sentra kelapa di Indonesia selain Riau dan Sulawesi Utara. Pohon-pohon kelapa di daerah tersebut telah menurun tajam produktivitasnya karena telah melewati masa produktifnya, lebih dari 25 tahun. Peremajaan perlu dilakukan melalui penanaman bibit kelapa varietas unggul. Penanaman padi gogo diantara tegakan kelapa saat kebunnya diremajakan, akan menjadi sumber bahan pangan utama yang selama ini diperoleh dari daerah lain, dan hasil penjualannya akan menjadi tambahan pendapatan bagi petani. Penanaman padi secara terintegrasi di bawah tegakan kelapa akan meningkatkan produksi padi sekaligus kelapa, karena petani akan semakin intensif merawat kebunnya. Pupuk yang diberikan kepada tanaman padi gogo juga akan semakin mendukung perkembangan dan hasil pohon kelapa.

Penanaman padi ladang diantara tegakan kelapa sebenarnya merupakan kebiasaan leluhur yang telah berkembang sejak jaman dahulu kala. Hanya saja padi lokal yang ditanam di daerah setempat, salah satunya kultivar Menyanyi, umurnya sangat dalam, mencapai 6 bulan dan hasilnya rendah, sekitar 1,5 ton per hektar, dan nasinya keras saat ditanak, sehingga petani semakin lama semakin enggan menanam.
Penanaman padi di lahan kering menuntut tersedianya varietas unggul padi gogo yang berdaya hasil tinggi. Universitas Jenderal Soedirman merupakan universitas yang meneguhkan komitmen pada pengembangan perdesaan dan kearifan lokal.

Varietas-varietas yang dihasilkan secara umum memiliki keunggulan untuk dikembangkan di lahan-lahan marginal yang ada di perdesaan. Inpago Unsoed 1 merupakan varietas unggul padi gogo yang memiliki daya hasil tinggi di lahan kering (potensi hasil 7,42 ton/ha dan lebih tinggi jika ditanam secara organik), umurnya genjah/pendek (sekitar 117hst seperti IR 64) dan memiliki keistimewaan kualitas hasil, yaitu teksturnya pulen dan wangi/aromatik. Sifat pulen dan aromatik yang dimiliki Inpago Unsoed 1 yang dirakit oleh dua guru besar UNSOED, Prof. Ir. Suwarto, M.S dan Prof. Ir. Totok Agung Dwi Haryanto, M.P., Ph.D ini sesuai dengan selera penduduk setempat yang biasa mendapatkan beras tersebut dari Makasar bahkan dari Jawa.

Orasi Prof.Totok di depan istri Gubernur Maluku Utara, Walikota Tidore Kepulauan,DLL (1)

Selain melaksanakan pendampingan teknologi budidaya terintegrasi padi-kelapa di lahan yang diusahakan oleh PT. Tidore Sejahtera Bersama, Tim UNSOED yang terdiri dari Prof.Ir.Totok Agung Dwi Haryanto,M.P.,Ph.D, Ir.Mustaufik,M.P.,Dyah Susanti,S.P.,M.P., Akhmad Rizqul Karim,S.P.,M.Sc. dan Agus Riyanto,S.P.,M.Si. juga melaksanakan sosialisasi teknologi bagi masyarakat Kelurahan Akelamo yang sangat antusias penanaman padi gogo aromatik Inpago Unsoed 1.

Jika padi gogo aromatik ini ditanam oleh setiap keluarga yang rata-rata memiliki 2 Ha kebun kelapa, akan mampu menopang tersedianya beras untuk kebutuhan keluarga selama berbulan-bulan, bahkan bisa memperoleh tambahan penghasilan dari hasil penjualan kelebihan beras yang disimpan untuk kebutuhan keluarganya. Setiap bulannya setiap keluarga membeli sekitar 1 – 2 kantong beras dengan harga sampai Rp 400.000, sehingga dalam satu tahun biaya penyediaan beras setiap keluarga mencapai 4,8 juta rupiah.

Jika petani mampu memproduksi sendiri, maka pos tersebut dapat dialokasikan untuk pendidikan anak, kesehatan atau hal yang dapat mendukung usaha lainnya. Pada sosialisasi teknologi yang dilaksanakan oleh Prof. Ir. Totok Agung Dwi Haryanto, M.P, Ph.D. dan Dyah Susanti SP MP pada Jumat (18/8/2017), Lurah Akelamo, Sulaeman menyebutkan bahwa pembersihan lahan dan pelaksanaan penanaman padi gogo aromatik akan dilakukan dengan tradisi bapari, yaitu tradisi bergotong royong secara bergiliran dalam mengerjakan segala sesuatu termasuk pembukaan lahan dan penanaman yang telah berkembang di masyarakat Kelurahan Akelamo. Pelestarian sagu dan seho (enau) yang merupakan tanaman lokal setempat juga tetap dipertahankan untuk menjaga keseimbangan ekologi.

Selanjutnya, Dyah Susanti (Sekretaris Pusat Penelitian Tanaman Padi dan Kedelai LPPM UNSOED) menyatakan bahwa Difusi teknologi yang selaras dengan kearifan lokal diharapkan mampu membangun perubahan sosial yang berkelanjutan menuju ke arah yang lebih baik. UNSOED terus berkarya nyata membangun ketahanan pangan Indonesia, kali ini melalui pengembangan padi-kelapa terintegrasi di Maluku Utara. Maju terus pantang mundur, tak kenal menyerah.

 

18 Agustus 2017

Ir. Alief Einstein, M.Hum
Koordinator Sistem Informasi Unsoed

Related posts

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.